
Hajiumrahnews.com - Sebuah perusahaan konstruksi asal Jepang menjadi sorotan dunia karena usianya yang telah melampaui 14 abad dan telah berdiri sejak era Nabi Muhammad. Perusahaan tersebut adalah Kongo Gumi, yang didirikan pada tahun 578 Masehi dan hingga kini dikenal sebagai salah satu bisnis tertua di dunia.
Kongo Gumi berbasis di Osaka, Jepang, dan awalnya didirikan untuk membangun kuil Buddha, termasuk kuil Shitenno-ji yang menjadi salah satu kuil tertua di Jepang. Perusahaan ini didirikan oleh keluarga perajin kayu asal Korea yang didatangkan untuk membantu pembangunan tempat ibadah tersebut.
Keberadaan Kongo Gumi bahkan beririsan dengan masa kecil Nabi Muhammad. Pada periode tersebut, Nabi Muhammad diperkirakan masih berusia sekitar tujuh hingga delapan tahun di Mekkah, sementara Kongo Gumi sudah mulai menjalankan aktivitas bisnisnya di Jepang.
Perusahaan ini kemudian berkembang menjadi spesialis konstruksi bangunan religius dan telah terlibat dalam pembangunan berbagai situs bersejarah, seperti kompleks kuil Hōryū-ji pada tahun 607 M, kawasan Koyasan pada 816 M, hingga Istana Osaka pada 1583 M.
Selama lebih dari 1.400 tahun, Kongo Gumi mampu bertahan melewati berbagai fase sejarah, mulai dari era feodal Jepang, restorasi Meiji, perang dunia, hingga era modern. Ketahanan ini tidak lepas dari kombinasi nilai tradisi, inovasi, serta kemampuan adaptasi terhadap perubahan zaman.
Model bisnis Kongo Gumi yang fokus pada konstruksi bangunan religius dinilai menjadi salah satu faktor utama keberlanjutan perusahaan. Permintaan terhadap perawatan dan pembangunan kuil tetap stabil karena berkaitan erat dengan identitas budaya dan spiritual masyarakat Jepang.
Selain itu, perusahaan ini dikenal mempertahankan teknik konstruksi tradisional, khususnya dalam pengerjaan kayu tanpa menggunakan paku. Keahlian tersebut diwariskan secara turun-temurun dan menjadi ciri khas yang menjaga kualitas serta reputasi perusahaan.
Struktur kepemimpinan berbasis keluarga juga menjadi fondasi penting. Meski demikian, pemilihan pemimpin tidak semata berdasarkan garis keturunan, tetapi juga mempertimbangkan kompetensi. Dalam sejarahnya, Kongo Gumi bahkan pernah dipimpin oleh seorang perempuan, Yoshie, pada tahun 1934 sebagai generasi ke-38.
Perusahaan ini juga menunjukkan fleksibilitas dalam menghadapi tantangan. Pada era modernisasi Jepang, Kongo Gumi mulai mengadopsi material konstruksi baru seperti baja dan batu bata, tanpa meninggalkan teknik tradisional yang menjadi identitasnya.

Namun, perjalanan panjang tersebut tidak selalu mulus. Kongo Gumi sempat menghadapi tekanan finansial serius pada awal 2000-an akibat dampak gelembung ekonomi Jepang. Kondisi ini akhirnya membuat perusahaan diakuisisi oleh Takamatsu Construction Group pada tahun 2006.
Meski telah menjadi anak perusahaan, Kongo Gumi tetap mempertahankan nama, spesialisasi, serta tradisi konstruksi kuil yang menjadi warisan utamanya. Hingga kini, perusahaan tersebut masih mempekerjakan puluhan pengrajin kayu tradisional dan tetap terlibat dalam proyek-proyek keagamaan.
Keberhasilan Kongo Gumi bertahan selama lebih dari satu milenium menjadi bukti bahwa kombinasi antara nilai tradisi, inovasi, dan adaptasi mampu menjaga keberlangsungan bisnis lintas generasi.
Di tengah tantangan modern seperti perubahan demografi, keterbatasan tenaga kerja, dan tekanan ekonomi, perusahaan-perusahaan tua di Jepang, termasuk Kongo Gumi, dituntut untuk terus bertransformasi tanpa kehilangan jati diri.
Kisah ini menjadi refleksi bahwa keberlanjutan tidak hanya ditentukan oleh usia, tetapi oleh kemampuan menjaga keseimbangan antara warisan masa lalu dan kebutuhan masa depan.