Kisah Saifuddin, Imam Tunanetra Asal Sinjai yang Namanya Diabadikan Jadi Masjid di Arab Saudi
Hajiumrahnews.com — Air mata haru mewarnai kepulangan ratusan jemaah haji di Asrama Haji Sudiang, Makassar, Minggu (14/6/2026) pagi.
Keluarga yang telah lama menanti menyambut para jemaah yang baru tiba dari Tanah Suci. Pelukan, tangis, dan senyum bahagia terlihat di berbagai sudut asrama haji.
Seorang pria berusia 58 tahun berjalan perlahan di antara kerumunan. Tangannya dibimbing petugas haji. Wajahnya tenang. Senyumnya terus mengembang.
Pria itu bernama Saifuddin HM Abd Muin Saideng. Jemaah haji asal Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, tersebut mendapat sambutan yang tak biasa setibanya di Makassar.
Menteri Haji dan Umrah Republik Indonesia, Mochamad Irfan Yusuf, menyambut langsung kepulangan Saifuddin.
Penghormatan itu bukan tanpa alasan. Saifuddin sebelumnya mendapat kabar yang tak pernah ia bayangkan saat masih berada di Arab Saudi. Namanya diabadikan menjadi nama salah satu masjid di negeri tersebut.
“Alhamdulillah, sangat senang. Sangat senang sekali. Saya tidak sangka,” kata Saifuddin dengan suara pelan di Asrama Haji Sudiang.
Imam Masjid dengan Honor Rp200 Ribu
Saifuddin bukan tokoh terkenal. Ia juga bukan orang kaya.
Kesehariannya dijalani sebagai imam masjid di kampung halaman. Honor yang diterima setiap bulan sekitar Rp200 ribu.
Saifuddin juga berjualan bahan campuran untuk memenuhi kebutuhan hidup. Penghasilan sederhana itu ia sisihkan sedikit demi sedikit demi satu cita-cita besar, yakni menunaikan ibadah haji.
Perjuangan tersebut berlangsung sangat panjang. Saifuddin menabung lebih dari 20 tahun agar bisa berangkat ke Tanah Suci.
“20 tahun lebih menabung dan Alhamdulillah terkumpul,” ujarnya.
Setiap rupiah yang disisihkan menjadi bagian dari mimpi yang dirawat dengan sabar. Saifuddin akhirnya mendaftarkan diri sebagai calon jemaah haji pada 2014.
Nama Saifuddin baru dipanggil untuk berangkat pada 2026. Penantian panjang itu akhirnya membawanya ke Makkah, kota suci yang selama bertahun-tahun hanya ia bayangkan dalam doa.
Kehilangan Penglihatan sejak Remaja
Perjalanan Saifuddin menuju Tanah Suci tidak hanya panjang secara waktu. Hidupnya juga ditempa ujian besar sejak usia remaja.
Gangguan penglihatan mulai ia rasakan saat masih duduk di bangku SMP. Rasa sakit pada mata muncul tiba-tiba dan sangat kuat.
“Awalnya sakit sekali. Seperti tertusuk jarum,” kenangnya.
Kedua matanya kemudian membengkak. Penglihatannya perlahan memudar hingga akhirnya hilang sepenuhnya.
Saifuddin sempat berobat ke dokter mata di Makassar pada 1985. Harapan untuk kembali melihat belum terwujud.
Sejak saat itu, Saifuddin menjalani hidup sebagai penyandang tunanetra.
Keterbatasan penglihatan tidak membuatnya berhenti bekerja dan mengabdi. Ia tetap menjadi imam masjid. Ia tetap menjalani aktivitas sehari-hari. Ia juga masih memimpin salat di masjid kampungnya.
Semua ia lakukan dengan mengandalkan ingatan yang tersimpan sejak masa kecil.
“Saya hafal jalan ke masjid, waktu masih bisa melihat dulu,” ujarnya.
Doa yang Dijawab Berbeda
Saifuddin menyimpan satu doa pribadi selama berada di Tanah Suci. Ia berharap Allah SWT memberinya kesempatan untuk bisa melihat kembali.
Harapan itu ia panjatkan dalam rangkaian ibadah haji.
Jawaban yang datang ternyata berbeda. Penglihatannya tidak kembali. Allah SWT justru menghadirkan hadiah lain yang tidak pernah ia minta.
“Saya sebenarnya berdoa supaya bisa melihat, tapi ternyata tidak. Tuhan kasih rezeki ke sana,” katanya.
Rezeki yang dimaksud Saifuddin adalah penghormatan berupa pengabadian namanya menjadi nama salah satu masjid di Arab Saudi.
Saifuddin tidak terdengar kecewa. Wajahnya justru memancarkan rasa syukur.
Ia merasa Allah SWT mungkin tidak mengembalikan penglihatannya, tetapi memberinya sesuatu yang bahkan tak pernah terlintas dalam pikirannya.
Tetap Mandiri Selama Berhaji
Keluarga mendampingi Saifuddin selama menjalankan ibadah haji. Petugas haji juga memberikan perhatian khusus karena kondisinya sebagai jemaah tunanetra.
Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah Kabupaten Sinjai, Kamriati Anis, mengatakan pihaknya meminta ketua kloter memberikan pendampingan lebih kepada Saifuddin selama berada di Arab Saudi.
Saifuddin tetap berusaha mandiri. Ia tidak menggunakan kursi roda ataupun alat bantu khusus.
“Masih kuat jalan,” katanya sambil tersenyum.
Ribuan jemaah haji pulang membawa cerita masing-masing dari Tanah Suci. Kisah Saifuddin menjadi salah satu cerita yang menyentuh karena memperlihatkan ketekunan, kesabaran, dan kekuatan iman.
Ia kehilangan penglihatan sejak remaja, tetapi tidak kehilangan arah hidup.
Ia hanya seorang imam masjid dengan honor sederhana, tetapi mampu menabung lebih dari dua dekade demi memenuhi panggilan Allah SWT.
Ia berangkat ke Tanah Suci dengan doa agar bisa melihat, lalu pulang membawa hadiah yang tak pernah ia bayangkan.
Pulang untuk Kembali Mengabdi
Saifuddin akan kembali ke Sinjai setelah tiba di Makassar.
Ia akan kembali ke masjid yang setiap hari ia datangi dengan mengandalkan hafalan. Ia juga akan kembali memimpin salat seperti biasa.
“Saya akan pulang ke Sinjai dan tetap jadi imam masjid,” ujarnya.
Saifuddin memang tidak bisa melihat jalan yang terbentang di hadapannya. Hidupnya memperlihatkan bahwa arah tidak selalu ditentukan oleh mata.
Jauh sebelum namanya diabadikan di Arab Saudi, Saifuddin telah menemukan tujuan hidupnya sendiri: mengabdi, bersabar, dan menjaga panggilan ibadah dengan sepenuh hati.