
Hajiumrahnews.com — Menteri Agama (Menag) RI Nasaruddin Umar berharap gereja, masjid, dan seluruh tempat ibadah dapat berperan sebagai rumah besar kemanusiaan yang menyatukan masyarakat lintas iman. Harapan tersebut disampaikan Menag saat menyapa umat Kristen di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII), Jakarta, Kamis (1/1/2026).
Kehadiran Menag di gereja tersebut disambut ribuan jemaat dan menjadi simbol nyata komitmen pemerintah dalam merawat kerukunan umat beragama di Indonesia. Dalam sambutannya, Menag mengajak seluruh umat untuk mensyukuri status sebagai warga negara Indonesia di tengah situasi global yang diliputi krisis energi dan ekonomi.
“Di saat banyak negara mengalami gejolak, Indonesia relatif stabil karena kekuatan persatuan dan kebersamaan kita,” ujar Menag.
Dalam kesempatan itu, Menag mengungkapkan pandangannya tentang Indonesia sebagai anugerah besar. Ia bahkan mengistilahkan Indonesia sebagai “sekeping surga yang diturunkan Tuhan lebih awal” ke bumi.
Menurut Menag, keberagaman suku, agama, dan budaya yang hidup dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan aset berharga yang menjadikan Indonesia sebagai model toleransi dunia.
“Kita adalah lukisan Tuhan yang sangat indah yang tidak boleh ada yang mengacak-acaknya,” kata Menag.
Ia menegaskan bahwa perbedaan bukanlah ancaman, melainkan kekuatan yang harus terus dirawat melalui dialog, saling pengertian, dan kerja sama antarsesama anak bangsa.
Untuk menjaga persatuan tersebut, Menag menekankan pentingnya transformasi fungsi rumah ibadah. Menurutnya, gereja, masjid, dan tempat ibadah lainnya tidak boleh berhenti sebagai ruang ritual semata.
“Gereja, masjid, maupun tempat ibadah lainnya tidak hanya menjadi ruang ritual, tetapi harus menjadi rumah besar kemanusiaan,” ujar Menag.
Ia berharap rumah ibadah mampu menghadirkan dampak sosial yang nyata, seperti menjadi pusat kepedulian, solidaritas, dan pelayanan kemanusiaan bagi masyarakat sekitar tanpa memandang latar belakang agama.
Menag mencontohkan semangat kemanusiaan tersebut melalui aksi solidaritas lintas iman saat bencana alam melanda wilayah Sumatera beberapa waktu lalu. Ia juga berbagi pengalaman ketika mengunjungi Papua, yang menurutnya memperlihatkan kuatnya persaudaraan meski terpisah jarak geografis dan perbedaan keyakinan.
“Saya menyaksikan ibu-ibu di daerah paling timur Indonesia mengumpulkan bantuan dan berdoa khusyuk untuk saudaranya di ujung paling barat Indonesia yang tertimpa musibah. Inilah wajah Indonesia yang sejati,” katanya.
Menag menilai, gotong royong dan kepedulian tersebut terbukti mampu mempercepat proses pemulihan pascabencana sekaligus memperkuat ikatan kebangsaan.
Lebih lanjut, Menag menyebut Terowongan Silaturahmi yang menghubungkan Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral Jakarta sebagai simbol konkret persaudaraan lintas iman. Infrastruktur tersebut, kata dia, menegaskan bahwa tidak boleh ada jarak di antara umat beragama di Indonesia.
Sebagai penguatan nilai-nilai tersebut, Kementerian Agama terus menggencarkan Kurikulum Berbasis Cinta dan Ekoteologi sebagai pilar moderasi beragama.
“Semua agama intinya adalah cinta. Jika ada yang mengajarkan kebencian, pada hakikatnya itu bertentangan dengan agama itu sendiri,” tegas Menag.
Ia berharap nilai cinta, kemanusiaan, dan kepedulian sosial terus menjadi fondasi utama kehidupan beragama dan berbangsa di Indonesia.