Belajar Integritas dari Ali bin Abi Thalib RA: Harta Negara Bukan Milik Penguasa
Hajiumrahnews.com— Integritas seorang pemimpin diuji ketika kepentingan pribadi dan amanah publik berada pada dua sisi yang berbeda. Kisah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu (RA) dan saudaranya, Aqil bin Abi Thalib, menjadi salah satu teladan mengenai bagaimana amanah harus ditempatkan di atas hubungan keluarga.
Kisah tersebut diriwayatkan dalam sejumlah literatur yang mengangkat keteladanan Ali RA dalam menjaga harta kaum Muslimin. Aqil disebut pernah meminta bantuan kepada Ali RA untuk memenuhi kebutuhan keluarganya dari kas negara.
Permintaan tersebut datang berulang kali. Aqil berada dalam kondisi sulit dan membutuhkan bantuan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Hubungan darah dengan sang khalifah diharapkan dapat membuka jalan bagi bantuan dari harta kaum Muslimin.
Ali RA memahami kondisi saudaranya. Ia bahkan melihat sendiri penderitaan Aqil akibat kemiskinan. Anak-anak Aqil disebut berada dalam keadaan kusut dan lusuh karena kesulitan hidup yang mereka alami.
Aqil kemudian meminta bagian dari harta kaum Muslimin, termasuk satu sha' gandum. Permintaan tersebut menjadi ujian bagi Ali RA karena pemberian itu bukan berasal dari harta pribadinya, melainkan dari kas yang merupakan amanah umat.
Ali RA Tidak Membiarkan Kas Negara Menjadi Hak Keluarga
Ali RA tidak mengabaikan penderitaan saudaranya. Ia juga tidak membenarkan penggunaan harta publik untuk kepentingan keluarga tanpa hak.
Sebuah riwayat menggambarkan bagaimana Ali RA memberikan pelajaran kepada Aqil. Ia memanaskan sepotong besi kemudian mendekatkannya kepada tubuh sang saudara hingga Aqil menjerit karena panas.
Ali RA kemudian mengingatkan Aqil bahwa rasa sakit akibat besi panas saja sudah membuat seseorang tidak tahan. Ia mempertanyakan bagaimana mungkin dirinya diminta mengambil harta kaum Muslimin yang dapat menyeretnya kepada pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.
“Engkau menjerit karena besi yang dipanaskan manusia untuk permainan, tetapi engkau hendak menyeretku ke api neraka yang dinyalakan Allah karena kemurkaan-Nya?”
Pesan tersebut menegaskan prinsip yang dijaga Ali RA. Harta publik tidak berubah menjadi milik pribadi hanya karena seseorang memiliki kedekatan dengan penguasa.
Hubungan keluarga tidak menjadi alasan untuk memperoleh sesuatu yang bukan hak. Rasa iba juga tidak boleh menghapus batas antara harta pribadi dan harta publik.
Menolak Hadiah yang Berpotensi Menjadi Kepentingan Tersembunyi
Keteguhan Ali RA dalam menjaga amanah juga digambarkan melalui kisah lain ketika seseorang datang membawa manisan halwa dan roti pada malam hari.
Ali RA mempertanyakan asal pemberian tersebut. Ia bertanya apakah makanan itu merupakan pemberian, zakat, atau sedekah.
Ketika dijelaskan bahwa makanan tersebut merupakan hadiah, Ali RA menolaknya. Ia khawatir hadiah tersebut menjadi jalan masuk bagi kepentingan tertentu yang berkaitan dengan kedudukannya sebagai pemimpin.
Sikap tersebut memperlihatkan kehati-hatian seorang pemimpin terhadap pemberian yang dapat memengaruhi independensi dalam menjalankan amanah.
Ali RA bahkan menggambarkan betapa kecilnya nilai dunia dibandingkan konsekuensi mengambil sesuatu yang bukan hak.
Ia menyatakan bahwa seandainya dirinya diberi tujuh bagian bumi beserta seluruh isinya untuk mengambil kulit gandum dari seekor semut secara zalim, ia tetap tidak akan melakukannya.
Integritas Diuji dari Hal-Hal Kecil
Kisah Ali RA memberikan pelajaran bahwa integritas tidak hanya berkaitan dengan penolakan terhadap korupsi dalam jumlah besar.
Kejujuran juga diuji ketika seseorang memiliki kesempatan mengambil sesuatu yang nilainya kecil. Ujian tersebut menjadi semakin berat ketika permintaan datang dari orang terdekat atau dibungkus dengan alasan membantu keluarga.
Ali RA menunjukkan bahwa amanah harus tetap dijaga meskipun keputusan tersebut berpotensi menimbulkan rasa tidak nyaman bagi orang terdekat.
Harta negara bukan harta penguasa. Kas publik merupakan titipan yang harus dikelola untuk kepentingan masyarakat dan tidak boleh diberikan kepada seseorang hanya karena hubungan darah, kedekatan, maupun kepentingan tertentu.
Keteladanan bagi Pengelola Harta Publik
Kisah tersebut relevan untuk direnungkan dalam konteks pengelolaan harta publik. Kekuasaan memberikan seseorang akses terhadap sumber daya yang tidak dimiliki masyarakat secara pribadi.
Akses tersebut seharusnya tidak dipahami sebagai kesempatan untuk memberikan keistimewaan kepada keluarga, sahabat, atau kelompok tertentu.
Pemimpin yang amanah justru harus mampu membedakan antara kewajiban membantu keluarga menggunakan harta pribadi dan kewajiban menjaga harta publik.
Ketegasan Ali RA memperlihatkan bahwa keadilan tidak boleh berhenti pada slogan. Prinsip tersebut harus diterapkan bahkan ketika orang yang meminta adalah saudara sendiri.
Integritas pada akhirnya bukan sekadar keberanian mengatakan tidak terhadap korupsi. Integritas juga berarti memiliki kemampuan untuk menolak keuntungan pribadi ketika keuntungan tersebut diperoleh dengan mengorbankan hak orang lain.
Kisah Ali bin Abi Thalib RA mengingatkan bahwa hubungan darah, rasa iba, dan hadiah tidak boleh mengalahkan amanah. Harta publik harus tetap diperlakukan sebagai titipan yang akan dipertanggungjawabkan, bukan sebagai fasilitas yang dapat digunakan oleh siapa pun yang berada dekat dengan kekuasaan.
Sumber: Buku Nyala Obor Integritas: Kisah Ulama Melawan Korupsi, Kementerian Agama Republik Indonesia.