
Hajiumrahnews.com — Hari Pendidikan Nasional setiap 2 Mei seharusnya tidak hanya diperingati sebagai seremoni tahunan. Momentum tersebut perlu menjadi ruang refleksi serius mengenai arah pendidikan nasional di tengah perubahan global yang semakin tidak menentu.
Geopolitik dunia bergerak dalam ketidakpastian. Krisis ekologi terus mengancam keberlangsungan hidup manusia. Gelombang kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) bahkan telah memasuki hampir seluruh dimensi kehidupan modern.
Pertanyaan mendasar yang patut diajukan bukan lagi sekadar apa yang harus diajarkan di ruang kuliah. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: peradaban seperti apa yang sedang dibangun melalui pendidikan tinggi hari ini?
Indonesia memang mencatat capaian besar dalam ekspansi pendidikan tinggi. Data UNESCO Institute for Statistics tahun 2023 menunjukkan Indonesia memiliki lebih dari 9 juta mahasiswa yang tersebar di ribuan perguruan tinggi negeri dan swasta. Angka partisipasi pendidikan tinggi juga meningkat signifikan dalam satu dekade terakhir.
Pencapaian kuantitatif tersebut layak diapresiasi. Persoalan besar justru muncul ketika pertumbuhan angka tidak diikuti penguatan kualitas moral dan integritas.
Indeks Persepsi Korupsi yang dirilis Transparency International pada 2024 menempatkan Indonesia pada skor 34 dari 100 dan berada di peringkat ke-115 dunia. Fakta tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan pendidikan belum otomatis melahirkan masyarakat yang berintegritas.
Kasus plagiarisme, ketidakjujuran akademik, hingga krisis etika kampus semakin sering muncul pada era yang justru paling maju secara teknologi.
Fenomena tersebut memperlihatkan adanya jurang antara kecerdasan intelektual dan kedewasaan moral. Pendidikan terlalu lama berfokus pada capaian administratif, gelar akademik, dan kompetisi angka, tetapi kurang memberi perhatian serius pada pembentukan karakter manusia.
Thomas Lickona dalam Educating for Character telah lama menegaskan bahwa sekolah dan perguruan tinggi bukan sekadar tempat transfer ilmu, melainkan ruang pembentukan moral dan karakter.
Kampus seharusnya tidak hanya melahirkan lulusan yang cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki empati sosial, kejujuran, dan tanggung jawab kemanusiaan.
Gelombang AI menghadirkan tantangan baru yang jauh lebih kompleks. UNESCO dalam laporan AI and the Future of Education: Disruptions, Dilemmas and Directions tahun 2025 mengingatkan bahwa AI tidak lagi sekadar alat bantu teknologi.
AI telah mengubah cara manusia memahami pengetahuan, belajar, dan berpikir.
Laporan tersebut juga memperingatkan munculnya fenomena cognitive atrophy, yaitu melemahnya kemampuan berpikir kritis akibat ketergantungan berlebihan pada teknologi AI generatif.
Mahasiswa dapat dengan mudah menghasilkan tulisan, analisis, hingga jawaban instan melalui mesin. Kapasitas refleksi mendalam, ketekunan membaca, dan daya analisis perlahan berisiko melemah.
Kondisi tersebut menjadi ancaman serius apabila perguruan tinggi gagal membangun tata kelola teknologi yang sehat dan etis.
Perguruan tinggi tidak boleh membiarkan mahasiswa tumbuh menjadi generasi yang mahir berinteraksi dengan mesin, tetapi kehilangan kepekaan terhadap nilai kemanusiaan.
Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab jauh lebih besar daripada sekadar mencetak tenaga kerja. Kampus merupakan ruang pembentukan arah peradaban bangsa.
Martha Nussbaum dalam Not for Profit: Why Democracy Needs the Humanities mengingatkan bahwa pendidikan yang semata berorientasi ekonomi hanya akan menghasilkan manusia teknis yang miskin empati dan imajinasi demokratis.
Tradisi intelektual Islam juga menempatkan ilmu sebagai jalan menuju peradaban yang berkeadaban. Ibn Khaldun memandang ilmu bukan sekadar alat ekonomi atau kekuasaan, melainkan instrumen membangun tamadun.
Paradigma integrasi-interkoneksi yang dikembangkan Amin Abdullah menegaskan pentingnya menyatukan sains, etika, iman, dan kemanusiaan dalam sistem pendidikan tinggi.
Perguruan tinggi Islam di Indonesia memiliki peluang besar menjadi laboratorium peradaban yang mempertemukan kedalaman spiritual dan ketajaman intelektual.
Indonesia memiliki cita-cita besar menuju Indonesia Emas 2045. Ambisi tersebut tidak cukup diwujudkan hanya melalui pertumbuhan ekonomi dan kemajuan teknologi.
Indonesia membutuhkan manusia yang matang secara moral, kuat secara spiritual, dan adaptif terhadap perubahan zaman.
Kurikulum perguruan tinggi perlu diarahkan kembali pada pembentukan karakter dan kebijaksanaan. Setiap disiplin ilmu harus memiliki fondasi etika yang kuat.
Tata kelola AI di kampus juga harus dibangun secara serius agar teknologi tetap menjadi alat yang memperkuat manusia, bukan menggantikan nilai-nilai kemanusiaan.
Perguruan tinggi juga perlu kembali menjadi ruang dialog peradaban. Akal sehat, nilai agama, sains, budaya, dan kemanusiaan harus dipertemukan dalam tradisi akademik yang sehat.
Hari Pendidikan Nasional 2026 hadir di tengah krisis global yang tidak hanya bersifat ekonomi dan teknologi, tetapi juga krisis moral dan peradaban.
Perguruan tinggi Indonesia dipanggil untuk menjadi lebih dari sekadar mesin produksi tenaga kerja. Kampus harus menjadi ruang lahirnya manusia yang berilmu, berakhlak, dan memiliki tanggung jawab sosial.
Ukuran kemajuan bangsa pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh pertumbuhan ekonomi atau peringkat universitas dunia. Kualitas manusia yang dihasilkan pendidikan jauh lebih menentukan masa depan sebuah peradaban.
Nilai-nilai tersebut merupakan warisan besar Ki Hajar Dewantara yang hingga hari ini masih relevan untuk terus diperjuangkan.
Oleh: Prof. Dr. Euis Amalia, M.Ag
(Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta/ Alumni Lemhannas P3N 2025)