Sisi Magis Kota Ende yang Pulihkan Soekarno, hingga Lahirkan Pemikiran Pancasila

0
105

HAJIUMRAHNEWS.COMEnde, ibu kota Kabupaten Ende di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), menjadi tempat yang tidak bisa dilepaskan dari sosok Soekarno dan juga Pancasila.

Sang Proklamator berujar kepada Cindy Adams, penulis buku otobiografi “Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia”. Ia mengaku mendapatkan inspirasi melahirkan dasar negara Pancasila saat diasingkan penjajah Belanda ke pulau ini.

“Di kota ini kutemukan lima butir mutiara, di bawah pohon Sukun ini pula kurenungkan nilai-nilai luhur Pancasila.”

Selama lima tahun (1934-1938) diasingkan ke Ende, Bung Karno memiliki banyak waktu untuk merenung dan memikirkan falsafah Pancasila. Ia sadar, Indonesia merdeka membutuhkan dasar negara sebagai pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sebelum diasingkan ke Ende, Bung Karno mengalami masa-masa sulit dalam perjuangannya saat dipenjara di Sukamiskin. Kelelahannya bukan hanya secara fisik tapi juga mental. Siksaan fisik itu menjalar menjadi siksaan batin. Ia sering merasa tertekan dengan pengasingan tersebut. Apalagi saat malam semakin larut, perasaan sepi, sempit, terasing, kian bertambah.

“Aku merasa tidak dapat bernapas. Kupikir lebih baik aku mati,” ungkapnya dalam buku otobiografinya.

Bahkan karena tekanan psikologisnya ini, Bung Karno pernah ingin mengundurkan diri dari politik kemerdekaan. Pada 30 Agustus 1933, dirinya lalu menulis surat kepada pemerintah kolonial Belanda untuk membebaskannya.

“Aku berjanji untuk selanjutnya mengundurkan diri dari kehidupan politik, dan menjalankan praktik arsitek dan keinsinyiuran. Tidak ada lain yang aku inginkan sekarang daripada kehidupan yang tenang.”

Bung Hatta, melihat apa yang dialami kawannya itu kemudian memberikan tanggapan atas disposisi itu. “Bagi pergerakan yang akan datang, politikus Soekarno sudah mati,” ucapnya seperti yang tertulis dala surat kabar Daulat Ra’jat.

Belanda yang menangkap suasana batin Bung Karno kemudian meramalkan, bahwa Ende akan menjadi tempat Bung Karno bereinkarnasi dari pejuang kemerdekaan ke insinyur teknik. Apalagi saat itu tengah dibangun jembatan oleh para misionaris Katolik. Bung Karno bisa mendapatkan kerja dengan membantu membangun jembatan.

Tapi perkiraan mereka ternyata salah, Ende justru menjadi daerah paling tepat bagi reinkarnasi perjuangan Bung Karno. Pendek kata, Ende seperti punya daya ‘magis’ bagi Sang Proklamator.

Daya magis Ende pulihkan Bung Karno

Menumpang kapal Jan van Riebeeck, Bung Karno diboyong berlayar oleh pemerintah Hindia Belanda menuju Ende. Selama delapan hari dia mengarungi samudera hingga pada 14 Februari 1934, Bung Karno yang kala itu berusia 35 tahun akhirnya tiba di tempat pembuangan dengan model penjara terbuka.

Ende dianggap sebagai tempat yang tepat agar Bung Karno terisolasi dari kegiatan politik. Selain itu, juga akan membuat komunikasinya terputus dengan rekan-rekan seperjuangan di Pulau Jawa. Di Ende, tak ada sarana dan prasarana untuk itu.

Dia hidup di pengasingan dengan ditemani istri tercintanya, Inggit Garnasih dan ibu mertuanya, Amsi. Mereka menempati rumah sangat sederhana milik Abdullah Ambuwaru di kawasan Ambugaga, kampung kecil yang terdiri dari pondok-pondok beratap ilalang.

Bung Karno mengakui pertama kali menjalani hidup di tanah pengasingan membuatnya depresi. Sayap-sayapnya seolah terpotong-potong. Ketiadaan kawan di Ende menjadikan Tanipa–sebutan untuk Flores–mirip tempat penyiksaan.

Namun di Ende, perlahan Bung Karno membangun kembali kekuatan dirinya tahap demi tahap. Di tempat itu ia mulai menjalani hidupnya secara normal sebagai kepala keluarga.

“Soekarno menanam sayur-mayur, memetiknya untuk dimasak di rumah kontrakannya demi lima anggota keluarganya. Sebagai bapak keluarga, Soekarno juga menjadi seorang Muslim yang taat—shalat sehari lima waktu dan setiap Jumat ke masjid,” ungkap Daniel Dhakidae dalam Kompas.

Dia juga mulai membentuk lingkungannya sendiri dengan berbagai kalangan rakyat jelata. Mereka berasal dari para pemetik kelapa, sopir mobil, para pembantu yang tidak bekerja.

“Inilah kawan-kawanku. Pertama aku berkenalan dengan kota, seorang nelayan. Setelah kukatakan kepadanya bahwa tidak ada larangan mengunjungiku, dia datang ke rumahku. Kemudian dia membawa Dirham, tukang jahit. Setelah itu, aku yang berkunjung ke tempat mereka,” tutur Bung Karno.

Beberapa kali Bung Karno mementaskan drama di Gedung Pertunjukan Katolik Santa Maria Immaculata. Ia rajin mendatangi kampung-kampung di Ende, menyapa warga dan mengunjungi Danau Kelimutu sehingga lahirlah naskah drama berjudul “Rahasia Kelimutu”.

Pada masa pengasingan itu yang akhirnya mengubah Bung Karno yang tadinya seorang orator menjadi pemikir. Dikutip dari ”Bung Karno dan Pancasila, Ilham dari Flores untuk Nusantara”, di Ende, Bung Karno menjadi lebih banyak berpikir ketimbang sebelumnya.

Filosofi Soekarno lahirkan Pancasila

Ende memang memberikan banyak keberkahan bagi seorang Soekarno. Ende memberi pesan, keberagaman bukan beban, melainkan aset yang menyatukan dan menguatkan Indonesia. Ia bisa secara seksama memerhatikan praktek hidup berdampingan secara damai antara penganut Muslim dan umat Katolik lokal di Ende. Tak ada prasangka buruk di antara mereka.

Gereja Katolik bahkan dibangun di atas tanah milik keluarga Muslim Ende yang dihibahkan ke misionaris Katolik. Demikian pula, pembangunan Mesjid juga dibantu umat Katolik.

Diskusinya dengan dua orang pastor Katolik berkebangsaan Belanda, P Johanes Bouma, SVD dan P Gerardus Huijtink, SVD menambah ketajaman nalarnya. Ide-ide brilian dalam proses penemuan dan perumusan butir-butir mutiara Pancasila, tidak terlepas dari diskusi-diskusinya yang serius dan mendalam dengan kedua sahabatnya itu.

Tak hanya berdiskusi dengan misionaris Katolik, Bung Karno juga mempelajari agama Islam dengan cara membaca buku-buku Islam dalam berbagai bahasa. Ia juga melakukan korespondensi dengan A Hassan, seorang ulama modernis Islam terkenal dan tokoh organisasi Persatuan Islam (Persis).

“Di Jawa, Soekarno melihat Islam dari luar, dari kacamata marxisme yang menuntut simpati Islam terhadap marxisme karena Islam pada dasarnya adalah sosialis, demikian Soekarno. Di Ende, Soekarno banyak menulis dan melihat Islam dari dalam,” tulis Daniel Dhakidae.

Pengasingannya ke Ende tidak mematikan nyala api perjuangan kemerdekaan Indonesia, justru makin memacunya melahirkan gagasan besar mengenai ideologi Pancasila. Tempat itu adalah di bawah pohon Sukun yang tumbuh menghadap langsung ke Pantai Ende.

“Aku tidak mengatakan, bahwa aku menciptakan Pancasila. Apa yang kukerjakan hanyalah menggali jauh ke dalam bumi kami, tradisi-tradisi kami sendiri, dan aku menemukan lima butir mutiara yang indah.” ucap Soekarno.

 

 

 

 

Sumber: goodnewsfromindonesia.com