
Hajiumrahnews.com — Pascabencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Desa Batu Godang dan Kelurahan Sangkunur, Kecamatan Angkola Sangkunur, Kabupaten Tapanuli Selatan, dunia akademik menunjukkan peran nyatanya. Universitas Aufa Royhan, yang berpusat di Kota Padangsidimpuan, turun langsung memimpin aksi kemanusiaan berbasis nilai lokal MARTABE (Marsipature Hutana Be).
MARTABE yang bermakna kepedulian, kebersamaan, gotong royong, dan tanggung jawab moral untuk saling menolong, menjadi ruh utama Program Pengabdian kepada Masyarakat Tanggap Darurat Bencana yang dijalankan universitas tersebut.
Program kemanusiaan ini dipimpin langsung oleh Rektor Universitas Aufa Royhan, Anto J. Hadi, selaku Ketua Tim Pengabdian Masyarakat. Bersama dosen dan mahasiswa, ia turun langsung ke lokasi terdampak untuk memastikan kehadiran kampus benar-benar dirasakan oleh masyarakat.
Inisiatif tersebut mendapat dukungan hibah dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
“Pengabdian ini bukan hanya soal bantuan darurat, tetapi tentang MARTABE—bagaimana kita hadir, bertanggung jawab, dan membangun kembali ketahanan masyarakat secara bersama-sama,” ujar Anto J. Hadi di sela kegiatan di lokasi pengungsian.
Bencana yang terjadi pada akhir November lalu menimbulkan dampak serius. Puluhan korban jiwa dilaporkan meninggal dunia, ratusan rumah rusak berat, dan ribuan warga kehilangan tempat tinggal serta sumber penghidupan.
Kondisi geografis yang ekstrem, ditambah rusaknya akses jalan dan jembatan, membuat proses evakuasi dan penyaluran bantuan pada fase awal mengalami berbagai kendala.
Merespons kondisi tersebut, Universitas Aufa Royhan bergerak cepat dengan pendekatan terintegrasi dan berkelanjutan. Tim pengabdian masyarakat mendirikan posko layanan kesehatan, gizi, psikososial, serta WASH (Water, Sanitation, and Hygiene).
Layanan tersebut mencakup pemeriksaan kesehatan, pengobatan dasar, pemenuhan kebutuhan pangan, hingga penyediaan air bersih bagi para penyintas.
“Perguruan tinggi harus hadir bukan hanya sebagai simbol empati, tetapi sebagai mitra nyata masyarakat dalam pemulihan pascabencana,” tegas Anto.
Di sejumlah titik pengungsian, dapur umum berbasis pangan lokal diaktifkan. Menu makanan cepat saji bergizi disiapkan dari bahan yang akrab dengan masyarakat, seperti ubi, jagung, dan telur, disertai distribusi paket sembako bagi kelompok rentan, termasuk balita, ibu hamil, dan lansia.
Kegiatan ini melibatkan mahasiswa dan dosen secara langsung, tanpa sekat peran. Sejumlah dosen yang terlibat antara lain Arinil Hidayah, Nurul Hidayah Nasution, Ahmad Safii Hasibuan, Lucy Widasari, dan Hapiz Arlanda Sani.
Selain pangan, tim lapangan menyalurkan berbagai kebutuhan pendukung seperti hygiene kits, alat kebersihan, tenda pengungsi, peralatan masak, tandon air, ember, genset, dan pompa air.
Di sektor kesehatan, skrining rutin dan layanan pengobatan dilakukan untuk mencegah penyakit pascabanjir, seperti diare dan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Program ini tidak berhenti pada bantuan fisik. Universitas Aufa Royhan juga melakukan penguatan kapasitas pemerintah desa, tokoh masyarakat, kepala dusun, serta tokoh agama. Pendekatan gizi berbasis potensi lokal turut dikembangkan sebagai bagian dari pemulihan berkelanjutan.
“Kami merasa tidak ditinggalkan. Ada yang datang membantu, mendengar, dan bekerja bersama kami,” ungkap Kepala Desa Batu Godang dengan mata berkaca-kaca.
Kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan komunitas lokal menunjukkan bahwa nilai MARTABE bukan sekadar simbol budaya, melainkan kekuatan sosial yang hidup dan bekerja di tengah krisis.
Dalam kearifan lokal Mandailing, MARTABE mencerminkan martabat, solidaritas, dan tanggung jawab sosial yang diwujudkan melalui tindakan kolektif. Nilai tersebut kini menjelma sebagai fondasi penting bagi pemulihan dan harapan masyarakat Tapanuli Selatan.