Sabtu, 19 September 2026 8 Rabiulakhir 1448 H 18.00 WIB Makkah 40°C
SYARIAH

Wisata Halal Indonesia Masuk Babak Baru, Fokus pada Layanan dan Ekosistem

NJ Oleh Neo Jurnalis 19 September 2026 4 menit baca

Hajiumrahnews.com — Pengembangan wisata halal Indonesia dinilai perlu bergerak melampaui pembangunan destinasi. Penguatan layanan, halal lifestyle, industri pendukung, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat menjadi bagian penting untuk membangun ekosistem pariwisata yang berkelanjutan.

Gagasan tersebut mengemuka dalam Book Launching & Talkshow “Pengembangan Wisata Halal” bertema “Strengthening Indonesia’s Halal Tourism, Halal Lifestyle & Sustainable Economic Ecosystem” di Hotel Sofyan Menteng, Jakarta, Sabtu (19/9/2026).

Acara yang berlangsung pukul 13.00–15.30 WIB itu menghadirkan sejumlah tokoh dan praktisi, antara lain Prof. Dr. Sapta Nirwandar, Chairman Indonesia Halal Lifestyle Center (IHLC); Dr. Masruroh, Staf Ahli Bidang Transformasi Digital dan Inovasi Pariwisata Kementerian Pariwisata RI; Prof. Dr. Irfan Syauqi Beik, Dekan Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB; serta Riyanto Sofyan, MBA, Chairman SofyanCorp. Diskusi dimoderatori Dr. Gunawan Yasni, MM, CIFA, FIIS.

Pembahasan menempatkan wisata halal sebagai bagian dari rantai ekonomi yang lebih luas. Pengalaman wisatawan tidak hanya ditentukan oleh keberadaan destinasi, tetapi juga oleh ketersediaan layanan yang mendukung kebutuhan wisatawan Muslim, mulai dari fasilitas ibadah hingga makanan halal.

Sapta Nirwandar Dorong Penguatan Kelembagaan

Sapta Nirwandar menyoroti pentingnya dukungan kelembagaan dalam pengembangan wisata halal di Indonesia.

Ia mengusulkan adanya unit khusus di lingkungan Kementerian Pariwisata RI yang menangani pariwisata halal. Penguatan kelembagaan tersebut, menurut gagasan yang disampaikan, dapat berkembang hingga tingkat direktorat jenderal apabila diperlukan.

Penguatan kelembagaan dinilai berkaitan dengan kebutuhan koordinasi berbagai aspek pengembangan wisata halal, seperti kebijakan, standardisasi, destinasi, promosi, sumber daya manusia, industri pendukung, serta kolaborasi antara pemerintah dan pelaku usaha.

Pendekatan tersebut menempatkan wisata ramah Muslim sebagai ekosistem yang membutuhkan keterhubungan antarsektor. Aksesibilitas, daya tarik destinasi, amenitas, serta layanan pendukung perlu dikembangkan secara terpadu agar pengalaman wisatawan dapat berlangsung secara menyeluruh.

Hasan Gaido: Saatnya Kerja Berjamaah

Pelaku usaha pariwisata M. Hasan Gaido turut menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dan daerah dalam mengembangkan wisata halal Indonesia.

Hasan Gaido merupakan pengusaha yang mengembangkan Kawasan Wisata Halal Baduy Outbound di Serang, Banten. Ia melihat Indonesia memiliki modal destinasi yang besar, mulai dari kekayaan alam, budaya, sejarah, kuliner, hingga keragaman masyarakat di berbagai daerah.

“Mari kita kerja berjamaah untuk berkolaborasi dalam mengembangkan pariwisata halal di berbagai daerah Indonesia.”

Menurut Hasan, potensi tersebut dapat dikembangkan menjadi pengalaman wisata yang semakin ramah bagi wisatawan Muslim tanpa membatasi akses wisatawan secara luas.

Pengembangan wisata halal juga berpotensi memberikan dampak ekonomi kepada berbagai sektor yang berkaitan dengan perjalanan wisata. Akomodasi, makanan dan minuman, transportasi, biro perjalanan, UMKM, ekonomi kreatif, hingga layanan digital dapat menjadi bagian dari rantai nilai tersebut.

Membangun Rantai Nilai Wisata Halal

Konsep ekosistem menjadi salah satu gagasan penting dalam pembahasan wisata halal. Rantai nilai tersebut dapat menghubungkan destinasi, hotel, restoran halal, transportasi, travel, UMKM, produk halal, ekonomi kreatif, digitalisasi, hingga masyarakat lokal.

Pola tersebut memungkinkan manfaat ekonomi pariwisata tidak berhenti pada pengelola destinasi. Perputaran ekonomi dapat diteruskan kepada pelaku usaha dan masyarakat di sekitar kawasan wisata.

Model pengembangan seperti itu juga dapat diterapkan di kawasan wisata halal berbasis komunitas. Baduy Outbound, misalnya, dikembangkan tidak hanya sebagai tempat wisata, tetapi juga dapat dikaitkan dengan kegiatan pelatihan, komunitas, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Penguatan rantai nilai juga berkaitan dengan perkembangan teknologi dalam industri perjalanan. Digitalisasi dapat menghubungkan berbagai kebutuhan wisatawan sejak tahap perencanaan perjalanan, selama berada di destinasi, hingga kembali ke daerah asal.

Kolaborasi Pemerintah, Akademisi, dan Industri

Talkshow tersebut memperlihatkan pentingnya mempertemukan pemerintah, akademisi, pelaku industri, komunitas, dan pengusaha dalam pengembangan wisata halal.

Indonesia memiliki pasar domestik yang besar sekaligus kekayaan destinasi yang tersebar di berbagai daerah. Pengembangan wisata halal karena itu tidak hanya berkaitan dengan upaya menarik wisatawan Muslim internasional, tetapi juga dapat diarahkan untuk memperkuat perjalanan wisatawan domestik dan menciptakan peluang usaha baru.

Hasan Gaido kembali menekankan pentingnya membangun ekosistem secara bersama-sama.

“Kita memiliki modal destinasi yang sangat besar. Sekarang bagaimana kita membangun kolaborasi, meningkatkan kualitas layanan, dan mengembangkan ekosistem sehingga pariwisata halal Indonesia semakin dikenal di dunia.”

Pengembangan wisata halal pada akhirnya tidak hanya berbicara mengenai destinasi. Aspek pelayanan, gaya hidup, industri halal, pemberdayaan masyarakat, teknologi, dan peluang bisnis menjadi bagian yang saling berkaitan dalam membangun ekosistem pariwisata yang berkelanjutan.

Tag SYARIAH
Join WA Channel