
Hajiumrahnews.com – Nabi Ismail dikenal sebagai salah satu utusan Allah yang memiliki peran besar dalam sejarah Islam dan bangsa Arab. Kehadirannya di wilayah Hijaz menjadi awal terbentuknya bangsa Arab Musta’ribah, yakni kelompok keturunan yang berasal dari Nabi Ismail dan suku Jurhum. (Shafiyurahman Mubarakfuri, al-Rahiq al-Makhtum, [Qatar: Kementerian Wakaf dan Urusan Agama, 1468 H/2007 M], hal.16).
Menurut Ibnu Hisyam, rumpun keturunan ini menjadi mata rantai yang menghubungkan Nur Muhammad hingga mewujud dalam sosok manusia, yaitu Nabi Muhammad SAW dari suku Quraisy. (Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyyah, [Dar al-Kutub al-‘Arab, 1990] juz 1, hal. 11-16).
Perjalanan Nabi Ismail tidaklah mudah. Ia menghadapi serangkaian ujian berat sejak kecil, mulai dari pengasingan bersama ibunya ke lembah tandus, hampir mati kehausan, menjadi bagian dari ujian penyembelihan oleh ayahnya, hingga mengalami ujian keluarga yang sarat hikmah.
Nabi Ismail lahir di Bersyeba, Palestina, dari pasangan Nabi Ibrahim dan Siti Hajar. Ia mewarisi darah Koptik dari ibunya dan gen Mesopotamia dari ayahnya. Karena kecemburuan Siti Sarah, istri pertama Nabi Ibrahim, Ismail yang masih bayi diasingkan bersama ibunya ke lembah Hijaz yang tandus sejauh 1.500 kilometer dari tanah kelahiran. (al-Rahiq al-Makhtum, hal.18).
Kehabisan perbekalan menjadi ujian berat bagi Siti Hajar dan Ismail. Dalam keadaan terdesak, Allah menurunkan pertolongan melalui munculnya mata air Zamzam setelah Siti Hajar berlari bolak-balik antara Bukit Shafa dan Marwah. Keberadaan air Zamzam menarik perhatian suku Jurhum dari Yaman untuk menetap di lembah tersebut dengan izin Siti Hajar. (al-Rahiq al-Makhtum, hal.17–18).
Nabi Ismail tumbuh di tengah masyarakat Jurhum. Ia awalnya tidak memahami bahasa Arab karena berasal dari latar non-Arab dan diduga menuturkan bahasa Ibrani, Kasdim, atau Aram. (Abu al-Hasan ‘Ali bin al-Hasan, Muruj al-Dzahab wa Ma’adin al-Jawhar, [Beirut: Dar al-Andalus], hal. 262). Namun, ia belajar bahasa Arab dari masyarakat sekitar dan menikah dengan wanita Jurhum. Dari keturunan inilah lahir bangsa Arab Musta’ribah, yaitu kelompok non-Arab yang berasimilasi dan menjadi bagian dari bangsa Arab.
Setelah kehidupannya mulai stabil, Nabi Ismail menghadapi ujian berat berikutnya. Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih Ismail sebagai bukti ketaatan. Mendengar perintah itu, Ismail tidak menolak dan justru bersikap sabar serta pasrah. Ia bahkan memberi nasihat kepada ayahnya agar proses penyembelihan berlangsung dengan tenang agar keduanya tidak bersedih. (Syaikh Muhammad Sayyid al-Thanthawi, Tafsir al-Wasith, [Beirut: Dar al-Fikr, 2005], hal.3582).
Ketika pisau hampir menyentuh leher Ismail, Allah menggantikan dirinya dengan seekor domba dari surga, yakni hewan persembahan Habil, anak Nabi Adam. (Muhammad bin Ahmad al-Mahalli dan ‘Abdurrahman bin Abi Bakr al-Suyuthi, Tafsir al-Jalalayn, [Kairo: Dar al-Hadits], hal.594). Peristiwa ini kemudian menjadi dasar disyariatkannya ibadah kurban dalam Islam setiap 10–13 Dzulhijjah.
Ujian Nabi Ismail tidak berhenti di sana. Setelah dewasa, ia menikah dengan wanita dari suku Jurhum. Suatu ketika Nabi Ibrahim berkunjung ke rumah Ismail namun hanya menemui istrinya. Ketika ditanya tentang kondisi rumah tangga, sang istri mengeluh tentang kehidupan yang penuh kesusahan. Nabi Ibrahim kemudian menyampaikan pesan kiasan agar Ismail mengganti palang pintu rumahnya, yang berarti menceraikan istrinya.
Beberapa waktu kemudian, Ismail menikah lagi dengan wanita Jurhum lainnya, puteri Madladl bin Amr. Ketika Nabi Ibrahim kembali berkunjung, istri baru Ismail menyambutnya dengan penuh hormat dan menceritakan kehidupan rumah tangga yang bahagia. Nabi Ibrahim kemudian menitipkan pesan agar Ismail mempertahankan palang pintunya, yang berarti mempertahankan istrinya itu. (Ibn Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah, [Beirut: Dar al-Ma’arif], Juz 1, hal.155–156).
Dari pernikahan keduanya, Nabi Ismail dikaruniai dua belas anak: Nabit, Qaidar, Adba’il, Mibsyam, Misyma’, Duma, Misya, Hidad, Yutma, Yathur, Nafis, dan Qaidaman. Dari keturunan Qaidar bin Ismail inilah kelak lahir Adnan, kakek ke-21 Nabi Muhammad SAW. (al-Rahiq al-Makhtum, hal.20).
Keturunan Ismail menjadi leluhur suku Quraisy, dan dari sulbi mereka lahirlah Nabi Muhammad SAW sebagai penutup para nabi. Dalam al-Sirah al-Nabawiyyah karya Ibnu Hisyam disebutkan rantai nasab Nabi Muhammad yang bersambung kepada Ismail bin Ibrahim, Khalilullah.
Kesabaran dan kepasrahan Nabi Ismail menjadi teladan bagi umat Islam. Ujiannya di masa hidupnya berbuah kemuliaan: ia menjadi bapak bangsa Arab dan leluhur Rasulullah SAW. Dari kisahnya, umat manusia belajar tentang arti ketaatan, kesabaran, dan keberkahan yang lahir dari kepasrahan total kepada kehendak Allah. Wallahu a’lam.
Ustadz Rifqi Iman Salafi, alumnus Sastra Inggris UIN Jakarta, Pesantren Al-Hikmah 2 Brebes, dan Pesantren Darus-Sunnah Ciputat.
Sumber: islam.nu.or.id/sirah-nabawiyah/kisah-nabi-ismail-ujian-kesabaran-dan-lahirnya-bangsa-arab