Kebun Kurma Abdurrahman bin Auf, Destinasi Ziarah dan Wisata Religi di Madinah
Hajiumrahnews.com — Kota Suci Madinah tidak hanya menyimpan pesona spiritual melalui Masjid Nabawi. Kota ini juga memiliki sejumlah situs sejarah Islam yang menarik untuk dikunjungi jemaah haji dan umrah.
Salah satu destinasi yang kini menjadi daya tarik bagi jemaah adalah Kebun Kurma Abdurrahman bin Auf.
Perkebunan ini bukan sekadar lahan hijau di tengah kawasan Madinah. Kebun tersebut juga menyimpan jejak sejarah, cerita kedermawanan, dan ingatan tentang salah satu sahabat Rasulullah SAW yang dikenal sebagai saudagar sukses sekaligus dermawan.
Pengunjung yang datang ke kebun kurma ini dapat merasakan suasana masa lalu melalui bangunan heritage, tembok tua, jalur air tradisional, dan area perkebunan yang masih dipertahankan.
Bangunan bersejarah peninggalan era Turki Utsmani atau Ottoman juga masih berdiri di kawasan tersebut. Area itu disebut menjadi salah satu bagian penting dari cerita panjang perawatan kebun kurma dari generasi ke generasi.
Jalur Air Tradisional dan Sumur Tua
Salah satu daya tarik utama Kebun Kurma Abdurrahman bin Auf adalah sistem pengairan tradisional yang masih dipertahankan.
Jalur aliran air kuno di kawasan tersebut disebut pernah digunakan untuk mengairi perkebunan kurma. Pengelola mempertahankan alur air lama agar pengunjung dapat melihat langsung jejak manajemen pengairan masa lalu.
“Tembok dan jalur air masa lalu itu masih kami pertahankan, selain juga jalur air baru yang kami buat untuk mengaliri kebun kurma ini,” kata pemilik Kebun Kurma Abdurrahman bin Auf, Hasan Alkiwi, saat ditemui di lokasi, Kamis (18/6/2026).
Kebun tersebut juga memiliki Sumur Abdurrahman bin Auf yang menjadi salah satu magnet utama bagi peziarah.
Informasi dari pengelola menyebut sumur tua itu telah berusia sekitar 1.400 tahun dan hingga kini masih mengeluarkan air. Sumur tersebut memiliki kedalaman sekitar 60 meter dan airnya masih digunakan untuk mengairi area perkebunan.
Cerita setempat juga menyebut sumur tersebut memiliki keterkaitan dengan kisah Abdurrahman bin Auf dan tradisi kedermawanan yang melekat pada sosok sahabat Nabi itu.
“Kualitas airnya pun bagus dan bisa langsung diminum, masih terjaga sangat baik sampai dengan saat ini,” ujar Hasan.

Rumah Bagi Ratusan Pohon Kurma
Hasan Alkiwi, yang akrab disapa Abu Umar, menjelaskan perkebunan ini mengelola ratusan pohon kurma yang masih produktif.
Saat ini terdapat lebih dari 550 pohon kurma yang telah memasuki masa berbuah. Usia pohon diperkirakan berkisar antara 20 hingga 30 tahun.
Kebun Abdurrahman bin Auf juga menjadi rumah bagi sekitar 350 pohon Kurma Ajwa. Varian ini dikenal luas sebagai salah satu kurma favorit jemaah karena kerap disebut sebagai Kurma Nabi.
Kurma Ajwa yang tumbuh di kawasan ini disebut memiliki kualitas Ajwa Aliyah. Jemaah yang berkunjung dapat menikmati kurma Ajwa segar yang dipetik langsung dari pohonnya.
Varian kurma lain juga tumbuh di kebun tersebut, antara lain Kurma Rabiah, Kurma Safawi, Kurma Ambar, dan Kurma Sukari.
Perkebunan ini juga memberdayakan sekitar 30 pekerja asal Indonesia yang ikut merawat dan memelihara pohon-pohon kurma.
Wisata Religi dan Edukasi Ekonomi Islam
Kunjungan ke Kebun Kurma Abdurrahman bin Auf memberikan pengalaman wisata religi yang berbeda bagi jemaah haji dan umrah.
Jemaah tidak hanya dapat membeli kurma langsung dari sumbernya. Pengunjung juga dapat bersantai menikmati suasana kebun, melihat bangunan peninggalan Ottoman, berfoto di area heritage, dan mempelajari jejak ekonomi Islam melalui sistem pengairan kuno.
Pengelola membuka kebun kurma ini untuk jemaah Indonesia maupun pengunjung dari berbagai negara.
Fasilitas yang tersedia juga dibuat ramah bagi jemaah Indonesia, termasuk kebutuhan makanan dan oleh-oleh yang sesuai dengan selera Nusantara.
Lokasi kebun berada di daerah Hijam Alwali, Madinah. Akses menuju tempat ini disebut cukup mudah dijangkau oleh jemaah yang sedang berada di Kota Nabi.
Kebun Kurma Abdurrahman bin Auf dapat menjadi salah satu pilihan ziarah tambahan bagi jemaah haji dan umrah yang ingin mengenal lebih dekat sejarah ekonomi Islam, tradisi wakaf, kedermawanan sahabat, serta budaya pertanian kurma di Madinah.
Pengalaman memetik kurma langsung dari pohonnya membuat kunjungan ke tempat ini terasa lebih hidup. Jemaah dapat membawa pulang bukan hanya buah kurma, tetapi juga kisah sejarah dan inspirasi tentang keberkahan usaha dalam peradaban Islam.