
Hajiumrahnews.com — Menteri Haji dan Umrah Republik Indonesia, Mochamad Irfan Yusuf, mendorong pemanfaatan kurma lokal sebagai bagian dari penguatan ekosistem ekonomi haji nasional. Langkah ini merupakan tindak lanjut langsung atas arahan Presiden RI Prabowo Subianto agar penyelenggaraan ibadah haji tidak hanya berorientasi pada layanan, tetapi juga memberikan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat Indonesia.
Komitmen tersebut disampaikan Menhaj saat melakukan kunjungan kerja ke Kurma Park, Pasuruan, Jawa Timur, Kamis (22/1/2026), untuk meninjau langsung potensi perkebunan kurma lokal yang dikembangkan oleh pelaku usaha dan didukung pemerintah daerah.
“Harapan kami, ke depan jemaah haji Indonesia tidak perlu lagi membeli kurma di Arab Saudi. Baik kurma dari Jawa Timur, NTB, NTT, maupun provinsi lainnya. Kita ingin uangnya berputar di masyarakat Indonesia sendiri,” ujar Menhaj di sela dialog dengan pengelola perkebunan.
Menurut Menhaj, integrasi kurma lokal ke dalam ekosistem haji tidak hanya berdampak pada penguatan ekonomi umat, tetapi juga menjadi solusi praktis bagi jemaah. Selama ini, kurma menjadi salah satu barang bawaan yang kerap menimbulkan persoalan bagasi saat kepulangan dari Arab Saudi.
“Jemaah tidak perlu lagi terbebani oleh tentengan kurma dari Arab Saudi yang sering kali melampaui batas bagasi 27 kilogram. Kami juga meyakini harga kurma di dalam negeri jauh lebih terjangkau dibandingkan harga kurma di Arab Saudi,” katanya.
Ia menegaskan bahwa pendekatan ini sejalan dengan semangat kemandirian ekonomi haji, di mana kebutuhan jemaah dapat dipenuhi dari dalam negeri tanpa mengurangi nilai spiritual ibadah.
Dalam kesempatan tersebut, Menhaj juga menyampaikan apresiasi kepada pemerintah daerah yang telah memberikan dukungan penuh terhadap pengembangan Kurma Park di Pasuruan. Ia menilai model perkebunan kurma ini dapat menjadi percontohan nasional.
“Saya mengapresiasi peran pemerintah daerah dalam mendukung perkebunan kurma ini. Semoga kurma di tempat ini bisa mengambil peran sentral dalam pengembangan ekosistem ekonomi haji di Indonesia,” ujarnya.
Menhaj berharap inisiatif serupa dapat direplikasi di berbagai daerah lain agar manfaat ekonomi haji semakin meluas, mulai dari sektor pertanian, UMKM, hingga distribusi logistik.
Pengembangan kurma lokal ini menjadi bagian dari strategi besar Kementerian Haji dan Umrah dalam membangun ekosistem ekonomi haji yang terintegrasi, berkelanjutan, dan berpihak pada kepentingan nasional. Dengan jumlah jemaah haji Indonesia yang mencapai ratusan ribu setiap tahun, potensi perputaran ekonomi dinilai sangat besar jika dikelola secara sistematis.
“Kami ingin ekosistem haji ini tidak hanya dinikmati di luar negeri, tetapi juga memberikan manfaat luas bagi masyarakat Indonesia,” pungkas Menhaj.