Jejak Sayyidina Ali di Masjid Sederhana Madinah yang Menyimpan Kedamaian

Hajiumrahnews.com – Di antara kemegahan Masjid Nabawi yang selalu ramai dengan jutaan langkah peziarah, terdapat sebuah tempat ibadah kecil di sisi barat kawasan Al-Manakhah.
Masjid itu bernama Masjid Ali bin Abi Thalib, atau kerap disebut Masjid Ali, salah satu jejak bersejarah yang mengingatkan pada sosok agung khalifah keempat, Sayyidina Ali karramallahu wajhah.

Jaraknya hanya sekitar 400 meter dari Masjid Nabawi, namun suasananya begitu berbeda.
Bangunannya sederhana dengan dinding putih bersih, berpadu abu-abu dan cokelat di bagian bawah. Sebuah menara ramping menjulang di sisi kiri, berpuncak kerucut kelabu — tanpa ornamen berlebihan, tanpa gemerlap.

Namun di balik kesederhanaannya, Masjid Ali menyimpan keheningan dan kedamaian yang tak biasa.

Fenomena Kubah Bersih Tanpa Burung Merpati

Fenomena unik di masjid ini sudah lama menjadi buah bibir warga Madinah. Tak seperti masjid-masjid di sekitarnya, burung merpati tak pernah hinggap di kubah Masjid Ali.
Padahal, hanya beberapa meter di belakangnya, ratusan burung beterbangan di lapangan terbuka.

“Coba lihat, bersih sekali. Tidak ada kotoran burung sedikit pun dibanding masjid lain di sekitarnya,” tutur Ustaz Ahmad Kosim, pembimbing umrah asal Indonesia, saat memandu jamaah di lokasi.

Masyarakat Madinah meyakini hal itu sebagai simbol kesucian Sayyidina Ali, sahabat sekaligus menantu Rasulullah SAW.

“Sayyidina Ali orang yang sangat suci. Dari lahir sampai wafat, tidak pernah melihat auratnya sendiri. Karena itu kita selalu mendoakannya: karramallahu wajhah, semoga Allah memuliakan wajahnya,” jelas Kosim.

Ali bin Abi Thalib: Kesederhanaan yang Abadi

Sayyidina Ali dikenal luas karena keberanian dan kebijaksanaannya.
Sebagai sepupu dan menantu Rasulullah SAW, suami dari Sayyidah Fatimah az-Zahra, serta ayah dari Hasan dan Husain, ia adalah sosok yang mewarisi ilmu dan keteladanan Rasul dalam keseharian.

Dalam banyak riwayat, Ali digambarkan hidup sederhana dan zuhud meski berada di lingkar kekuasaan.
Ia menolak kemewahan, memimpin dengan adil, dan selalu menempatkan kejujuran di atas politik.

Kesucian pribadi inilah yang membuat masyarakat Madinah meyakini, keheningan Masjid Ali bukan kebetulan — melainkan pantulan spiritualitas seorang pemimpin sejati.

Tempat Shalat Id Sayyidina Ali

Masjid Ali juga diyakini sebagai lokasi Sayyidina Ali melaksanakan Shalat Idul Fitri, mengikuti sunnah Rasulullah SAW yang menunaikan shalat di lapangan terbuka.

“Dulu di sini masih tanah lapang. Sayyidina Ali shalat Id di tempat ini,” ungkap Ustaz Kosim kepada rombongan jamaah Umrah Sahabat Adira.

Beberapa masjid lain di sekitar Nabawi juga menyimpan jejak serupa — seperti Masjid Ghamamah, Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq, dan Masjid Umar bin Khattab — yang dahulu merupakan lokasi-lokasi Shalat Id Rasulullah SAW dan para sahabat.

Dari Umar bin Abdul Aziz hingga Raja Fahd

Secara historis, Masjid Ali dibangun pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz (93–97 H), lalu direnovasi oleh Gubernur Madinah Dhaigham al-Manshuri (881 H).
Perbaikan berikutnya dilakukan oleh Sultan Abdul Majid (1269 H), dan pembaruan besar terakhir berlangsung pada masa Raja Fahd (1411 H).

Renovasi itu memperluas area shalat dan menambahkan menara ramping yang kini menjadi ciri khas masjid.
Kini, luasnya mencapai 682 meter persegi, cukup untuk menampung jamaah dari berbagai penjuru dunia.

Ketika Kesederhanaan Menenangkan Hati

Salah satu jamaah, Agus Sugiarto, peserta Umrah Sahabat Adira, mengaku merasakan ketenangan mendalam saat melangkah ke dalam masjid.

“Masjid ini sederhana, tapi seperti menyimpan sejarah panjang di dalamnya,” ujarnya lirih.

Interior masjid menampilkan dinding putih bersih berpadu motif bata merah, lampu gantung sederhana, dan cahaya lembut yang menenangkan.
Tak ada ukiran rumit, tak ada warna mencolok — hanya keheningan yang menumbuhkan kekhusyukan.

Bagi banyak jamaah, Masjid Ali bukan sekadar tempat berdoa. Ia adalah ruang refleksi, tempat meneladani kehidupan seorang pemimpin yang adil, bersih, dan rendah hati.

Masjid Ali bin Abi Thalib berdiri sebagai pengingat abadi bahwa keindahan sejati lahir dari kesederhanaan.
Di antara kemegahan Masjid Nabawi dan gemerlap kota Madinah, masjid kecil ini tetap teguh — menyimpan jejak suci Sayyidina Ali, sosok yang tak hanya memimpin dengan pedang, tetapi juga dengan cinta dan kebijaksanaan.

Di tempat inilah, setiap langkah jamaah seolah diingatkan: bahwa kekuatan seorang mukmin bukan pada megahnya bangunan, melainkan pada kebersihan hati dan ketulusan amal.