Menhaj Resmi Buka International Islamic Expo 2026, Ekosistem Haji dan Umrah Beri Manfaat Ekonomi Lebih Luas
Hajiumrahnews.com — Menteri Haji dan Umrah RI, Mochamad Irfan Yusuf, membuka secara resmi The 16th International Islamic Expo (IIE) 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta, Jumat (26/6/2026).
Ajang tahun ini mengangkat tema Islamic Tourism Exchange dan menargetkan nilai transaksi mencapai Rp115 miliar. Pameran tersebut menjadi ruang pertemuan pelaku industri haji, umrah, wisata Muslim, keuangan syariah, perhotelan, penerbangan, transportasi, hingga ekosistem halal dari dalam dan luar negeri.
Menhaj hadir didampingi Direktur Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah, Jaenal Effendi, serta Direktur Jenderal Bina Penyelenggaraan Haji dan Umrah, Puji Raharjo.
Kehadiran dua direktur jenderal tersebut menunjukkan perhatian serius Kementerian Haji dan Umrah RI terhadap penguatan ekosistem haji dan umrah nasional.
“Kami datang didampingi dua dirjen. Artinya, ini serius. Saya ingin memastikan acara ini harus sesuai dengan harapan kita,” ujar Menhaj dalam sambutannya.
Sejumlah pejabat dan pemangku kepentingan turut hadir dalam pembukaan tersebut, antara lain Kepala Badan Pelaksana BPKH RI Fadlul Imansyah, Head of the Tourism Industry Department of Tourism and Creative Economy Provincial Government of DKI Jakarta Iffan, serta SVP Islamic Ecosystem Bank Syariah Indonesia (BSI) Rima Dwi Permatasari dan Project Director IIE 2026, Mutia Andriastuti.
Haji dan Umrah Didorong Memberi Manfaat Ekonomi
Menhaj mengatakan pembentukan Direktorat Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah menjadi bagian dari upaya pemerintah memaksimalkan manfaat ekonomi dari penyelenggaraan haji dan umrah.
Pemerintah ingin aktivitas haji dan umrah tidak hanya berhenti pada pelayanan ibadah, tetapi juga menghadirkan nilai tambah bagi masyarakat, pelaku usaha, dan perekonomian nasional.
“Pemerintah membentuk Dirjen Pengembangan Ekosistem Haji dan Umrah untuk memaksimalkan penerimaan ekonomi terkait haji dan umrah. Kita juga ingin umrah dan haji bisa memberi manfaat lebih bagi masyarakat,” ujar Menhaj.
Menhaj menilai IIE 2026 dapat menjadi sarana memperkenalkan perusahaan Indonesia kepada masyarakat yang ingin berangkat haji dan umrah. Ajang tersebut juga dapat membuka ruang kerja sama antara Indonesia, Arab Saudi, dan negara-negara lain dalam pengembangan wisata Muslim dan industri halal.
“Kita ingin mengenalkan perusahaan-perusahaan kita untuk masayarakat yang mau berumrah dan berhaji. Namun, tidak hanya itu, kita juga bisa mengajak masyarakat Saudi ke Indonesia melalui konsep pertukaran atau exchange, sebagaimana tema yang diangkat tahun ini,” katanya.
Pesawat dari Saudi Diharapkan Bawa Turis ke Indonesia
Menhaj juga menyoroti peluang besar sektor pariwisata Indonesia dari pergerakan penerbangan haji dan umrah. Peluang tersebut telah dibahas dalam rapat bersama tiga kementerian, yakni Kementerian Haji dan Umrah, Kementerian Pariwisata, serta Kementerian Perhubungan.
Rapat tersebut membahas strategi agar pesawat yang kembali dari Arab Saudi tidak terbang kosong, tetapi dapat membawa wisatawan Saudi untuk berkunjung ke Indonesia.
“Kemarin kami rapat tiga kementerian, yaitu Kementerian Pariwisata, Kementerian Haji dan Umrah, serta Kementerian Perhubungan. Kami memikirkan bagaimana pesawat kosong dari Saudi bisa membawa turis Saudi untuk berwisata di Indonesia,” ujar Menhaj.
Menhaj menyebut banyak warga Saudi melakukan perjalanan wisata ke luar negeri selama musim haji. Destinasi Eropa dan Asia Tenggara selama ini banyak menjadi pilihan, sedangkan kunjungan wisatawan Saudi ke Indonesia masih perlu ditingkatkan.
“Selama musim haji, banyak warga Saudi keluar untuk wisata ke Eropa dan Asia Tenggara, tetapi ke Indonesia masih kecil. Saya berharap event ini bisa menstimulus hal tersebut dan memperkenalkan Indonesia,” katanya.
Bidik Transaksi Rp115 Miliar
International Islamic Expo 2026 berlangsung pada 26–28 Juni 2026. Pameran ini mempertemukan pelaku industri haji, umrah, pariwisata halal, keuangan syariah, maskapai penerbangan, hotel, penyedia visa, transportasi, asuransi perjalanan, katering, hingga destinasi wisata Muslim.
Penyelenggara menargetkan sekitar 25.000 pengunjung dengan partisipasi 119 exhibitor. Sebagian peserta pameran berasal dari luar negeri, sehingga ajang ini diharapkan menjadi ruang promosi, transaksi, dan kerja sama bisnis lintas negara.
Nilai transaksi tahun ini ditargetkan mencapai Rp115 miliar, meningkat dibandingkan realisasi tahun sebelumnya sebesar Rp103 miliar. Target tersebut mencerminkan optimisme terhadap pertumbuhan wisata Muslim, layanan haji dan umrah, serta industri halal.
Tahun Pertama Kemenhaj, Respons Masyarakat Dinilai Baik
Menhaj juga menyampaikan bahwa musim haji tahun ini menjadi tahun pertama Kementerian Haji dan Umrah menjalankan peran kelembagaan. Ia berharap respons positif masyarakat dapat menjadi modal untuk memperbaiki pelayanan haji dan umrah pada masa mendatang.
“Pada 1 Juli 2026 ini, jemaah haji terakhir akan kembali ke Tanah Air. Ini tahun pertama Kemenhaj. Sambutan masyarakat baik, semoga ke depan lebih baik lagi,” ujarnya.
Perlindungan Jemaah Tetap Jadi Perhatian
Menhaj turut menyinggung kasus biro perjalanan yang gagal memberangkatkan jemaah dan menimbulkan kerugian besar. Ia berharap kasus serupa tidak kembali terulang seiring hadirnya Kementerian Haji dan Umrah.
Irfan menyebut kasus-kasus tersebut menjadi pelajaran penting bagi pemerintah dan pelaku industri agar perlindungan jemaah semakin diperkuat.
“Banyak travel agent yang gagal memberangkatkan jemaah dan merugikan puluhan miliar. Beberapa tahun lalu ada kasus First Travel, tahun ini Hanania Travel. Kehadiran Kemenhaj semoga dapat memperbaiki hal ini agar hal ini tidak pernah terjadi lagi.” ujarnya.
Momentum Penguatan Ekosistem Halal
International Islamic Expo 2026 diharapkan menjadi momentum memperkuat kolaborasi pemerintah, pelaku usaha, lembaga keuangan syariah, dan mitra internasional dalam membangun ekosistem haji, umrah, wisata Muslim, dan industri halal.
Kehadiran Kementerian Haji dan Umrah RI, Kementerian Pariwisata, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH), Bank Syariah Indonesia (BSI), para sponsor, penyelenggara pameran, delegasi dari dalam dan luar negeri, serta berbagai pelaku industri menjadi sinyal bahwa ekosistem haji dan umrah semakin diarahkan untuk memberi manfaat ekonomi yang lebih luas.
IIE 2026 juga menjadi bagian dari upaya memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pusat ekonomi syariah dunia melalui pengembangan haji, umrah, wisata halal, perdagangan, investasi, dan kolaborasi internasional.