Saya Kira Teori, Ternyata Nyata: Pengalaman Magang Bertemu Hasan Gaido

Hajiumrahnews.com — Nama saya Muhammad Rani, mahasiswa Ekonomi Syariah UIN Palangka Raya. Saat menjalani masa magang di Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI), saya mendapat kesempatan yang awalnya saya anggap sebagai bagian biasa dari tugas riset.

Namun, pertemuan itu justru mengubah cara pandang saya.

Topik yang saya teliti adalah institutionalisasi ekosistem halal. Awalnya, saya melihatnya sebagai konsep akademik yang penuh teori. Banyak istilah, banyak model, tetapi terasa jauh dari praktik nyata.

Kesempatan bertemu Hasan Gaido menjadi titik balik.

Pertemuan berlangsung sederhana. Tidak ada suasana formal yang kaku. Saya datang membawa daftar pertanyaan, berharap mendapatkan jawaban untuk melengkapi penelitian saya.

Namun, yang saya dapat justru lebih dari itu.

Percakapan mengalir, bahkan terasa seperti diskusi santai. Hasan Gaido menjelaskan banyak hal dengan cara yang mudah dipahami. Tidak berbelit, tetapi langsung menyentuh inti persoalan.

“Sertifikasi halal itu sebenarnya untuk memberikan jaminan kepada masyarakat agar bisa mengonsumsi yang halal, from farm to plate.”

Kalimat itu terus terngiang di kepala saya.

Selama ini, saya memahami halal sebatas konsep dan regulasi. Namun, dari penjelasan tersebut, saya mulai melihat halal sebagai sebuah sistem besar. Bukan hanya label, tetapi proses panjang yang harus dijaga dari awal hingga akhir.

Di titik itu, saya mulai merasa bahwa apa yang saya pelajari di kampus mulai menemukan bentuknya.

Diskusi kemudian berkembang. Kami membahas tantangan di lapangan, bagaimana ekosistem halal dibangun, serta dinamika yang tidak selalu ideal seperti dalam teori.

Saya mulai menyadari satu hal.

Ekonomi syariah bukan hanya soal konsep normatif. Ada kerja nyata di dalamnya. Ada proses panjang yang melibatkan banyak pihak.

Hasan Gaido menekankan pentingnya kolaborasi.

“Saya yakin bahwa sinergi dari ABG itu sangat penting. Akademisi, business, government harus sejalan.”

Sebagai mahasiswa yang sedang magang di IAEI, saya merasa pernyataan itu sangat relevan. Dunia akademik tidak bisa berjalan sendiri. Perlu keterhubungan dengan dunia usaha dan dukungan dari pemerintah.

Pembahasan yang paling menarik bagi saya adalah ketika beliau menyinggung posisi Indonesia dalam ekosistem halal global.

“Indonesia ini sangat berpotensi untuk menjadi nomor satu ekosistem halal di dunia. Jangan berbangga kalau masih di nomor tiga.”

Kalimat itu terasa seperti tamparan sekaligus motivasi.

Selama ini, saya sering mendengar bahwa Indonesia adalah negara dengan populasi Muslim terbesar. Namun, dari sudut pandang beliau, potensi itu belum sepenuhnya dimanfaatkan.

Saya mulai berpikir ulang.

Apakah selama ini kita terlalu cepat puas?

Pengalaman ini membuat saya melihat bahwa penguatan ekosistem halal tidak hanya bergantung pada kebijakan atau bisnis. Literasi masyarakat juga memiliki peran besar.

Apa yang saya pelajari di kampus ternyata hanya satu bagian dari gambaran besar.

Magang di IAEI memberi saya kesempatan untuk melihat bagaimana teori dan praktik saling bertemu. Diskusi dengan praktisi seperti Hasan Gaido membuat pemahaman saya menjadi lebih utuh.

Ada hal lain yang juga membekas.

Kesediaan beliau meluangkan waktu di tengah kesibukannya memberikan kesan mendalam bagi saya. Bukan hanya sebagai narasumber, tetapi sebagai seseorang yang benar-benar ingin berbagi pengalaman.

Dari pertemuan itu, saya menyadari bahwa belajar tidak selalu harus di ruang kelas.

Kadang, pemahaman justru datang dari percakapan sederhana.

Pengalaman ini mungkin hanya satu bagian kecil dari perjalanan saya sebagai mahasiswa. Namun, bagi saya, ini menjadi titik penting.

Saya tidak lagi melihat ekonomi syariah sebagai sekadar bidang studi.

Saya mulai melihatnya sebagai ruang kontribusi.

Dan dari pengalaman ini, saya menarik satu kesimpulan sederhana:

Teori memang penting.

Namun, makna sebenarnya baru terasa ketika teori itu bertemu dengan realitas.