Duel Sengit di Medan Perang, Kisah Hormuz yang Berakhir Tragis

Hajiumrahnews.com - Sejarah penaklukan Persia mencatat kisah dramatis dalam Perang Dzatus Salasil, ketika panglima Persia bernama Hormuz menantang langsung Khalid bin Walid dalam duel satu lawan satu.

Peristiwa tersebut menjadi salah satu momen penting dalam ekspansi awal Islam ke wilayah Persia. Hormuz dikenal sebagai panglima kepercayaan kerajaan yang memiliki kekuatan militer besar dan reputasi yang disegani.

Dalam catatan kitab Al-Bidayah wan Nihayah karya Ibnu Katsir, konflik bermula dari permusuhan panjang antara Kekaisaran Persia dengan bangsa Arab. Raja Persia saat itu terus melancarkan serangan baik melalui darat maupun laut.

Menanggapi hal tersebut, Khalid bin Walid mengirimkan surat kepada pihak Persia sebagai bentuk peringatan sekaligus ajakan. Namun respons yang datang justru berupa mobilisasi besar-besaran pasukan di bawah komando Hormuz.

Hormuz yang merupakan wakil Kisra segera menghimpun kekuatan dan bergerak menuju wilayah Kazhimah untuk menghadapi pasukan kaum muslimin.

Strategi Pasukan Rantai di Medan Perang

Dalam pertempuran tersebut, Hormuz menerapkan strategi unik sekaligus ekstrem. Sebagian pasukannya diikat dengan rantai agar tidak ada yang melarikan diri dari medan perang.

Pasukan sayap kiri dipimpin oleh Qubadz, sementara sayap kanan dipimpin oleh Anu Syajan, yang merupakan bagian dari keluarga kerajaan Persia.

Sementara itu, Khalid bin Walid datang dengan sekitar 18.000 pasukan yang siap menghadapi kekuatan besar Persia.

Kondisi sempat tidak menguntungkan bagi pasukan muslimin karena kekurangan sumber air. Namun situasi berubah drastis ketika hujan deras turun di tengah medan perang.

“Usirlah mereka hingga kalian bisa mendapatkan air, sebab Allah hanya akan memberikan air kepada pasukan yang paling sabar,” ujar Khalid bin Walid kepada pasukannya.

Hujan tersebut menjadi titik balik yang memperkuat posisi kaum muslimin sekaligus melemahkan strategi lawan.

Duel Maut Hormuz vs Khalid bin Walid

Di tengah memanasnya pertempuran, Hormuz turun dari kudanya dan menantang duel langsung dengan Khalid bin Walid.

Tantangan tersebut diterima tanpa ragu. Kedua panglima besar itu kemudian bertarung sengit di hadapan pasukan masing-masing.

Pertarungan berlangsung intens hingga akhirnya Khalid bin Walid berhasil mengunci pergerakan Hormuz.

Dalam duel tersebut, Khalid berhasil mencekik leher Hormuz hingga sang panglima Persia tidak mampu melanjutkan perlawanan.

Melihat kondisi tersebut, pasukan Persia mulai kehilangan arah. Serangan lanjutan dari pasukan muslimin yang dipimpin oleh al-Qa'qa' bin Amru membuat barisan Persia tercerai-berai.

Kekalahan Persia dan Harta Rampasan

Kekalahan Hormuz menjadi titik runtuhnya kekuatan Persia dalam pertempuran tersebut. Pasukan mereka melarikan diri dan meninggalkan berbagai perlengkapan perang.

Kaum muslimin kemudian berhasil menguasai harta rampasan perang yang sangat besar, disebut mencapai sekitar 1.000 pikulan unta.

Peristiwa ini kemudian dikenal sebagai Perang Dzatus Salasil, yang berarti “perang rantai”, merujuk pada pasukan Persia yang diikat agar tidak mundur.

Kisah duel antara Hormuz dan Khalid bin Walid bukan sekadar cerita pertempuran, tetapi juga menggambarkan perbedaan strategi, keyakinan, dan kepemimpinan.

Hormuz dikenal sebagai panglima yang keras dan disiplin, namun strategi yang mengandalkan paksaan justru menjadi kelemahan.

Sebaliknya, Khalid bin Walid mengandalkan keberanian, keteguhan, dan keyakinan yang kuat dalam memimpin pasukannya.

Kisah ini menjadi salah satu pelajaran penting dalam sejarah Islam tentang kepemimpinan, strategi perang, serta keimanan di tengah ujian besar.