Urgensi Pendidikan Agama Islam bagi Remaja

0
93

HAJIUMRAHNEWS.COM — Masalah remaja adalah suatu topik yang menarik untuk dibicarakan, lebih-lebih pada akhir ini. Dimana telah timbul akibat negatif yang sangat mencemaskan yang akan membawa kehancuran bagi remaja itu sendiri dan masyarakat pada umumnya.

Masalah remaja adalah masalah bagi kita bersama sehingga masalah anak menjadi tanggung jawab dari seluruh masayarakat. Namun dalam hal menangani masalah anak tidak cukup berlandaskan kasih sayang (meskipun dasar ini penting sekali) dan karena itu perlu diikuti dengan cara-cara pendekatan yang tepat (misalnya orantua) atau pendekatan profesional (lembaga-lembaga), (Menurut Singgih D.Gunarsah dan Ny.Y.Singgih D.Gunarsah).

Pengertian remaja dengan istilah “puber”, sedangkan orang-orang Amerika menyebutnya “Adolesensi”. Keduanya merupakan transisi dari amsa anak-anak menjadi dewasa. Sedangkan di Negara Indonesia ada yang menggunakan istilah “akil balig”, “pubertas” dan yang paling banyak menyebutnya remaja (Zulfikli L, 1986:86).

Pendidikan Agama Islam bagi remaja adalah sebagai pedoman, pembimbing, pengendali dan juga pengontrol bagi akhlak dan tingkah lakunya. Sebab hanya agama lah yang dapat mengontrol semua tingkah laku para remaja ke jalan yang lebih baik dan lebih berakhlak.

Remaja adalah masa transisi dari masa anak-anak menuju dewasa, sering disebut masa yang paling rawan akan pengaruh-pengaruh negatif karena masa dimana sedang mencari jati diri yang bersifat masih labil dan belum memiliki pendirian prinsip hidup tersendiri. Makanya perlu mendapatkan bimbingan dan pendidikan terutama agama dari orang tuanya dan dari semua pihak.

Alquran dan hadis yang menjadi sumber utama ajaran Islam dan pendidikan Islam banyak sekali memberikan dorongan pada pemeluknya untuk menciptakan pola hidup yang maju melalui pendidikan. Sehingga dengan pendidikan yang maju, kesejahteraan yang menjadi cita-cita bangsa bisa diraih dengan baik. Maka pendidikan merupakan salah satu jalan tol yang ditempuh untuk meningkatkan derajat dan martabat kemanusian bagi kehidupan dunia dan akhirat. Sehingga fungsi remaja sebagai  khalifah yang melekat pada diri manusia dapat diaktualisasikan dan direalisasikan secara optimal. Karena pemuda hari ini adalah pemimpin hari esok (dalam bahasa arab :Syubbaanul yaum rijaalul ghod) atau (di dalam bahasa Inggris juga disebut : the young today is the leader tomorrow).

Imam Syafi’I mengatakan : ‘Sungguh pemuda itu distandarisasi dari kualitas ilmu dan ketakwaannya. Jika keduanya tidak melekat pada struktur kepribadiannya,ia tidak layak disebut pemuda’. Barang siapa yang menjaga (syariat/batasan) Allah, niscaya Allah akan menjaganya.

إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

“Jika kalian menolong (agama) Allah, niscaya Allah akan menolong kalian, dan mengokohkan kaki-kaki kalian.” (QS: Muhammad:7).

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَعْجَبُ رَبُّكَ مِنْ شَابٍّ لَيْسَتْ لَهُ صَبْوَة
“Rabbmu kagum dengan pemuda yang tidak memiliki shobwah [HR. Ahmad]

Shabwah adalah kecondongan untuk menyimpang dari kebenaran. Karena itu remaja adalah aset bangsa yang harus dijaga dan dikembangkan potensinya. Harapan bangsa yang mampu melanjutkan estafet pembangunan yang harus memiliki iman dan takwa serta ilmu pengetahuan yang luas. Maka dari itu sebagai remaja harus memiliki semangat juang yang tinggi dalam menuntut ilmu pengetahuan agama Islam maupun pengetahuan umum yang menjadi bekal di masa depan.

Peran orangtua dalam mendidik remaja tidak sama dengan mengasuh balita,orangtua anak remaja harus mempelajari cara mendidik yang sama sekali berbeda dengan cara mendidik anak-anak kecil. Anak-anak kecil harus diasuh dengan cara yang bersifat melindungi dan otoriter.

Pengetahuan, pengalaman dan ruang lingkup mereka tentang dunia jauh lebih sedikit. Karena itu mereka harus lebih dilindungi dan dibantu. Kadang-kadang sulit bagi kita menjelaskan mengapa kita menginginkan mereka untuk bertingkah laku tertentu. Anda hanya mengatakan kepada mereka untuk melakukan yang anda minta.

Lain halnya dengan anak remaja, alih-alih menjadi sersan mayor, Anda harus belajar menjadi negosiator yang terampil dan mengembangkan keterampilan menjadi suatu prinsip yang dapat diandalkan. Tugas utama seorang remaja adalah belajar hidup mandiri karena suatu hari nanti mereka harus terbang meninggalkan sarangnya dan harus dapat hidup tanpa bantuan orangtuanya. Maka dari itu, salah satu tugas orangtua juga agar tidak selalu memanjakan anak yang mereka cintai itu,tetapi justru membantu dan mendukung anak remaja agar hidup lebih mandiri.

Pada tahap membesarkan anak remaja, bantuan sangat diperlukan karena kita sedang menentukan standar bagi generasi berikutnya. Tidak seorang anak pun dibesarkan dengan kesan bahwa ibu boleh dianggap sebagai pembantu. Hal ini benar-benar bertentangan dengan ruh keislaman,dimana ibu ditempatkan sebagai orang yang terpenting dalam kehidupan seseorang.

Hampir semua umat Muslim mengetahui ucapan Rasulullah Saw.tentang hal ini. Mungkin setiap orang paham betapa terkejutnya kaum Quraisy ketika beliau memberikan bimbingan tentang hal ini.  Rasulullah SAW ditanya siapakah yang pertama-tama harus dihormati dalam kehidupan seseorang dan beliau menjawab, ibumu. Ketika ditanya lagi siapakah orang yang harus dihormati setelah itu,si penanya yakin bahwa Rasulullah SAW akan menjawab ayahmu, tetapi bukan itu. Beliau mengulanginya,ibumu tak kurang dari tiga kali. Baru setelah itu ayah.

Wahai calon orang tua anak – anak remaja tolong perhatikan! Ketika anak-anak masih kecil mereka perlu dijaga dan dilayani tetapi ketika sudah beranjak remaja mereka harus dapat melakukan semua pekerjaan sendiri. Perubahan peran orangtua ketika anak beranjak dewasa adalah bahwa orangtua harus menerima kenyataan kurang efisiennya dan kurang sempurnanya pekerjaan yang dilakukan anak-anak remaja dengan harapan mereka dapat mandiri.

Mungkin melatih anak masak atau membersihkan rumah atau mencuci merupalan hal yang tak mudah dan memakan waktu yang lama. Akan tetapi kalau anda tidak memberinya kesempatan untuk anak belajar,bagaimana mungkin mereka bisa mandiri ketik saatnya tiba? Dalam beberapa rumah tangga, sikap para remaja terhadap benda-benda yang habis dipakai atau kotor hampir dapat dikatakan sebagai demostophobia-rasa takut menangani benda yang harus dicuci atau dirapihkan.

Sebagai orang tua harus menciptakan teladan dan lingkungan yang baik dalam mengembangkan potensi,kemampuan dan cita-cita remaja. Banyak orang tua mencoba mencapai kesempurnaan,mereka takut bahwa oranglain akan melihat kegagalan dan kesalahan mereka dan melontarkan kecaman terhadap mereka. Ini hanya membuat mereka merasa kecil. Orang-orang lain itu akan mencemoohkan mereka,dan membuat mereka merasa rendah.Lalu siapakah sebenarnya ‘orang-orang lain’itu ?

Ini adalah pertanyaan yang sangat sulit,yang dimaksud bukan semata-mata para tetangga, karena kebanyakan orang kerap mempunyai anggapan yang cukup baik dalam hal standar yang digunakan oleh para tetangga mereka dan tidak mempunyai perasaan lebih rendah dari mereka. Dan di sinilah faktor penting kehadiran orang tua yang dirasa berpengaruh kuat dalam lingkungan seseorang anaknya.

Penting untuk menyadari faktor ini, dan bertanya pada diri sendiri untuk kepentingan siapakah anda hidup?apakah untuk menyenangkan diri anda atau menyenangkan Allah? Atau mungkin untuk menyenangkan orang-orang lain itu?

Anak-anak remaja kerap menyadari bahwa orangtua mereka mungkin tidak terlalu meributkan perbuatan yang mereka lakukan selama masih berada di lingkungan rumah mereka sendiri. Sekali mereka melakukannya di depan orang banyak dan hal layak umum, maka inilah yang menjadi penyebab utama kemarahan mereka.

Tahap selanjutnya dalam situasi sedih ini adalah bahwa anak-anak remaja memiliki rasa dendam kepada orantua mereka sendiri,yang membiarkan hidup mereka diatur oleh orang-orang lain. Mereka merasa seharusnya diri merekalah yang menjadi masalah bagi orangtua mereka bukan orang-orang luar dan mereka sakit hati ketika mengetahui bahwa bukan itu masalahnya.

Perasaan sakit hati ini dapat mngarah pada perilaku memberontak, begitu anak-anak ini menyadari kesan diatas. Baiklah,kalau orangtuaku memang tidak peduli denganku, kenapa aku harus menuruti kata mereka?

Orangtua memang tidak selalu sempurna,hal ini perlu ditekankan berkali-kali karena apapun yang ingin mereka capai, orang tua tak akan mungkin menjadi sempurna. Allah memang menciptakan kita sebagai makhluk yang sempurna dengan diberi akal untuk berfikir maju. Namun kita juga diberi sifat ceroboh, pelupa dan berbuat salah.

Setiap orang didunia ini pasti pernah berbuat salah,mengerjakan sesuatu dengan keliru dan tanpa berfikir panjang,mengatakan dan melakukan sesuatu yang mereka sesali,karena kesempurnaan hanya milik Allah semata. Semakin kaku dan keras standar anda, semakin sulit anda memafkan orang yang kadang-kadang melanggarnya,terutama diri anda sendiri.

Banyak orang dewasa merasa bahwa dialah yanh bertanggung jawab membesarkan anak-anaknya menjadi orang dewasa hidup bahagia,berguna dan berhasil. Ini bukan tanggung jawab mereka sama sekali. Jika anda orangtua yang berfikir demikian, mereka pasti akan merasa sangat tegang dan tertekan karena tak seorangpun manusia dapat memikul tanggung jawab ini untuk orang lain.

Islam sangat jelas dalam hal ini,setiap orang bertanggung jawab atas perbuatan baik datau buruknya dalam kehidupan,dan tentunya tidak ada yang dapat dilakukan orang untuk mengambil alih tanggung jawab ini. Alquran berulang kali menegaskan fakta bahwa jika hari perhitungan tiba, setiap orang memikul bebannya sendiri dan perbuatan yang telah mereka lakukan atau tidak mereka lakukan akan bersaksi terhadap merela.Tak seorangpun dapat memikul beban orang lain.

Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah) maka sesungguhnya ia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri dan barang siapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian)dirinya sendiri.Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain.(QS 17:15)

Proses ini dimulai sejak hari kelahira.Tentu saja orang tidak bisa menyalahkan seorang anak tak berdosa untuk perbuatan-perbuatan yang mereka tidak sadari atau ketahui tentangnya. Akan tetapi seorang anak tidak selamanya menjadi anak-anak.Ketika usia remaja, anak tersebut menjadi orang yang dewasa muda dan mulai malaikat menulis dibukunya tentang segala perbuatannya sendiri.

Dan tiap-tiap manusia itu telah kamu tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung)pada lehernya.Dan kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka.Bacalah Kitabmu,cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisap terhadapmu.(QS 17 : 13-14)

Tugas orangtua bukan berusaha memaksa anak-anak mereka menjadi orang dewasa dengan model tertentu, dengan alasan apapun dan mungin tidak ada orang yang akan setuju dengan hal itu.

Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk,akan tetapi Allah yang memberi petunjuk(taufiq) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. (QS 2:272)

Tugas orangtua sebenarnya sama dengan tugas Rasulullah SAW yaitu memberikan teladan dan menciptakan lingkungan dimana anak-anak remaja mereka dapat mengembangakan sifat dan potensi yang dimilikinya. Orangtua bertugas menjaga anak seaman dan sesehat mungkin,memberikan kesempatan kepada mereka untuk belajar dan mengembangkan ilmu pengetahuan mereka dan memberika lingkungan aman di mana mereka tumbuh.

Inilah salah satu alasan mengapa orangtua yang tegas,terutama yang religius, mengalami kesulitan-kesulitan mereka yakin bahwa ada satu jalan benar untuk segala perbuatan dan jika ini bertentangan dengan gagasan-gagasan dari anak-anak remaja yang sedang tumbuh,maka terjadilah konflik.Sangat berat bagi orangtua untuk melepaskan kendali mereka,terutama ketika mereka melihat anak-anak melakukan kesalahan atau apa yang mereka anggap kesalahan.

Namun orangtua harus ingat bahwa akan sangat sulit bagi anak-anak muda untuk belajar kalau mereka tidak diberi kesempatan untuk melakukan kesalahan,karena dari kesalahan itulah mereka dapat belajar dan meneliti sehingga bisa paham akan kedepannya.

Kadang-kadang ada baiknya orangtua yang mengalami konflik dengan anak-anaknya berhenti sejenak dan mengingat kembali masa-masa remaja yang mereka alami. Bukankah dahulu andapun berbuat salah? Tidakkah tahun-tahun yang sarat dengan saat- saat memaluka,kegagalan,putus asa,impian-impian yang tidak masuk akal,kini terbang tertiup angina kencang kenyataan? Bagaimana Anda belajar ? Apakah anda selalu bercerita kepada orangtua anda? Apakah anda selalu mendengar perkataan mereka dan kemudian melaksanakannya? Tentu saja tidak dan  pikirkanlah,apakah mungkin anda menyadari pelajaran penting ini bila anda tidak membuat kesalahan sebelumnya?.

Sesungguhnya masalah remaja dewasa ini termasuk masalah yang sangat medapatkan perhatian besar dari pemerintah,karena kenakalan yang tidak dapat ditanggulangi akan merusak ketentraman umum dan merusak masa depan mereka . Maka tugas orangtua menunjukkan anak- anakya dengan tanpa kekerasan. Harus selalu dibimbing dengan berdasarkan atas pemikiran logis dan bukan atas dasar ketakutan dan memihak secara aneh.

Remaja memerlukan orang yang mau menolongnya untuk menjelaskan batas -batas yang tidak boleh dilampaui dalam perilakunya. Maka dibutuhkan interaksi yang hangat antara anak remaja dan orang tua juga lingkungan sekitar, dengan pedoman pendidikan Agama Islam maka dari itulah begitu pentingnya pendidikan agama islam bagi remaja dari masa lalu sampai masa sekarang dan masa yang akan datang.

Semoga kita bisa menjadi pemuda islam yang bisa membanggakan kedua orangtua,masyarakat,agama dan Negara.

 

 

 

Oleh : Utami Syifa Masfu’ah

Penulis merupakan Mahasiswi Semester 2 Jurusan PAI Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN SMH Banten