Dewan Pers Tegaskan Media Arus Utama Harus Jadi Penangkal Hoaks, Penggunaan AI Wajib Diverifikasi
Hajiumrahnews.com – Dewan Pers menegaskan pentingnya peran media arus utama sebagai pemeriksa fakta di tengah maraknya hoaks, misinformasi, dan disinformasi yang beredar melalui berbagai platform digital.
Hal tersebut disampaikan Ketua Komisi Kemitraan, Hubungan Antar Lembaga, dan Infrastruktur Organisasi Dewan Pers, Rosarita Niken Widiastuti, dalam wawancara doorstop seusai pembukaan Uji Kompetensi Wartawan (UKW) di Hall Dewan Pers, Jakarta Pusat, Rabu, (4/11).
“Tentunya media mainstream ini menjadi fact-checker. Fact-checker itu cek fakta bagi masyarakat,” ujar Niken.
Verifikasi dan Etika Jadi Fondasi Jurnalisme
Menurut Niken, wartawan profesional tidak cukup hanya memiliki keterampilan teknis. Integritas, independensi, dan kepatuhan terhadap Kode Etik Jurnalistik menjadi landasan utama dalam menghasilkan pemberitaan yang akurat dan bertanggung jawab.
Ia menekankan pentingnya verifikasi dari berbagai narasumber agar informasi tidak hanya mewakili satu sudut pandang.
“Tidak hanya dari satu sisi atau mungkin cover both sides itu dua sisi. Tapi penting di sini adalah cover multi-side,” katanya.
Niken juga mengingatkan bahwa proses jurnalistik harus dilakukan tanpa niat buruk atau upaya membingkai fakta secara menyesatkan. Wartawan, menurut dia, berkewajiban mengungkap kebenaran melalui pemeriksaan informasi yang menyeluruh.
Penggunaan AI Harus Melibatkan Manusia
Selain persoalan hoaks, Niken menyoroti penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam proses produksi berita.
Ia menjelaskan bahwa Dewan Pers telah menerbitkan pedoman penggunaan AI dalam karya jurnalistik melalui Peraturan Dewan Pers Nomor 1 Tahun 2025.
“Apabila menggunakan AI, tetap dari awal sampai akhir, itu harus ada keterlibatan manusia,” tegasnya.
Menurut Niken, AI dapat dimanfaatkan untuk membantu riset maupun penyempurnaan tulisan. Namun, seluruh informasi yang dihasilkan tetap harus diperiksa kembali karena tidak selalu akurat.
Tanggung Jawab Jurnalistik Tidak Bisa Dialihkan kepada AI
Niken juga menekankan pentingnya transparansi penggunaan AI, termasuk pemberian keterangan pada gambar atau desain yang dibuat menggunakan teknologi tersebut.
Ia mengingatkan bahwa apabila muncul sengketa atas produk jurnalistik, tanggung jawab tetap berada pada wartawan dan perusahaan pers, bukan pada sistem AI yang digunakan.
Karena itu, pemanfaatan teknologi harus tetap mengedepankan verifikasi, integritas, dan tanggung jawab etis agar kepercayaan publik terhadap media tetap terjaga.