Masjid Al-Aqsa: Warisan Arsitektur Islam dan Jejak Agung Peristiwa Isra Miraj

Hajiumrahnews.com — Peristiwa Isra Miraj menempati posisi sentral dalam sejarah Islam. Dalam satu malam, Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan dari Masjidil Haram di Makkah menuju Baitul Maqdis, sebelum kemudian diangkat ke Sidratul Muntaha untuk menerima perintah salat lima waktu. Titik penting dari perjalanan agung tersebut adalah Masjid Al-Aqsa, yang hingga kini berdiri sebagai simbol spiritual, sejarah, dan peradaban Islam.

Secara geografis, Masjid Al-Aqsa terletak di Yerusalem Timur, wilayah yang hingga hari ini berada dalam dinamika konflik Palestina–Israel. Meski demikian, masjid ini tetap menjadi pusat perhatian dunia, baik dari sisi keagamaan maupun nilai arsitektur dan sejarahnya.

Menurut kajian arkeologi dan sejarah Islam yang dihimpun oleh sejumlah peneliti Timur Tengah, Masjid Al-Aqsa bukan sekadar satu bangunan tunggal, melainkan bagian dari kompleks Haram ash-Sharif seluas sekitar 144.000 meter persegi, yang mencakup masjid utama, Dome of the Rock, halaman, menara, hingga ruang bawah tanah bersejarah.

Arsitektur Eksterior: Sederhana namun Sarat Makna

Dari sisi luar, Masjid Al-Aqsa tampil relatif sederhana. Bangunannya berbentuk massa kubus dengan sebuah kubah yang menonjol di bagian tengah. Berbeda dengan masjid monumental lain yang identik dengan warna putih atau marmer cerah, Al-Aqsa justru didominasi nuansa warna pasir, selaras dengan lanskap alam Yerusalem.

Riset arsitektur yang dirangkum oleh Madain Project mencatat bahwa keindahan Masjid Al-Aqsa tidak ditonjolkan secara visual dari kejauhan, melainkan melalui detail struktural yang baru terasa ketika pengunjung memasuki area dalam. Pilar, jendela, lorong, serta ornamen lengkung menjadi elemen penting yang merepresentasikan pengaruh Bizantium, Romawi, dan Islam awal.

Fasad bagian depan masjid memperlihatkan kombinasi struktur kokoh dengan lengkungan batu khas arsitektur Mediterania. Pola lengkung ini kemudian banyak menginspirasi desain masjid di berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara.

Fasad dan Kubah: Jejak Dinasti Islam

Sejarah mencatat bahwa pembangunan Masjid Al-Aqsa berlangsung secara bertahap. Bagian fasad utama dibangun pada abad ke-11 Masehi atas perintah Khalifah Fatimiyah al-Mustansir Billah. Ciri paling mencolok terletak pada langkan berpagar kisi-kisi dengan kolom kecil dan sekitar 14 lengkungan batu yang terinspirasi arsitektur Romawi klasik.

Lengkungan ini tidak hanya berfungsi estetis, tetapi juga struktural, terutama pada area pintu masuk utama. Fasad tersebut sempat mengalami kerusakan parah pada masa Perang Salib, sebelum akhirnya direstorasi kembali oleh Dinasti Ayyubiyah di bawah kepemimpinan Shalahuddin al-Ayyubi.

Sementara itu, kubah Masjid Al-Aqsa kerap disalahpahami sebagai kubah emas. Studi visual dan dokumentasi sejarah menegaskan bahwa kubah asli Al-Aqsa berwarna pasir keabu-abuan, dibuat dari panel kayu berlapis enamel timah. Kubah emas yang sering muncul di berbagai foto sebenarnya adalah Dome of the Rock, bangunan terpisah di dalam kompleks yang sama.

Pada 1969, kubah Al-Aqsa mengalami rekonstruksi besar dengan material beton dan lapisan aluminium anodisasi, menggantikan struktur enamel lama yang telah menua.

Interior: Ruang Ibadah dan Warisan Sejarah

Memasuki bagian dalam, nuansa sakral Masjid Al-Aqsa terasa semakin kuat. Ruang salat utama dilapisi karpet merah bata dari ujung ke ujung, berfungsi sebagai alas ibadah bersama. Mimbar dan mihrab menghadap dinding kiblat di sisi selatan, sebagaimana tradisi masjid pada umumnya.

Struktur interior masjid terdiri atas tujuh lorong utama dengan beberapa aula tambahan di sisi timur dan barat. Secara keseluruhan, bangunan ini ditopang oleh sekitar 45 kolom, mencerminkan teknik konstruksi monumental khas abad pertengahan Islam.

Di sisi timur ruang utama terdapat Mushola dan Mihrab Zakaria, sebuah ruang kecil yang memiliki nilai spiritual tinggi. Lokasi ini diyakini sebagai tempat Nabi Zakaria beribadah dan tempat Siti Maryam menerima rezeki, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an Surah Ali Imran ayat 37.

Menara, Masjid Umar, dan Al-Aqsa al-Qadeem

Kompleks Masjid Al-Aqsa juga dilengkapi empat menara azan yang dibangun secara bertahap oleh berbagai sultan dan amir dalam rentang waktu sekitar satu abad. Tiga menara berada di sisi barat, sementara satu lainnya terletak di sudut timur laut kompleks.

Tak jauh dari masjid utama berdiri Masjid Umar bin Khattab, yang awalnya merupakan tempat ibadah sederhana yang didirikan Khalifah Umar setelah penaklukan Yerusalem pada 636 M. Bangunan ini menjadi simbol toleransi dan awal pengelolaan Islam atas kota suci tersebut.

Sementara itu, di bagian bawah kompleks terdapat Al-Aqsa al-Qadeem, sebuah ruang bawah tanah yang dulunya berfungsi sebagai terowongan akses ke platform bawah Haram ash-Sharif. Struktur ini memiliki dua koridor berkubah barel dengan 18 anak tangga dan diyakini pernah menjadi jalur privat Istana Umayyah menuju area masjid.

Simbol Iman dan Peradaban

Masjid Al-Aqsa bukan hanya saksi peristiwa Isra Miraj, tetapi juga monumen hidup peradaban Islam lintas zaman. Setiap elemen arsitekturnya menyimpan lapisan sejarah, spiritualitas, dan dinamika politik yang terus berlangsung hingga hari ini.

Keindahan Al-Aqsa tidak semata terletak pada bentuk fisiknya, melainkan pada makna yang dikandungnya sebagai tempat suci, pusat ibadah, dan simbol keteguhan iman umat Islam di seluruh dunia.

Semoga ulasan ini menambah wawasan dan menumbuhkan kecintaan terhadap salah satu situs paling bersejarah dalam Islam.