Salat Idul Fitri di Tengah Perang, Ribuan Warga Iran Tetap Penuhi Masjid di Teheran

Hajiumrahnews.com — Ribuan warga Iran tetap melaksanakan salat Idul Fitri 1447 Hijriah di tengah konflik bersenjata dengan Amerika Serikat dan Israel yang masih berlangsung. Ibadah berlangsung di berbagai kota, termasuk Teheran, meskipun ancaman serangan udara terus membayangi.

Salat Id terpusat di Masjid Agung Imam Khomeini di Teheran dan dihadiri oleh ribuan jemaah. Kepadatan yang tinggi membuat sebagian warga terpaksa melaksanakan salat di area luar masjid. Tayangan televisi nasional memperlihatkan kerumunan besar di sekitar lokasi ibadah, meski berisiko menjadi target serangan.

Situasi keamanan di Teheran dilaporkan belum kondusif. Serangan udara disebut masih terjadi hampir setiap hari sejak dimulainya operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

Situasi Keamanan dan Serangan Berlanjut

Kantor berita Fars melaporkan bahwa serangan udara terjadi di sejumlah distrik di Teheran serta wilayah lain seperti Isfahan. Kondisi ini menambah ketegangan di tengah momentum hari raya umat Islam.

Dalam pelaksanaan salat Id tersebut, Mojtaba Khamenei tidak hadir secara langsung. Kehadirannya diwakili oleh Kepala Peradilan Iran, Gholam Hossein Mohseni Ejei.

Pesan Idul Fitri di Tengah Konflik

Di tengah situasi perang, Mojtaba Khamenei tetap menyampaikan ucapan selamat Idul Fitri kepada umat Muslim melalui akun media sosial X pada Sabtu (21/3/2026).

“Tahun ini musim semi spiritualitas bertepatan dengan musim semi alam,” tulisnya, merujuk pada perayaan Idul Fitri yang beriringan dengan Nowruz.

Ia juga menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban yang terdampak konflik serta para personel keamanan yang gugur dalam berbagai peristiwa kekerasan.

Dalam pernyataan sebelumnya yang disiarkan televisi Iran, Mojtaba menyebut bahwa musuh Iran telah dikalahkan oleh persatuan rakyatnya.

“Musuh Iran telah dikalahkan oleh persatuan rakyat,” ujarnya.

Nowruz di Tengah Bayang-Bayang Perang

Perayaan Nowruz yang biasanya berlangsung meriah dengan berbagai persiapan masyarakat, tahun ini terasa berbeda. Tradisi yang telah berlangsung lebih dari 3.000 tahun itu biasanya ditandai dengan aktivitas berbelanja, dekorasi rumah, serta penataan meja Haft Sin.

Namun, konflik yang dimulai sejak 28 Februari 2026 membuat suasana menjadi jauh lebih sepi. Sebagian masyarakat tetap berupaya menjalankan tradisi tersebut meskipun dalam keterbatasan.

Laporan dari organisasi Human Rights Activists in Iran menyebutkan bahwa lebih dari 3.000 orang tewas akibat konflik, termasuk lebih dari seribu warga sipil.

Pelaksanaan salat Idul Fitri di tengah konflik menunjukkan keteguhan umat Muslim dalam menjaga ibadah di situasi apa pun. Kondisi ini juga menjadi pengingat bahwa nilai spiritual, persatuan, dan keteguhan iman tetap menjadi kekuatan utama di tengah ujian yang berat.

Momentum Idul Fitri di Iran tahun ini bukan hanya perayaan kemenangan spiritual, tetapi juga simbol ketahanan masyarakat dalam menghadapi konflik berkepanjangan.

 

Caption Teaser:
Warga Iran tetap melaksanakan salat Idul Fitri di tengah ancaman perang. Ibadah berlangsung di Teheran meski serangan udara masih terjadi.