Survei: Masyarakat Muslim Indonesia Salurkan Rp343 Triliun untuk Ziswaf
Hajiumrahnews.com — Nilai zakat, infak, sedekah, dan wakaf atau Ziswaf yang dikeluarkan masyarakat muslim Indonesia dewasa diperkirakan mencapai Rp343,08 triliun dalam setahun terakhir.
Angka tersebut merujuk pada hasil survei Indikator Politik yang digelar pada 20 Januari hingga 5 Februari 2026. Survei tersebut menghitung perilaku Ziswaf masyarakat muslim Indonesia berusia 18 tahun ke atas.
Infak dan sedekah menjadi jenis Ziswaf dengan nilai paling besar. Total estimasinya mencapai Rp221,73 triliun dalam setahun terakhir.
Infak dan Sedekah Paling Banyak Dilakukan
Hasil survei menunjukkan infak dan sedekah menjadi bentuk Ziswaf yang paling banyak dilakukan masyarakat.
Sebanyak 74,8 persen responden mengaku memberikan infak atau sedekah dalam satu bulan terakhir. Mayoritas penyaluran masih dilakukan secara langsung atau offline.
Kondisi tersebut menunjukkan budaya berbagi masyarakat muslim Indonesia masih sangat kuat dan banyak bertumpu pada relasi sosial langsung, seperti masjid, lingkungan tempat tinggal, keluarga, serta kegiatan keagamaan.
Qurban dan Wakaf Masuk Kontributor Besar
Jenis Ziswaf dengan kontribusi terbesar kedua adalah qurban. Nilai estimasi qurban masyarakat muslim Indonesia dalam setahun terakhir mencapai Rp52,32 triliun.
Wakaf menempati posisi berikutnya dengan nilai estimasi Rp33,58 triliun. Angka tersebut menunjukkan wakaf memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan sebagai instrumen pemberdayaan sosial dan ekonomi umat.
Zakat maal berada pada posisi selanjutnya dengan nilai Rp27,04 triliun. Zakat fitrah menempati posisi kelima dengan nilai Rp8,42 triliun.
Secara keseluruhan, data tersebut memperlihatkan bahwa Ziswaf menjadi salah satu kekuatan ekonomi sosial keagamaan yang sangat besar di Indonesia.
Waktu Menerima Penghasilan Jadi Momen Utama

Survei juga mencatat waktu yang paling banyak digunakan masyarakat untuk berinfak atau bersedekah adalah saat menerima penghasilan.
Sebanyak 60,5 persen responden menyatakan mereka berinfak atau bersedekah ketika mendapatkan penghasilan.
Hari Jumat juga menjadi momen penting untuk berbagi. Sebanyak 38,3 persen responden memilih hari Jumat sebagai waktu berinfak atau bersedekah.
Tradisi keagamaan yang kuat menjadikan hari Jumat identik dengan peningkatan aktivitas sedekah, baik di masjid, majelis taklim, lembaga sosial, maupun lingkungan masyarakat.
Kondisi Sosial Dorong Masyarakat Berbagi
Kepedulian sosial juga menjadi pemicu penting dalam perilaku Ziswaf masyarakat.
Sebanyak 23,8 persen responden menyatakan mereka terdorong memberi ketika ada seseorang yang meminta bantuan. Sebanyak 22,7 persen responden mengaku terdorong berbagi ketika mengetahui ada pihak yang membutuhkan.
Momen keluarga juga menjadi pemicu aktivitas sedekah. Sebanyak 22,1 persen responden menyatakan acara keluarga menjadi waktu untuk berbagi, sedangkan 19,5 persen responden memilih hari besar Islam sebagai momen bersedekah.
Aktivitas mengunjungi keluarga turut mendorong sedekah dengan porsi 15,8 persen responden. Alasan yang lebih personal, seperti memiliki keinginan tertentu, dipilih 9,8 persen responden. Ziarah menjadi momen sedekah bagi 8,1 persen responden.
Potensi Besar Ekonomi Umat
Besarnya nilai Ziswaf menunjukkan potensi filantropi Islam di Indonesia masih sangat besar.
Infak dan sedekah yang mendominasi menunjukkan bahwa masyarakat memiliki kebiasaan berbagi yang kuat, meski pola penyalurannya masih banyak dilakukan secara langsung.
Penguatan literasi, digitalisasi layanan, transparansi lembaga, serta pengelolaan program yang produktif dapat membuat potensi Ziswaf semakin berdampak luas.
Ziswaf tidak hanya menjadi instrumen ibadah, tetapi juga dapat menjadi kekuatan penting untuk mendukung pemberdayaan ekonomi, pendidikan, kesehatan, pengentasan kemiskinan, dan penguatan kesejahteraan masyarakat.