Workshop Bertani bersama Petani Millennial di Masa Pandemi

0
90

HAJIUMRAHNEWS.COM- Banten teramat kaya dengan sumberdaya alam yang melimpah ruah. Tanahnya sangat subur menjadi penopang ibu kota DKI Jakarta. Kalau provinsi lain harus jual mahal karena moda transporrtasi yang cukup mahal karena jarak yang jauh tapi Banten selangkah sudah sampai Jakarta Namun mayarakat nya masih banyak yang bodoh dan petaninya masih terbelakang.

Keprihatinan ini tak boleh terus berlanjut, kekayaan Banten harus menjadi sumber kemakmuran rakyatnya. Karenanya, dilaksanakan Workshop Pemulihan Ekonomi dari Dampak Pandemi Covid-19, Gaido Foundation dan Santri Mart menggelar upaya kebangkitan petani dengan menghadirkan ahli pertanian, Prof. Dr. Ali Zum Bashar dan petani millennial, Dicki Budi, yang dipandu langsu oleh host, Muhammad Hasan Gaido, pada Minggu, (08/08) di Kawasan Wisata Halal Baduy Outbound.

Ali Zum Bashar mempraktikkan temuannya berupa padi Varietas Trisakti dan Tekhnologi Mikroba Google (Migo) di hadapan puluhan petani di Baros, Kabupaten Serang. Workshop ini disupport oleh Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Provinsi Banten, Forum Silaturahmi Pondok Pesantren, Intani Banten, Kadin Banten dan Perkumpulan Urang Banten (PUB).

“Petani itu harus berdaya, harus tampil terdepan dalam pembangunan. Menanam bukan ilmu cerita dari leluhur, tapi harus ditopang ilmu pengetahuan,” ujar Muhammad Hasan Gaido, Founder Gaido Grup yang juga president ISABC.

Ali Zum Bashar menyampaikan bahwa padi varietas Trisaksti hanya butuh waktu tumbuh selama 75 hari hingga masa dipanen. Artinya petani cukup 2,5 bulan dari masa tanam sampai memetik hasilnya. Sementara tekhnologi Mikroba Google (Migo) adalah vaksin tanah yang bisa membunuh hama dan memperbaiki unsur hara pada tanah.

“Perpaduan padi varietas super ini dgn Migo, hasilnya bisa 16,5 ton per hektar,. Dua kali lipat hasil varietas terbaik manapun,” ujar Ali Zum Bashar.

Diungkapkan Ali Zum Bashar bahwa teknologi Migo ini tidak hanya untuk padi, tapi juga buat vaksin tanah bagi sayuran, buah-buahan dan umbi-umbian.

“Mari kita berdaulat secara ekonomi dan lepas dari kemiskinan dan kebodohan. Saatnya petani bangkit, saya ikhlas ridho temuan ini digunakan oleh petani siapapun,” ujarnya Ali Zum Bashar.

Seperti diketahuai Ali Zum Bashar  sudah berhasil membuktikan panen kedelai yang mampu tumbuh dengan polong di atas 3.000 buah per batang.

Ditempat yang sama, juga langsung disimulasikan bagaimana membuat vaksin tanah yang sederhana dan alami. Dengan modal 1 kg pupuk urea atau diganti dengan air seni (kencing), lalu 0.5 kilogram gula dan 20 liter air maka sudah bisa berhasil membuat tekhnologi Mikroba Google untuk lahan.

Sementara pertani millennial, Dicki Budi dalam paparannya turut berbagi keresahan dan bertanya-tanya kenapa dari provinsi yang jauh bisa mengirimkan sayuran dan beras ke Jakarta bahkan Banten beli sayuran dari luar Banten sementara tanah Banten sangat subur.

“Saya datang ke Baduy Outbound dan disiapkan tanah oleh Pak Hasan untuk merubah tanah yang tidak produktif menjadi produktif dan mampu memberikan keilmuan yang saya miliki kepada petani yang ada di lingkungan Baros, Serang, Banten.” ujar Dicki Budi

Ia mengajarkan langsung cara menanam daun bawang, cabe rawit dan lidah buaya dan berharap semoga para petani dengan ada nya workshop ini menjadi semangat bertani dan bahwa bertani itu menyenangkan karena kita bisa bertani dengan berbagai jenis tanaman sayur bukan monoton satu jenia saja.

Salah satu peserta beranama Asep berasal dari kampung Sukamanah mengaku merasa beruntung mengukuti workshop yang diinisiasi oleh Gaido Foundation ini.

“Terima kasih sudah turut mau memikirkan nasib petani, dan membina terjun ke lapanganan  ke sawah dan ke kebun ikut mengajarkan cara menanam dan mencari bibit unggulan serta dengan metode pupuk organik. Saya merasa gembira dan bangga semangat untuk segera beralih denga bibit dan pupuk yang ada di Santri Mart lebih pasti dan terjangkau.” tegas Asep. (RED)