Memahami Seluk-beluk Vaksinasi Covid-19 di Indonesia

0
56

HAJIUMRAHNEWS.COM — Jauh sebelum situasi pandemi Covid-19 terjadi, tak dimungkiri kalau masih banyak segelintir orang yang beranggapan bahwa vaksinasi hanyalah suatu metode kesehatan, yang dilakukan untuk meningkatkan produksi antibodi dan imunitas tubuh yang diperuntukkan untuk balita.

Nyatanya orang dewasa pun perlu divaksin. Vaksin yang diperuntukkan bagi orang dewasa di antaranya influenza, pneumonia, hepatitis A dan B, HPV, paket vaksin tetanus, dan MMR. Tidak ada yang menyangka secara pasti, bahwa jajaran vaksinasi yang sudah ada akan bertambah dengan kehadiran vaksin Covid-19.

Sama seperti wabah penyakit lainnya, kehadiran Covid-19 memunculkan vaksin yang diharapkan dapat menjadi penawar, untuk meminimalisir berbagai gejala yang ditimbulkan apabila terpapar suatu penyakit yang disebabkan oleh virus.

Jika dianalogikan berdasarkan vaksinasi yang sudah lebih lama hadir dan dapat diterima dengan lebih mudah oleh masyarakat secara umum, prinsip yang ada pada vaksin Covid-19 pada dasarnya sama dengan vaksin cacar.

Sebagai contoh, ketika masyarakat melakukan rangkaian vaksinasi kepada balita, hal tersebut sudah pasti dijalankan dengan tujuan untuk meminimalisir gejala atau risiko yang ditimbulkan apabila terpapar penyakit yang rentan dialami oleh para balita.

Salah satunya pemberian vaksin varicella untuk mencegah cacar air dengan tingkat efektivitas cukup tinggi, yakni mencapai 85–90 persen. Kalaupun terkena cacar air, orang yang sudah mendapatkan vaksin varicella akan mengalami gejala yang lebih ringan dan lebih cepat sembuh, prinsip tersebut pada dasarnya berlaku untuk semua jenis vaksin, termasuk Covid-19.

Maka berdasarkan analogi di atas, sejatinya sudah tidak ada lagi alasan bagi seseorang yang sampai saat ini masih mempertanyakan keberadaan vaksin yang diperuntukkan untuk menghadapi wabah Covid-19.

Karena jika selama ini keberadaan berbagai vaksin yang sudah ada seperti vaksin cacar, polio, dan sebagainya, dapat diterima dengan baik oleh masyarakat, mengapa penerimaan yang sama tidak dilakukan terhadap vaksin Covid-19?

Namun, di balik imbauan mengenai vaksin yang diperuntukkan dalam menghadapi wabah penyakit termasuk Covid-19, ada berbagai hal penting yang juga harus dipahami dengan baik. Salah satunya kondisi di mana seseorang tidak dapat menerima vaksin, karena memiliki potensi menimbulkan masalah kesehatan lain bagi tubuh.

Memahami kondisi tubuh dan penyebab seseorang tidak dapat divaksin

ilustrasi larangan vaksin

Walau vaksin menjadi suatu hal yang wajib dan diutamakan sebagai upaya menghadapi penyakit, nyatanya tetap ada beberapa kondisi yang membuat seseorang tidak dapat menerima vaksin.

Secara garis besar, ada beberapa kondisi penyebab seseorang tidak dapat divaksin. Pertama, tidak dapat divaksin sementara karena disebabkan oleh kondisi kesehatan yang sedang tidak fit, dibarengi dengan daya tahan tubuh yang sedang lemah.

Karenanya, tidak heran jika sebelum vaksin dilakukan sesi screening untuk mengetahui kondisi kesehatan calon penerima vaksin lewat beberapa pertanyaan kondisi yang diajukan, yaitu:

  1. Terkonfirmasi menderita Covid-19,
  2. Sembuh dari Covid-19 kurang dari 3 bulan,
  3. Mengalami gejala ISPA, seperti batuk, pilek, dan sesak napas dalam 7 hari terakhir,
  4. Berdasarkan pengukuran tekanan darah didapati hasil 140/90 atau lebih, atau dalam kondisi hipertensi tidak terkendali,
  5. Sedang dalam masa pengobatan penyakit tertentu, seperti kemoterapi untuk kanker dan sejenisnya, dan
  6. Ibu hamil atau sedang dalam masa menyusui.

Beberapa kondisi di atas menjadi bahan pertimbangan apakah seseorang dapat menerima vaksin Covid-19 atau tidak dalam kurun waktu tertentu. Namun dalam beberapa kasus seperti bagi ibu hamil dan penyintas Covid-19 kurang dari 3 bulan, ada yang bisa mendapatkan vaksin setelah melakukan konsultasi dengan dokter.

Adapun bagi seseorang yang memiliki riwayat penyakit lain yang tidak disebutkan dalam tahap screening, disarankan untuk lebih dulu melakukan konsultasi kepada dokter spesialis penyakit yang diderita.

Lalu kondisi di mana seseorang dalam kondisi yang tidak dianjurkan menerima vaksin Covid-19 akibat adanya penyakit kronis bawaan, dan bisa memperburuk keadaan bahkan dapat meningkatkan risiko kematian.

Menurut Yogi Prawira, Satgas Covid-19 Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), bagi seseorang yang sudah memiliki penyakit kronis bawaan (komorbid), atau penyakit yang menyerang imunitas, virus dapat memperparah penyakit bawaan tersebut serta menghalangi proses pengobatan dalam hal ini vaksinasi.

Melansir Halodoc, beberapa penyakit kronis yang membuat seseorang tidak disarankan menerima vaksin di antaranya kelainan kongenital (kelainan bawaan) yang didapat sejak lahir, menderita penyakit autoimun sistemik (SLE atau lupus) serta jenis autoimun lainnya, penyakit saluran pencernaan kronis, dan penyakit jantung akut atau gagal jantung.

Alasan efektivitas vaksin Indonesia dan negara lain berbeda

ilustrasi keberhasilan vaksin

Tak dimungkiri, tantangan selanjutnya yang dihadapi Indonesia dalam hal vaksinasi bukan hanya dari sisi kalangan yang masih mempertanyakan manfaat vaksin Covid-19, melainkan mereka yang sudah memiliki keinginan untuk vaksin tapi masih dibingungkan dengan tingkat keefektifan yang berbeda di masing-masing negara.

Sebagai contoh, salah satu vaksin yang memiliki tingkat keefektifan berbeda di berbagai negara adalah vaksin Sinovac. Dilaporkan bahwa awalnya keefektifan vaksin Sinovac mencapai 91,25 persen di Turki, 65,9 persen di Chili, dan 65,3 persen di Indonesia.

Mengapa efektivitas tersebut bisa berbeda-beda? Pertanyaan tersebut dijawab dengan jelas oleh praktisi di bidang kesehatan, yaitu Adam Prabata, kandidat PhD bidang Medical Science di Kobe University.

Sejatinya, publik kurang memerhatikan fakta bahwa sampel dan uji klinik yang dilakukan untuk menguji keefektifan setiap vaksin di masing-masing negara jelas berbeda, mulai dari banyaknya sampel yang komposisinya melibatkan uji coba pada tenaga medis, masyarakat biasa, hingga faktor lain yang dapat mempengaruhi yaitu perbedaan genetik masyarakat di masing-masing negara.

Mengutip Kompas, Adam menjelaskan secara detail faktor perbedaan yang dimaksud. Di Turki, keefektifan yang diperoleh dari vaksin Sinovac mencapai 91,25 persen karena baru menggunakan hasil uji dari 1.322 subjek klinik, padahal secara keseluruhan ada total 7.371 subjek klinik dalam protokol uji coba yang disetujui. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa klaim keefektifan yang dimiliki oleh Turki masih dalam skala kecil.

Lain halnya dengan hasil yang diperoleh di Chili, penelitian dilakukan terhadap sebanyak 10,2 juta orang dan menghasilkan tingkat keefektifan yang bervariasi mulai dari 65,9 persen untuk mencegah Covid-19 bergejala. Jika dilihat, banyaknya sampel yang digunakan di negara ini jelas jauh berbeda dengan sampel di Turki.

Sedangkan di Indonesia, uji coba vaksin Sinovac dilakukan terhadap sebanyak 1.620 relawan di Bandung dan diperoleh keefektifan sebesar 65,3 persen. Jumlah sampel yang tidak jauh berbeda dengan yang dilakukan oleh Turki.

Faktor lain yang membuat hasil uji keefektifan vaksin di setiap negara berbeda juga dapat dipengaruhi oleh karakter subjek serta risiko infeksi, misal penggunaan vaksin yang diberikan kepada orang dengan risiko terpapar yang lebih tinggi.

Maksudnya, risiko terjangkit Covid-19 yang mengintai tenaga kesehatan dan pekerja lapangan, jelas berbeda dengan kalangan masyarakat umum yang memiliki mobilitas rendah, bahkan cenderung beraktivitas di dalam rumah selama masa pandemi.

Terlepas dari perbedaan keefektifan vaksin yang diperoleh berbagai negara, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menyetujui ketentuan dasar berupa tingkat keefektifan minimal 50 persen, sebagai ambang batas bagi vaksin yang aman dan dapat digunakan dalam situasi darurat pandemi seperti saat ini.

Keberadaan vaksin Covid-19 di Indonesia

Bicara mengenai keberadaan vaksin, Indonesia termasuk negara yang beruntung karena tak henti-hentinya mendapatkan berbagai macam bantuan vaksin Covid-19 yang diperolah dari berbagai negara. Pendek kata, di luar pengadaan yang dilakukan lewat pembelian vaksin secara mandiri, sederet negara yang memiliki fokus bersama menghadapi situasi pandemi kerap memberikan bantuan vaksin untuk Indonesia.

Sedangkan jika menilik angka vaksinasi di tanah air, berdasarkan data yang dipublikasi oleh Our World in Data, per tanggal 21 Juli 2021, ada sebanyak 42.611.602 masyarakat yang sudah mendapatkan vaksin dosis pertama, atau setara dengan 15,7 persen keseluruhan populasi di tanah air.

Dari angka tersebut, sebanyak 16.606.675 masyarakat, atau setara dengan 6,1 persen keseluruhan populasi masyakarat sudah mendapatkan vaksin lengkap (2 dosis).

Untuk saat ini, ada 4 jenis vaksin yang umum dan banyak digunakan di Indonesia, yaitu SinovacSinopharmAstraZeneca, dan Moderna. Tidak lama lagi, vaksin Pfizer juga akan mengisi jajaran vaksin Covid-19 yang akan ikut mengakselerasi vaksinasi nasional, sekaligus menjadi vaksin yang mendapat izin dan persetujuan BPOM untuk dapat digunakan bagi kalangan anak usia 12-18 tahun bersamaan dengan Sinovac.

“…BPOM pada 14 Juli 2021 telah menerbitkan emergency use authorization (EUA) untuk vaksin yang diproduksi Pfizer and BioNTech dengan platform m-RNA, vaksin tersebut dapat digunakan pada remaja usia 12 tahun ke atas secara injeksi intramuscular dosis 0,3 mililiter dengan dua kali penyuntikan dalam rentang waktu 3 minggu,” beber Kepala BPOM Penny K Lukito, dalam konferensi pers virtual, Kamis (15/7).

 

 

Sumber: goodnewsfromindonesia.id