
Hajiumrahnews.com - Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) mencatat pendapatan lebih dari Rp2 miliar selama empat hari libur Lebaran 2026. Pemasukan tersebut berasal dari Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sektor wisata alam dalam periode 21–24 Maret 2026.
Lonjakan pendapatan ini dipicu oleh tingginya jumlah kunjungan wisatawan yang mencapai 25.588 orang, dengan dominasi pelancong domestik. Puncak setoran harian terjadi pada 24 Maret 2026 dengan nilai Rp735,6 juta, sedikit melampaui capaian hari sebelumnya sebesar Rp715,5 juta.
Kepala Balai Besar TNBTS, Rudijanta Tjahja Nugraha, menyatakan bahwa tingginya minat wisatawan menunjukkan daya tarik Bromo yang tetap kuat sebagai destinasi unggulan nasional.
“Antusiasme yang tinggi dari wisatawan menjadikan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru terus hidup sebagai destinasi yang dicintai banyak orang,” ujar Rudijanta dalam keterangannya di Malang, Jumat (27/3/2026).
Ia menambahkan bahwa pihaknya telah mengantisipasi lonjakan kunjungan dengan menerapkan sistem kuota harian guna menjaga keseimbangan antara pariwisata dan konservasi.
“Pengaturan kuota tetap kami terapkan agar kunjungan wisata tetap terkendali dan tidak melampaui daya dukung lingkungan,” kata Rudijanta.
Selain berdampak pada penerimaan negara, peningkatan kunjungan wisata juga memberikan efek ekonomi langsung bagi masyarakat sekitar kawasan. Pelaku usaha lokal seperti jasa transportasi jeep, penginapan, dan pedagang mengalami kenaikan pendapatan signifikan selama periode libur Lebaran.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa sektor pariwisata memiliki peran strategis dalam menggerakkan ekonomi daerah. Aktivitas wisata yang meningkat turut membuka peluang usaha baru dan memperkuat ekosistem ekonomi lokal.
Daya tarik utama kawasan Bromo, seperti panorama matahari terbit di Penanjakan, hamparan lautan pasir, serta kawah aktif, terus menjadi magnet bagi wisatawan dari berbagai daerah. Aksesibilitas yang semakin baik juga mendukung tingginya angka kunjungan.
Pengelola TNBTS tetap mengingatkan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan di tengah meningkatnya aktivitas wisata. Wisatawan diimbau untuk mematuhi aturan dan menjaga kebersihan kawasan.
Capaian pendapatan lebih dari Rp2 miliar ini menjadi indikator kuat bahwa pengelolaan wisata berbasis konservasi dapat berjalan seiring dengan peningkatan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan.