Meneladani Rasulullah Lewat Kepekaan Hati

Hajiumrahnews.com – Keteladanan Rasulullah senantiasa hadir dalam tindakan-tindakan kecil yang menghangatkan dan menenteramkan hati sesama manusia.

Suasana Masjid Al-Mujahidin Pamulang pada Jumat (7/11) siang terasa penuh kekhusyukan dan kehangatan. Ruang utama hingga serambi masjid dipadati jamaah yang datang mendengarkan khutbah. Prof. Dr. Ahmad Tholabi Kharlie, yang bertindak sebagai khatib, mengangkat tema sederhana tetapi sarat makna: Jabrul Khathir — kepekaan hati terhadap perasaan orang lain. Nilai ini, menurutnya, kian terpinggirkan di tengah kehidupan sosial modern yang cenderung individualistis dan dingin.

Dalam khutbahnya, Prof. Tholabi menjelaskan bahwa Jabrul Khathir berarti menghibur, menguatkan, dan membahagiakan hati sesama, terutama mereka yang sedang terluka, kehilangan, atau merasa terabaikan. Tindakan ini bukan sekadar bentuk kebaikan sosial biasa, melainkan bagian dari ibadah yang bernilai tinggi di sisi Allah. Tujuannya adalah meringankan beban batin orang lain, menumbuhkan harapan baru, dan menghadirkan kembali senyum di wajah mereka yang sedang dirundung duka.

Makna Jabrul Khathir memiliki cakupan yang luas dan dapat diwujudkan dalam banyak bentuk interaksi sosial sehari-hari. Ia bisa berupa kata-kata yang menenangkan, senyum tulus yang menumbuhkan semangat, bantuan materi bagi yang mengalami kesulitan, atau bahkan sekadar kehadiran yang menunjukkan kepedulian dan empati. Prinsip utamanya ialah menghadirkan kenyamanan batin bagi orang lain, sehingga mereka merasa diperhatikan, dihargai, dan tidak sendirian dalam menghadapi ujian hidup.

Dalam pandangan fikih Islam, Jabrul Khathir juga berkaitan dengan anjuran untuk bersikap lembut, dermawan, dan penuh empati. Contohnya dalam transaksi ekonomi, ketika seorang pedagang dianjurkan memberi keringanan kepada pembeli yang kesulitan membayar, atau dalam bentuk santunan kepada anak yatim, fakir, dan dhuafa. Semua itu adalah bagian dari implementasi nilai Jabrul Khathir dalam kehidupan sosial umat Muslim.

Esensi utama dari konsep ini adalah menempatkan empati sebagai inti dari kemanusiaan. Kepedulian terhadap perasaan orang lain bukan sekadar etika sosial, tetapi juga ajaran fundamental dalam Islam yang diajarkan langsung oleh Rasulullah SAW. Prof. Tholabi menegaskan bahwa kepekaan hati termasuk bagian dari ibadah sosial yang sangat ditekankan. “Nabi tidak hanya mengajarkan ibadah ritual, tetapi juga menghidupkan kasih sayang dalam relasi kemanusiaan,” ujarnya.

Dalam khutbahnya, ia mengisahkan tentang sahabat Nabi, Zahir bin Haram, seorang Badui sederhana yang sering merasa rendah diri karena penampilannya. Rasulullah mendekatinya dengan penuh kasih, memeluknya dari belakang, dan berkata bahwa beliau mencintai Zahir. Peristiwa kecil ini menjadi gambaran nyata tentang bagaimana Nabi menumbuhkan rasa percaya diri dan penghargaan bagi sesama.

Menurut Prof. Tholabi, kisah tersebut menunjukkan wajah Islam yang lembut dan manusiawi. “Islam adalah agama yang menumbuhkan empati, bukan menghakimi,” katanya. Ia menambahkan bahwa ajaran inti Islam seperti Jabrul Khathir menegaskan pentingnya memahami perasaan orang lain dan menempatkan hati di posisi mereka yang sedang terluka.

Nabi Muhammad SAW sendiri dikenal karena kelembutan dan empatinya yang luar biasa. Beliau selalu mendengarkan dengan sabar keluh kesah umatnya tanpa menghakimi, serta selalu berusaha menenangkan hati mereka. Ini menjadi teladan bagaimana seharusnya umat Islam berinteraksi, menahan diri dari sikap menghakimi, dan mengedepankan kasih sayang dalam hubungan sosial.

Sikap suka menghakimi sering kali bertentangan dengan nilai dasar keadilan dan rahmat dalam Islam. Menilai orang lain secara negatif tanpa memahami konteksnya dapat menimbulkan luka batin, perpecahan sosial, bahkan merusak ukhuwah. Sebaliknya, empati memungkinkan seseorang untuk memahami keadaan orang lain, merasakan penderitaannya, dan menolongnya dengan cara yang sesuai dengan semangat tolong-menolong dalam kebaikan.

Khotbah ini terasa sangat relevan bagi masyarakat urban seperti Pamulang, di mana kesibukan dan sekat sosial sering membuat hubungan antarmanusia menjadi kering dan formal. Prof. Tholabi mengingatkan agar umat Islam kembali menumbuhkan rasa empati dari hal-hal kecil, seperti menyapa, menolong, atau sekadar mendengarkan. “Kadang, satu kalimat penghiburan bisa menjadi obat yang tak ternilai bagi seseorang,” ucapnya.

Di akhir khutbah, Prof. Tholabi menyerukan agar umat membangun budaya saling menenangkan, bukan saling menyakiti. Menurutnya, bangsa yang besar lahir dari masyarakat yang memiliki kepekaan sosial tinggi dan saling menjaga perasaan satu sama lain. “Jabrul Khathir adalah jalan kecil menuju peradaban besar,” tutupnya.

Khutbah Jumat di Masjid Al-Mujahidin Pamulang hari itu meninggalkan kesan mendalam. Pesannya sederhana, namun kuat: keteladanan Rasulullah tidak berhenti pada sejarah atau teks, melainkan dapat dihidupkan dalam tindakan-tindakan kecil yang tulus—yang menghangatkan hati, memperkuat ukhuwah, dan menumbuhkan cinta antarsesama.