Naik Haji Berkah dari Menolong Penderita Patah Tulang, H Jinawi Juga Suka Sedekah

0
103
Almarhum H Jinawi ahli pijat patah tulang dari Desa Taniran yang terkenal di era tahun 60an hinga 80-an saat memijat salah satu anak patah tulang. Artikel ini telah tayang di banjarmasinpost.co.id dengan judul Naik Haji Berkah dari Menolong Penderita Patah Tulang, H Jinawi Juga Suka Sedekah
Almarhum H Jinawi ahli pijat patah tulang dari Desa Taniran yang terkenal di era tahun 60an hinga 80-an saat memijat salah satu anak patah tulang.  Artikel ini telah tayang di banjarmasinpost.co.id dengan judul Naik Haji Berkah dari Menolong Penderita Patah Tulang, H Jinawi Juga Suka Sedekah
Almarhum H Jinawi ahli pijat patah tulang dari Desa Taniran yang terkenal di era tahun 60an hinga 80-an saat memijat salah satu anak patah tulang.

HAJIUMRAHNEWS – Pasien yang berobat ke H Jinawi, ahli pihak patah tulang dari Desa Taniran Kubah, Kecamatan Angkinang, Hulu Sungai Selatan, Kalsel, rata-rata berhasil sembuh. Kebanyakan pasien yang sembuh pun memberikan hadiah sebagai ungkapan terima kasih, meski H Jinawi sendiri tak pernah berharap imbalan apapun dari orang yang ditolongnya.

Berkah dari menolong orang lain tanpa pernah mengeluh itu, membuat dia menerima rezeki berkah, yang mengantarkannya bisa naik haji ke Tanah Suci bersama istrinya.

“Abah memperoleh banyak rezeki dari berkah menolong orang-orang yang datang karena masalah tulang,” ungkap Hj Anah, salah satu anak H Jinawi, yang juga punya keahlian memijat dari ayahnya.

Sementara, Rahmah, warga Taniran Kubah mengaku pernah ditolong H Jinawi. Saat itu tahun 80-an terkilir, setelah terjatuh saat membawa satu keranjang telur berjalan kaki.

“Engsel lengan siku saya menurut Kae saat itu lepas. Beliau urut (pijat) dengan minyak, hingga akhirnya engsel lengan bisa dikembalikan,” kata Siti Rahmah.

Menurutnya, saat melakukan pengebalian posisi engsel lengan tersebut, dia tak merasakak sakit yang hebat, karena H Jinawi melakukan dengan sangat pelan dan hati-hati.

“Mungkin karena cara mijatnya yang tak “maksa” itu yang membuat pasien lebih memilih ditangani beliau ketimbang operasi,” ungkapnya.

Diapun menuturkan, setelah menolongnya itu, H Jinawi menolak diberi uang.

“Malah kadang beliau yang sering memberi uang kepada warga di sini. Pak jinawi iatu orangnya suka bersedekah. Juga perhatian dengan kebutuhan langgar di desa ini,” ungkap Rahmah seraya menunjuk tempat ibadah yang berseberangan dengan rumah peninggalan almarhum yang berbentuk rumah adat Banjar yang tampak masih terawat. (tribune)

 

 

LEAVE A REPLY