Minggu, 07 Juni 2026 21 Dzulhijjah 1447 H 16.32 WIB Makkah 42°C
SYARIAH

Tokoh Ekonomi Islam Dunia Soroti Keberhasilan Model Wakaf Arab Saudi

NJ Oleh Neo Jurnalis 7 Juni 2026 3 menit baca

Hajiumrahnews.com — Pengelolaan wakaf modern yang diterapkan Arab Saudi dinilai dapat menjadi salah satu model terbaik dalam mendorong pembangunan berkelanjutan dan penguatan ekonomi umat. Penilaian tersebut disampaikan Ketua Federasi Kamar Dagang Arab Saudi sekaligus Presiden Kamar Islam untuk Perdagangan dan Pembangunan, Abdullah Saleh Kamel.

Pernyataan itu disampaikan saat membuka Global Islamic Economy Summit ke-3 di Istanbul, Turki, yang mengangkat tema Capital in the Islamic Economy: Structuring Wealth for Sustainable Development.

Abdullah Kamel menegaskan bahwa wakaf merupakan instrumen penting dalam ekonomi Islam yang mampu menciptakan kekayaan berkelanjutan sekaligus memberikan manfaat sosial yang luas.

“Negara-negara yang berhasil memperkuat institusi wakaf melalui regulasi dan tata kelola yang baik, terutama Arab Saudi, Turki, dan Malaysia, telah menghadirkan model yang layak dijadikan rujukan,” ujarnya.

Wakaf Menjadi Fondasi Peradaban Islam

Menurut Abdullah Kamel, sejarah peradaban Islam tidak dapat dipisahkan dari peran wakaf. Berbagai lembaga pendidikan, rumah sakit, pelayanan sosial, hingga infrastruktur publik pada masa kejayaan Islam tumbuh dan berkembang melalui dukungan dana wakaf.

Ia bahkan menyebut peradaban Islam sebagai civilization of waqf atau peradaban yang dibangun melalui kekuatan wakaf.

“Wakaf memiliki kemampuan untuk menggerakkan modal dan mengarahkannya pada investasi yang memberikan dampak sosial serta pembangunan jangka panjang,” katanya.

Kritik terhadap Sistem Ekonomi Global

Dalam pidatonya, Abdullah Kamel juga menyoroti berbagai tantangan ekonomi global saat ini, termasuk meningkatnya kesenjangan kekayaan dan dominasi perusahaan-perusahaan raksasa multinasional.

Menurutnya, banyak sistem ekonomi modern memandang modal semata-mata sebagai alat untuk memperoleh keuntungan pribadi tanpa memperhatikan dampak sosial, lingkungan, dan kemanusiaan.

Ia mengingatkan bahwa konsentrasi kekayaan pada kelompok tertentu berpotensi memperlebar ketimpangan sosial di berbagai negara.

Tiga Prinsip Utama Ekonomi Islam

Abdullah Kamel menjelaskan bahwa ekonomi Islam memiliki prinsip yang berbeda dalam memandang modal dan kekayaan.

Pertama, modal harus mampu menciptakan dan mendistribusikan kesejahteraan. Kedua, uang tidak boleh diperlakukan sebagai komoditas yang diperdagangkan untuk dirinya sendiri. Ketiga, kekayaan harus diarahkan untuk pembangunan melalui instrumen seperti zakat, infak, sedekah, dan wakaf, bukan ditimbun tanpa manfaat sosial.

“Kerangka ini menghadirkan bentuk modal sosial yang murni yang mampu mendorong keadilan ekonomi dan pembangunan berkelanjutan,” jelasnya.

Peluang bagi Indonesia

Pandangan Abdullah Kamel dinilai relevan bagi Indonesia yang memiliki potensi besar dalam pengembangan ekonomi syariah dan wakaf produktif.

Data berbagai lembaga ekonomi Islam menunjukkan nilai aset wakaf di dunia mencapai ratusan miliar dolar AS. Apabila dikelola secara profesional dan produktif, wakaf berpotensi menjadi sumber pembiayaan pendidikan, kesehatan, pemberdayaan UMKM, pembangunan sosial, hingga investasi strategis jangka panjang.

Model pengelolaan wakaf yang berkembang di Arab Saudi menjadi salah satu contoh bagaimana instrumen filantropi Islam dapat diintegrasikan dengan pembangunan ekonomi modern tanpa meninggalkan nilai-nilai syariah.

Abdullah Kamel menegaskan bahwa ekonomi Islam bukan hanya ditujukan untuk memberikan manfaat bagi umat Islam, tetapi juga bagi seluruh umat manusia.

Ia berharap forum ekonomi Islam global tersebut dapat menghasilkan gagasan dan kebijakan yang mampu membangun sistem ekonomi yang tidak hanya berkelanjutan secara finansial, tetapi juga menghadirkan dampak sosial yang nyata bagi masyarakat dunia.

Tag SYARIAH
Join WA Channel