Hadiri Silatnas FKAPHI, Plt Dirjen PHU Jelaskan Tradisi Halal Bihalal di Indonesia

0
48

HAJIUMRAHNEWS.COM — Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah, Kementerian Agama, H. Khoirizi H Dasir mengatakan, bahwa tradisi halal bi halal (Halbil), setelah hari raya Idul Fitri, sesungguhnya dilaksanakan di setiap negara muslim di dunia. Tetapi ada yang unik, ketika halal bi halal ini dilaksanakan di Indonesia, ada muncul dalam setiap kegiatan itu kata mohon maaf lahir dan batin.

“Ini yang menarik yang muncul di Indonesia, kata mohon maaf lahir dan batin tersebut. Jadi, pada kesempatan kunjung mengunjungi itu, ada ketulusan hati dari kita, untuk menyampaikan permohonan maaf kita, kepada orang yang kita hadapi. Inilah uniknya. Kenapa filosofi ini bisa terjadi?. Sebab, di tahun 1946 itu, saat halal bi halal pertama kali dilaksanakan, Indonesia baru memasuki masa kemerdekaan, yang diperjuangkan sejak tahun 1928, yang ditandai dengan bangkitnya rasa nasionalisme pemuda-pemudi Indonesia ketika itu,” ujarnya saat menjadi nara sumber dalam kegiatan halal bi halal pengurus, anggota dan simpatisan Foum Komunikasi Alumni Petugas Haji Indonesia (FKAPHI) di gedung pertemuan KBIHU Bunda Mirfat, Rangkasbitung, Lebak, Banten, Sabtu, (22/5/2021).

Tahun 1945, kata Khoirizi, terjadilah klimaks perjuangan di mana seluruh pejuang melakukan proklamasi kemerdekaan yang diawaki dan digawangi oleh Soekarno – Hatta. Baru setahun Indonesia berjalan, timbul rasa kegalauan dalam diri Soekarno. Ada rasa keprihatinan dalam diri Bung Karno waktu itu yang sudah sekian tahun berjuang mewujudkan kemerdekaan. Apa itu? Ya, Bung Karno merasakan begitu sesudah proklamasi, baru setahun merdeka, mulai terjadi ketidakharmonisan di antara sesama anak-anak bangsa.

Pendeknya, terjadi ketidaksepahaman diantara anak-anak bangsa. Maka oleh sebab itu, kekhawatiran-kekhawatiran inilah yang membuat Pak Karno merasa ada sesuatu yang mengganjal di hatinya sesudah Indonesia merdeka ini. Apa yang dikhawatirkan dirinya ketika itu? yang dikhawatirkan Pak Karno ialah terjadinya Disintegrasi anak bangsa. Disintegrasi antar suku. Disintegrasi antar agama.

Inilah awal mula pemikiran Soekarno ketika itu, sehingga ia berpikir kuat, mencari jalan keluar, agar ancaman disingerasi itu tidak semakin lebar. Maka, untuk mengatasi kegalauan ini, sebagai seorang muslim yang taat dan sejati, tidak ada kata lain bagi Bung Karno, selain mengadu kepada Allah, juga mengadukan hal itu kepada ulama, kyai serta kepada orang-orang yang menjalankan risalah-risalah Allah dan sunah-sunah Rasulullah.

“Maka dipanggillah seorang kyai, yang kalau saya tidak salah, namanya ketika itu adalah Kyai Haji Wahab Hasbullah. Nah kyai inilah yang menyampaikan kepada Pak Karno. Pak Karno, begitu kata kyai Wahab Hasbullah, kalau begitu kita adakan saja pertemuan dengan pemuda-pemuda Indonesia, dalam rangka untuk mengeratkan tali silaturahmi diantara sesama anak-anak bangsa,” jelas Khoirizi.

Saran kyai Wahab ini pun langsung disambut Soekarno dengan hangat. “Tidak cukup dengan silaturahmi saja Pak Wahab, hal ini harus ditindaklanjuti dengan saling memahami, saling koreksi, saling curhat untuk menyampaikan segala persoalan-persoalan yang terjadi tengah-tengah kita,” kata Khoirizi menirukan kalimat Soekarno.

Dari situlah, lanjut dia, Soekarno kemudian mengeluarkan ide, kalau begitu siltaruhami ini dibuat dengan halal bi halal, saling memaafkan. “Kalimat saling memaafkan inilah, yang sampai hari ini kemudian menjadi tradisi yang diikuti oleh semua negara-negara muslim di dunia. Dan kita bersyukur atas terwujudnya itu, yang sudah dilakukan sejak 1946 yang lalu,” tandas putra guru mengaji asal Lubuk Linggau ini.

 

 

Sumber: kemenag.go.id