Rabu, 24 Juni 2026 9 Muharam 1448 H 13.17 WIB Makkah 34°C
INSPIRASI

Bukan Sekadar Nostalgia Ottoman, Jalur Kereta Hejaz Jadi Senjata Baru Geopolitik Timur Tengah

NJ Oleh Neo Jurnalis 24 Juni 2026 8 menit baca

Hajiumrahnews.com — Jalur Kereta Api Hejaz yang pernah menjadi simbol kekuatan Ottoman dan penghubung perjalanan haji dari Istanbul menuju Madinah kembali menjadi perhatian dunia. Laporan SindoScope Sindonews yang ditulis Andika Hendra Mustaqim mencatat, proyek tersebut kini muncul dalam bentuk baru sebagai koridor kereta Saudi-Turki yang berpotensi mengubah peta logistik, perdagangan, dan geopolitik Timur Tengah.

Saudi dan Turki telah menandatangani nota kesepahaman untuk membangun koridor kereta darat baru. Proyek tersebut diposisikan sebagai jawaban atas meningkatnya risiko jalur laut, terutama ketika Selat Hormuz, Laut Merah, dan Terusan Suez menghadapi ancaman gangguan akibat eskalasi geopolitik kawasan.

Koridor tersebut dirancang membentang dari Istanbul, melewati Suriah, turun ke Yordania, lalu masuk ke jaringan kereta Arab Saudi melalui perbatasan Haditha. Ambisi jangka panjangnya bahkan dapat diperluas menuju Oman dan Samudra Hindia.

Nilai strategis proyek ini bukan hanya terletak pada transportasi barang. Jalur tersebut dapat memangkas waktu pengiriman kargo dari lebih dari 30 hari melalui laut menjadi kurang dari dua pekan melalui darat. Kondisi ini menjadikan koridor Saudi-Turki sebagai rute cadangan penting ketika jalur maritim terganggu.

Jalur Hejaz dan Memori Ottoman

Jalur Kereta Api Hejaz pertama kali dibangun pada masa Sultan Abdulhamid II dan mulai beroperasi pada 1908. Jalur tersebut menghubungkan Damaskus dengan Madinah, serta menjadi bagian dari jaringan yang lebih luas dari Istanbul menuju wilayah Hijaz.

Fungsi awal jalur ini sangat erat dengan perjalanan haji. Kereta tersebut mempermudah mobilitas jemaah, pejabat, dan barang melintasi wilayah Ottoman yang luas. Perjalanan panjang melalui gurun yang sebelumnya bisa memakan waktu puluhan hari dapat dipangkas menjadi beberapa hari.

Perang Dunia I menghancurkan masa depan jalur ini. Sabotase terhadap rel kereta selama Pemberontakan Arab, termasuk operasi yang kerap dikaitkan dengan T.E. Lawrence atau Lawrence of Arabia, membuat sebagian besar jaringan tidak lagi berfungsi. Pembagian wilayah Timur Tengah pasca-Perang Dunia I kemudian mengubur proyek tersebut dalam fragmentasi politik baru.

Lebih dari satu abad kemudian, jalur yang sama kembali dibicarakan. Perbedaannya, kebangkitan Hejaz Railway versi modern tidak lagi hanya menyangkut perjalanan haji, tetapi juga masa depan perdagangan, konektivitas energi, dan arsitektur kekuatan baru di Timur Tengah.

Saudi dan Turki Cari Rute Baru

Arab Saudi memiliki kepentingan besar dalam proyek tersebut. Visi Saudi 2030 menempatkan kerajaan sebagai pusat logistik global yang menghubungkan Asia, Timur Tengah, Afrika, dan Eropa.

Jalur kereta menuju Turki akan memperkuat posisi Saudi sebagai simpul perdagangan lintas kawasan. Rute ini juga dapat menjadi pilihan cadangan ketika jalur laut strategis menghadapi ancaman, termasuk Selat Hormuz yang selama ini menjadi salah satu nadi utama ekspor energi Teluk.

Turki juga memiliki kepentingan yang tidak kalah besar. Ankara selama bertahun-tahun merasa dirugikan karena sejumlah proyek konektivitas global melewati kawasan Timur Tengah tanpa melibatkan Turki secara signifikan.

Koridor Ekonomi India-Timur Tengah-Eropa atau IMEC yang diumumkan pada 2023 menjadi salah satu contoh paling jelas. Rute tersebut dirancang menghubungkan India, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Yordania, Israel, dan Eropa. Turki tidak masuk dalam desain utama proyek itu.

Situasi berubah setelah perang Gaza, meningkatnya ketegangan Iran-Israel-AS, dan memburuknya keamanan jalur laut. IMEC kehilangan momentum politik. Saudi dan Turki kemudian melihat ruang baru untuk membangun rute alternatif yang lebih realistis dalam kondisi kawasan saat ini.

IMEC Melemah, Koridor Saudi-Turki Menguat

IMEC sempat diproyeksikan sebagai jalur dagang besar yang memperkuat koneksi India, Teluk, Israel, dan Eropa. Proyek tersebut juga dibaca sebagai bagian dari desain geopolitik baru yang menempatkan normalisasi Israel dengan negara-negara Arab sebagai simpul ekonomi kawasan.

Perang Gaza mengubah kalkulasi itu. Serangan Hamas pada Oktober 2023, respons militer Israel, serta eskalasi konflik di kawasan membuat peran Israel dalam koridor perdagangan regional menjadi lebih sensitif secara politik.

Koridor Saudi-Turki muncul pada momentum tersebut. Rute ini tidak melewati Israel dan tidak bergantung pada pelabuhan Haifa. Jalur yang dirancang melalui Turki, Suriah, Yordania, dan Arab Saudi memberikan pilihan konektivitas lain yang secara politik lebih mudah diterima oleh sebagian negara kawasan.

Ankara membaca peluang tersebut sebagai jalan untuk kembali menjadi simpul utama antara Asia dan Eropa. Riyadh membaca proyek ini sebagai opsi diversifikasi logistik di tengah meningkatnya kerentanan jalur laut.

Suriah Jadi Kunci Sekaligus Risiko

Suriah menjadi titik paling penting sekaligus paling rentan dalam proyek ini. Jalur kereta dari Turki menuju Arab Saudi harus melintasi wilayah Suriah, terutama rute Aleppo-Damaskus menuju Yordania.

Runtuhnya rezim lama Suriah dan perubahan kekuasaan di Damaskus membuka peluang baru bagi Ankara untuk memperluas pengaruh ekonomi. Perusahaan Turki mulai bergerak masuk, bank Turki bersiap membuka jaringan, dan target perdagangan bilateral Turki-Suriah disebut dapat meningkat signifikan dalam beberapa tahun mendatang.

Koridor Saudi-Turki akan memperkuat ketergantungan Suriah terhadap Ankara. Setiap arus barang dari Istanbul menuju Arab Saudi akan melewati wilayah yang berada dalam orbit ekonomi Turki.

Risiko besar tetap membayangi. Infrastruktur Suriah hancur akibat perang panjang. Banyak rel, jembatan, stasiun, dan fasilitas logistik membutuhkan rekonstruksi besar. Stabilitas politik Suriah juga belum sepenuhnya teruji.

Kondisi keamanan menjadi faktor penentu. Tanpa stabilitas, koridor yang menjanjikan secara ekonomi dapat berubah menjadi proyek mahal yang sulit dijalankan secara konsisten.

Pelengkap Jalur Laut, Bukan Pengganti Hormuz

Sejumlah analis menilai koridor kereta Saudi-Turki tidak bisa menggantikan jalur laut sepenuhnya. Pengiriman melalui laut tetap jauh lebih murah dan memiliki kapasitas besar untuk minyak, gas alam cair, dan kargo curah.

Jalur darat lebih tepat dipahami sebagai pelengkap. Fungsinya menjadi sangat penting ketika jalur laut terganggu akibat perang, blokade, kecelakaan, atau serangan terhadap kapal.

Krisis Terusan Suez, serangan di Laut Merah, dan ancaman terhadap Selat Hormuz memperlihatkan bahwa negara-negara Teluk tidak lagi dapat bergantung hanya pada satu rute. Koridor kereta menjadi jaring pengaman untuk barang bernilai tinggi, pengiriman cepat, serta logistik strategis.

Saudi juga memiliki jaringan pipa Timur-Barat menuju Laut Merah. Kapasitas pipa tersebut membantu mengurangi ketergantungan terhadap Hormuz, tetapi tidak cukup untuk menggantikan seluruh volume ekspor energi Teluk. Koridor kereta memberi lapisan tambahan dalam strategi diversifikasi tersebut.

Dimensi Ekonomi dan Industri

Proyek ini juga membuka peluang ekonomi besar bagi sektor konstruksi, manufaktur, logistik, dan kawasan industri. Turki memiliki kapasitas konstruksi dan pengalaman infrastruktur yang kuat. Saudi memiliki modal besar dan agenda transformasi ekonomi melalui Visi 2030.

Investasi bersama Saudi-Turki di Suriah juga dapat menjadi bagian dari agenda pemulihan ekonomi pascakonflik. Kawasan industri, pergudangan, fasilitas logistik, dan manufaktur ringan dapat tumbuh di sepanjang jalur kereta apabila stabilitas politik memungkinkan.

Yordania akan memperoleh manfaat sebagai penghubung antara Suriah dan Arab Saudi. Akses menuju Pelabuhan Aqaba di Laut Merah juga dapat memperkuat posisi Amman dalam perdagangan kawasan.

Oman menjadi bagian dari visi jangka panjang. Perpanjangan rute menuju Oman dan Samudra Hindia akan memberi akses alternatif yang tidak bergantung pada Hormuz. Gagasan tersebut masih membutuhkan kajian teknis, pendanaan, dan kesepakatan politik lintas negara.

Ottoman Baru atau Timur Tengah Baru?

Kebangkitan Jalur Hejaz memiliki dimensi simbolik yang kuat bagi Turki. Erdogan selama dua dekade terakhir kerap menggunakan memori Ottoman sebagai bagian dari diplomasi politik, budaya, dan ekonomi.

Jalur kereta dari Istanbul menuju Hijaz membawa makna historis yang besar. Pada masa Ottoman, jalur ini menjadi simbol persatuan wilayah Islam di bawah kekhalifahan. Pada era modern, rute yang sama dapat menjadi simbol sentralitas Turki dalam konektivitas Timur Tengah.

Bagi Saudi, proyek ini tidak harus dibaca sebagai nostalgia Ottoman. Riyadh lebih berkepentingan pada diversifikasi ekonomi, logistik, keamanan rantai pasok, dan penguatan posisi sebagai pusat perdagangan global.

Pertemuan kepentingan inilah yang membuat proyek tersebut menarik. Turki membawa ambisi geopolitik dan teknologi konektivitas. Saudi membawa modal, pasar, dan visi logistik global. Suriah dan Yordania menyediakan ruang geografis yang menghubungkan dua kekuatan tersebut.

Tantangan Pendanaan dan Politik

Proyek ini masih jauh dari selesai. Studi teknis untuk koridor penuh belum sepenuhnya rampung. Pendanaan baru sebagian tersedia. Kelayakan rute melalui Suriah masih sangat bergantung pada perkembangan politik dan keamanan.

Asian Infrastructure Investment Bank disebut telah berkomitmen mendukung sebagian infrastruktur kereta Turki di sepanjang rute. Komitmen pendanaan tersebut menjadi sinyal awal, tetapi belum cukup untuk menutup seluruh kebutuhan proyek yang diperkirakan bernilai miliaran dolar.

Kepentingan berbagai negara juga belum tentu selalu sejalan. Israel dan Amerika Serikat kemungkinan melihat proyek ini dari kacamata persaingan koridor. Uni Emirat Arab juga dapat membaca rute Saudi-Turki sebagai proyek yang mengurangi peran pelabuhan dan jalur logistik yang selama ini dikembangkan kawasan Teluk bagian timur.

Kompleksitas tersebut membuat koridor Saudi-Turki bukan sekadar proyek rel kereta. Ia adalah proyek diplomasi, keamanan, ekonomi, dan simbol kekuasaan regional.

Dampak bagi Dunia Haji dan Umrah

Kebangkitan Jalur Hejaz juga memiliki daya tarik tersendiri bagi dunia haji dan umrah. Sejarah awal jalur ini sangat dekat dengan perjalanan peziarah menuju Tanah Suci.

Versi modernnya memang lebih banyak berbicara tentang perdagangan dan logistik. Meski begitu, narasi konektivitas menuju Makkah dan Madinah tetap memiliki nilai emosional bagi dunia Islam.

Apabila proyek ini berkembang hingga membentuk jaringan penumpang lintas negara, kawasan Timur Tengah dapat memiliki ekosistem mobilitas baru yang menghubungkan Turki, Syam, Yordania, dan Arab Saudi. Potensi tersebut masih panjang, tetapi gagasannya mengingatkan kembali pada masa ketika perjalanan haji juga menjadi jembatan budaya, ekonomi, dan diplomasi antarwilayah Muslim.

Indonesia sebagai negara dengan jemaah haji dan umrah terbesar dunia perlu membaca perkembangan ini secara strategis. Perubahan konektivitas kawasan dapat berdampak pada industri perjalanan, rantai pasok produk halal, perdagangan, dan kerja sama ekonomi syariah.

Timur Tengah Masuk Babak Baru

Koridor Saudi-Turki memperlihatkan bahwa Timur Tengah sedang memasuki fase baru. Jalur perdagangan tidak lagi hanya ditentukan oleh laut, pelabuhan, dan energi. Rel kereta, koridor darat, jaringan digital, serta kerja sama bea cukai kini menjadi instrumen geopolitik yang menentukan arah kawasan.

Proyek Hejaz modern belum tentu berjalan mulus. Suriah masih rapuh, pendanaan belum penuh, dan kepentingan banyak negara dapat berubah sewaktu-waktu.

Nilai strategisnya tetap besar. Jalur ini dapat menjadi pelengkap penting bagi jalur laut, memperkuat posisi Saudi sebagai pusat logistik, mengembalikan Turki ke peta utama konektivitas Asia-Eropa, serta membuka babak baru bagi perdagangan Timur Tengah.

Kebangkitan Jalur Kereta Api Hejaz bukan hanya cerita tentang rel tua yang ingin dihidupkan kembali. Proyek ini mencerminkan perebutan pengaruh, pencarian rute aman, dan pembentukan tatanan baru Timur Tengah setelah satu abad kawasan tersebut dibentuk oleh perang, perbatasan kolonial, dan persaingan kekuatan besar.

Tag INSPIRASI
Join WA Channel