Strategi Pendidikan Islam dalam Membangun Nalar

0
17

HAJIUMRAHNEWS– Dasar-dasar pendidikan agama Islam sangat syarat akan ilmu pengetahuan. Akal dan ilmu adalah suatu keniscayaan dan merupakan suatu perkara yang penting. Orang yang memiliki kemampuan berpikir tetapi informasi ilmu yang dimilikinya sangat sedikit dan lemah, maka diumpamakan seperti sebuah pabrik yang tidak memiliki bahan baku yang akan diolah atau bahan bakunya sangat sedikit, sehingga produksinya akan sangat sedikit pula.

Karena kuantitas dari suatu produksi dari pabrik itu ialah tergantung pada banyaknya bahan baku yang diolah. Sebaliknya, pabrik yang memiliki bahan baku tetapi mesin  pengolahannya tidak difungsikan seharusnya, maka pabrik itu akan lumpuh tak berproduksi. Itu semua adalah ibarat seperti kita. Ketika salah-satunya tidak digunakan secara optimal maka kita tidak akan memiliki kreativitas untuk mengembangkan potensi-potensi yang ada dalam diri kita. Akibatnya kita cenderung gagal dalam menemukan skill yang ada di dalam diri kita. Akhirnya kita menyerah dan dianggap remeh oleh banyak orang.

Coba kita lihat banyak sekali mereka yang merasa kesulitan untuk menemukan jati diri mereka. Apa sebenarnya kemampuan saya? Mengapa saya tidak seperti mereka? Ah, aku orang yang memang diciptakan bodoh! Pemikiran seperti ini yang seringkali terlintas dalam pikiran banyak orang. Sebagai contoh yang pernah penulis lihat dan alami ialah sebagian santri dianggap kurang kritis dalam masalah belajar, jika kita amati secara seksama pembelajaran tradisional pada umumnya masih terkesan mengesampingkan peran pengembangan potensi pengembangan nalar dan berkreasi.

Kadangkala kita seperti alat perekam, kita berusaha memahami bacaan bahkan menghafalnya dan mencatatnya. Lalu  kita mengajar dan menerapkan metode pengajaran sama persis seperti apa yang pendahulu kita lakukan dulu. Ketika ditanya berkaitan dengan yang diajarkan, terkesan cukup baik dan jelas. Namun, sayangnya apabila orang bertanya kepada kita, tentang hal-hal diluar dari konteks ilmu yang kita kuasai, kita ibarat seperti orang awam yang tidak mengerti apa-apa. Seolah-olah kita tidak mampu memberikan solusi dan jawaban ketika topik yang ditanyakan keluar dari yang kita pelajari.

Inilah yang menjadi masalah kita selama bertahun-tahun lamanya. Oleh karena itu kita harus mengenali ketika Islam memiliki metodologi yang dipupuk bersamaan dengan semangat keilmuannya. Tidak hanya ditunjukan agar kita menjadi seorang ‘alim (pandai) tetapi juga menjadi seseorang yang selalu ingin mencari kebenaran, jauh dari kefanatikan, kejumudan, sikap sombong dan segala sesuatu yang bertentangan dengan standar-standar kebenaran. Karena islam mengharuskan untuk sejalan dan selaras dengan dengan apa yang dicita-citakan oleh Islam, sasaran utama pendidikan dipandang dari sisi sebuah kerangka pengantar terbentuknya masyarakat yang berkepribadian baik untuk menjadi seorang individu sejati.

Salah satu yang harus dilakukan adalah mengenali potensi-potensi yang ada di dalam diri kita, serta menggunakan nalar yang baik untuk menemukan kreativitas-kreativitas yang akan dibutuhkan oleh masyarakat. Secara anatomis otak merupakan media penyimpanan informasi, sedang pendidik berperan memberi transformasi ilmu ke otak para pelajar. Inilah yang menjadi tugas utama para pengajar untuk bisa membekali anak didik mereka semangat kemerdekaan dalam proses pengembangan potensi berpikir. Proses pendidikan diibaratkan dengan memasak, yakni ketika api dan kuali berjauhan, maka proses masaknya akan sangat lambat.

Sama halnya dengan menjejali otak pelajar dengan informasi, tanpa dibarengi dengan melatih pengembangan potensi berpikir kreatif hasilnya akan berbeda. Inilah yang menjadi urgensi pentingnya pengembangan potensi dengan nalar yang akan menghasilkan generasi yang kuat dan cerdas.

(RM)