Ziarah Walisongo, Menelusuri Jejak para Wali

0
4203

 

sunanHAJIUMRAHNEWS – Walisongo bagi umat Islam Indonesia sudah tak asing lagi. Bahkan bagi sebagian kalangan keberadaannya, begitu dihormati. Sebab, lantaran perjuangan merekalah Islam menyebar ke seluruh negeri. Bukan hanya mensyiarkan ajaran Islam, tapi juga aktif membangun peradaban di negeri yang sebelumnya menganut animisme. Dengan tetap memberdayakan kearifan lokal yang dipadankan dengan ajaran Islam yang Rahmatan lil ‘Alamiin.

Karenanya, tak sedikit kaum muslim yang selalu menggelar kegiatan wisata religi (ziarah) ke makam Walisongo yang ada di Pulau Jawa. Nyaris setiap hari kawasan ziarah makam para wali tersebut tak pernah sepi. Terlebih di hari-hari dan waktu tertentu, kadang membludak. Program ziarah makam Walisongo kini banyak ditawarkan baik yang dikelola secara profesional oleh biro perjalanan wisata maupun dilakukan secara swadaya oleh kaum muslim.

Budaya ziarah yang memang masih melekat dan seakan menjadi sebuah kebiasaan baik bagi umat Islam di Nusantara ini menuntut berbagai pihak. Kehidupan ekonomi warga sekitar lokasi makam pun ikut terangkat. Tak terkecuali bagi pemerintah daerahnya, menjadikan lokasi tersebut sebagai kawasan wisata yang bernafaskan keagamaan.

Wisata religi makam para wali tersebar di beberapa tempat yakni lima berada di Jawa Timur, tiga diantaranya di Jawa Tengah dan satu di Jawa Barat. Biasanya, kegiatan ziarah Walisongo dimulai dari mana, tergantung pada lokasi penyelenggaranya. Berikut ini lokasi-lokasi yang menjadi tujuan ziarah Walisongo yang tersebar dari pantura Jawa Timur hingga Cirebon Jawa Barat.

Makam Sunan Ampel, di Surabaya

Sunan Ampel yang bernama asli Raden Rahmat tak lain adalah putra dari Maulana Malik Ibrahim. Dan Sunan Ampel adalah tokoh utama penyebaran Islam di tanah Jawa, khususnya untuk Surabaya dan daerah-daerah sekitarnya.

Makam Sunan Ampel berada di dalam kompleks Masjid Jami Ampoel, di Kampung Ampel, Kota Surabaya, Jawa Timur, tepatnya di Jalan Nyamplungan. Di depan makam ada dua pintu gerbang besar bergaya Eropa. Makam Sunan Ampel terpisah dengan dari makam lainnya dan diberi pagar teralis dari besi setinggi 110 sentimeter. Makam tersusun empat tingkat dan pada bagian atas nisannya berbentuk seperti daun teratai.

Makam Syekh Maulana Malik Ibrahim dan Sunan Giri, di Gresik

Kota Gresik memiliki keistimewaan tersediri terkait keberadaan Walisongo. Sebab, di kota ini terdapat dua makam wali, yakni makam Syeikh Maulana Malik Ibrahim dan makam Sunan Giri. Makam Syeikh Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik) terletak di desa Gapura Wetan, Gresik, Jawa Timur. Bangunan makam wali yang dianggap senior ini mempunyai ciri khas tersendiri. Batu nisannya terbuat dari marmer bergaya Gujarat.

Sementara makam Sunan Giri berada di puncak sebuah bukit di daerah Kebomas, Gresik. Sunan Giri yang bernama asli Raden Paku atau Ainul Yaqin merupakan pendiri kerajaan Giri Kedaton, Gresik. Nama lain dari Sunan Giri diantaranya Prabu Satmata, Sultan Abdul Faqih, dan Jaka Samudra.

Makam Sunan Drajat, di Lamongan

Sunan Drajat dimakamkan di daerah Dalem Duwur, Paciran, Lamongan, Jawa Timur. Pemerintah setempat membangun museum Sunan Drajat sebagai wadah pengenalan sejarah peradaban Islam di masa perjuangan Walisong. Lokasinya hanya berjarak 30 menit perjalanan dari pusat kota Lamongan. Dan untuk mencapai daerah ini bisa ditempuh dari Surabaya maupun Tuban lewat jalur Dandeles (Anyer-Panarukan).

Sunan Drajat yang terlahir dengan nama Raden Qosim ini merupakan putra dari Sunan Ampel yang terkenal akan kecerdasannya, sehingga Raden Fatah selaku penguasa Raja Demak menghibahkan sebuah dusun bernama Drajat untuk dijadikan sebagai perdikan kala itu. Di tempat inilah, Sunan Drajat yang bejuluk Sunan Mayang Madu itu membangun pesantren bernama Dalem Duwur.

Makam Sunan Bonang, di Tuban

Sunan Bonang yang lahir dengan nama Raden Maulana Makdum Ibrahim adalah putra Sunan Ampel dan Nyai Ageng Manila. Bonang sendiri merupakan nama sebuah desa di Kabupaten Jepara. Memang, lokasi makam Sunan Bonang ada beberapa versi cerita. Namun sebagian ulama dan ahli sejarah mengatakan makam Sunan Bonang berada di kota Tuban, Jawa Timur. Makam tersebut berada di sebelah barat Masjid Agung Tuban, tepat di salah satu sisi alun-alun Kota Tuban.

Makam Sunan Muria, di Jepara

Lokasi makam Sunan Muria berada tepat di puncak Gunung Muria, tepatnya di Desa Colo, Kecamatan Dawe, 30 kilometer arah utara dari komplek Masjid Menara Kudus. Untuk mencapai makam Sunan Muria, peziarah musti melewati jalur pendakian yang lumayan tinggi. Sunan Muria atau Raden Umar Said merupakan putra dari Sunan Kalijaga. Nama Muria diambil dari nama gunung yakni Gunung Muria yang terletak di sebelah utara Kota Kudus, Jawa Tengah.

Makam Sunan Kudus, di Kudus

Sesuai namanya, makam Sunan Kudus berada di Kudus, Jawa Tengah. Lokasi makam berada di dalam komplek Masjid Menara Kudus yang terletak di Desa Kauman, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus. Di kompleks tersebut terdapat pula makan putra Sunan Kudus yaki Pangeran Palembang. Bangunan makam Sunan Kudus berada di tengah-tengah bangunan induk berbentuk joglo.

Selain makam Sunan Kudus, keberadaan Masjid Menara Kudus kerap menjadi tujuan ziarah kaum muslim. Sunan Kudus atau Jaffar Shadiq, putra dari pasangan Sunan Ngudung seorang panglima perang Kesultanan Demak Bintoro. Semasa hidupnya, Sunan Kudus pernah menjabat sebagai panglima perang untuk Kesultanan Demak, dan ditunjuk sebagai hakim pengadilan bagi Kesultanan Demak.

Makam Sunan Kalijaga, di Demak

Makam Sunan Kalijaga terletak di Kota Demak. Tepatnya pemilik nama asli Raden Said ini dimakamkan di Desa Kadilangu, Bintara Demak. Tak dipungkiri, Demak begitu terkenal dalam peradaban Islam di Nusantara, lantaran di daerah ini pernah berdiri Kerajaan Islam Demak. Hingga hari ini, makam Sunan Kalijaga selalu ramai diziarahi umat Islam. Meski lokasi makamnya berada di pinggiran kota, tapi bisa ditempuh kurang lebih 15 menit perjalanan dari pusat kota Demak.

Berdasar satu versi cerita rakyat Cirebon, penamaan Kalijaga diambil dari nama Desa Kalijaga di Cirebon, dimana di tempat itu Raden Said sering berendam di sungai (kali), atau jaga kali.

Makam Sunan Gunung Jati, di Cirebon

Kawasan komplek makam Sunan Gunung Jati berada di Desa Astana, Kecamatan Cirebon Utara, sekitar 6 kilometer dari pusat kota Cirebon, Jawa Barat. Makam penyebar agama Islam di kawasan Cirebon ini dihiasi ornamen dan piring-piring antik cari China. Konon, menurut cerita Sunan Gunung Jadi semasa hidupnya pernah menikahi putri Ong Tien dari China. Syarif Hidayatullah nama dari Sunan Gunung Jati yang tak lain putra dari Syarif Abdullah putra Nurul Alam putra Syekh Jamaluddin Akbar. Dan nasabnya bertemu juga dengan Sunan Ampel.

Berziarah ke makam para wali tentu lebih menitikberatkan pada untuk meneladani perjuangan para wali dalam membumikan Islam di Tanah Air, khususnya di bumi Jawa Dwipa. Dimana kondisi budaya dan peradaban masyarakat saat itu masih lekat dengan ajaran animisme yang sangat bertolak belakang dengan ajaran Tauhid.

Setidaknya, dengan mengetahui serta menyelami makam Walisongo, peziaran akan banyak mendapatkan pelajaran, wawasan dan pengetahuan seputar peradaban Islam di Nusantara. Sehingga kegiatan travelling Anda tak sekadar bersenang-senang belaka, tapi ada banyak manfaat yang didapat dalam rangka meningkatkan pemahaman agama dan keimanan kepada Allah SWT. Selamat berziarah. (Firman Aulia)