Paraji (Dukun Bayi) Ini Bisa Haji dan Umrah 3 Kali. Subhanallah!

0
34

Gambar hanya ilustrasiHAJIUMRAHNEWS – Hidup sederhana bukanlah jaminan seseorang tidak bisa naik haji atau umrah. Asalkan ia punya niat dan Allah berkehendak, maka jalan itu selalu ada. Apakah jalan itu dari dirinya sendiri ataukah dari orang lain.

Kisah berikut ini memperlihatkan kepada kita betapa hidup yang sederhana itu sesungguhnya tak menghalanginya untuk bisa pergi haji atau umrah. Sebut saja namanya Nenek Mutiah. Disebut nenek karena usianya sudah amat sepuh (lahir 1941). Ia memiliki sembilan orang anak dan lima belas cucu. Perempuan asli Betawi (Depok) ini masih kuat dan segar di usia senjanya.

Sejak usia muda (mulai tahun 1970), Nenek Mutiah sudah menjalani profesinya sebagai seorang dukun bayi atau paraji. Jasanya untuk membantu proses persalinan bagi ibu-ibu yang hendak melahirkan sangatlah besar karena saat itu belum ada dokter atau bidan.

Nenek Mutiah menjalani profesi ini karena belajar pada mertuanya yang juga seorang paraji. Sambil menyelam minum air, begitulah yang dilakukan oleh Nenek Mutiah saat itu. Sambil belajar dan memperhatikan apa yang dilakukan sang mertua, akhirnya Nenek Mutiah mulai terjun sendiri sebagai paraji sejak tahun 1970 tersebut.

Selain itu, kebiasaan Nenek Mutiah ini ternyata sudah dibayangkan oleh kakeknya. Saat masih kecil, rupanya sang kakek iseng-iseng melihat telapak tangan cucu-cucunya. Ternyata, dari sekian cucu-cucunya, Nenek Mutiah yang saat itu masih kecil adalah anak yang paling memungkinkan untuk bisa jadi seorang paraji. Kini, apa yang diprediksikan oleh kakeknya itu menjadi kenyataan atas izin Allah.

Sebagai seorang paraji, Nenek Mutiah tidak saja membantu proses kelahiran anak, tapi juga sekaligus mengurut bayi-bayi yang dilahirkan melalui tangannya hingga tujuh hari dan empat puluh hari.

“Dan kebiasaan ngurut bayi ini saya lakukan hingga sekarang,” ujar Nenek Mutiah.

Selain itu, Nenek Mutiah juga yang ngurus surat kelahirannya.

“Saat itu ‘kan belum ada akta kelahiran, hanya ada surat kelahiran saja. Saya juga yang ngurusnya,” ujar Nenek Mutiah lebih lanjut.

Namun, seiring mulai munculnya para dokter dan bidan yang membantu proses kelahiran anak, profesi paraji pun mulai tergusur. Sekarang, sangat jarang sekali jasa paraji dipakai orang. Karena itu, “sekarang saya hanya bantu ngurut-ngurut bayi saja,” ujar Nenek Mutiah.

Naik Haji dan Pergi Umrah

Atas ketekunannya dalam menjalani profesi dan kemampuan Nenek Mutiah dalam mengelola keuangan, akhirnya pada tahun 1991 beliau bisa berangkat haji. Sungguh tak bisa dibayangkan bagi sang nenek untuk bisa pergi ke tanah suci.

“Saat itu biaya haji hanya 6 juta rupiah,” ujarnya. Meski begitu, uang sebesar itu tetap saja bernilai besar saat itu. Karena itu, suatu kebanggaan bagi Nenek Mutiah karena bisa pergi ke tanah suci dengan hasil kerja kerasnya.

Sepulang haji, Nenek Hj. Mutiah masih menjalani profesinya sebagai paraji. Sebab, tidak ada kebisaan lain yang dilakukannya saat itu. Apalagi, jasa paraji masih sangat dibutuhkan dan para bidan serta dokter belum ada. Ditambah pula, dengan washilah profesi ini dirinya bisa pergi haji. Maka, profesi ini pun tetap dilakoninya sepulang dari tanah suci.

Namun, seperti yang dikatakan di atas, mulai tahun 2000-an, Nenek Hj. Mutiah sudah tidak lagi membantu proses kelahiran anak karena saat itu para dokter dan bidan sudah mulai bermunculan. Beliau pun hanya bisa membantu mengurutnya (bayi) saja.

Singkat kata, tahun 2006, Nenek Hj. Mutiah punya nasabah (pelanggan) orang kaya yang istrinya sedang melahirkan. Kebetulan, Nenek Hj. Mutiah yang mengurut bayinya. Begitu seterusnya hingga anak yang ketiganya, Nenek Hj. Mutiah yang membantu mengurutnya. Singkat kata, keluarga kaya raya itu pun mengucap syukur karena sang nenek telah membantu mengurut bayi-bayinya, mulai dari anak yang pertama hingga anak yang ketiga. Maka sebagai tanda terima kasih, orang kaya itu pun memberangkatkan Nenek Hj. Mutiah untuk pergi umrah ke tanah suci.

“Terus terang, saya haru sekali melihatnya,” ujar Nenek Hj. Mutiah berterus terang.

Usai pulang umrah, rupanya keinginan Nenek Hj. Mutiah tidak berhenti sampai di situ. Beliau tetap punya keinginan kuat untuk bisa kembali lagi ke tanah suci.

“Entahlah, rasanya ada dorongan yang sangat kuat untuk bisa kembali lagi ke sana,” ujar Nenek Hj. Mutiah.

Maka sedikit demi sedikit, ia pun mulai mengumpulkan uang. Karena saat itu Nenek Hj. Mutiah gagap dengan dunia perbankan, maka yang dilakukannya adalah mengumpulkannya sedikit demi sedikit di rumahnya.

“Uang itu saya kumpulkan dan saya ikat pakai karet lalu saya simpan di mana saja,” ujar Nenek Hj. Mutiah mengisahkan.

Akhirnya terkumpulllah uang sebanyak 10 juta rupiah. Karena takut kehilangan, uang itu lalu disimpan di rumah tetangganya.

Oleh sang tetangga ditanya untuk apa uang itu, saya pun menjawabnya untuk pergi umrah, insya Allah,” kenang Nenek Hj. Mutiah.

Tiga bulan kemudian ia menambahkannya lagi sebanyak 2 juta rupiah. Jadi, jumlahnya bertambah menjadi 12 juta rupiah. Lalu, nenek menjual cincinnya seharga 5 juta rupiah. Maka, dengan dana 17 juta rupiah, tahun 2011 Nenek Hj. Mutiah pun kembali berangkat ke tanah suci untuk umrah.

Bayangkan saja, seorang paraji tetapi ia bisa pergi haji dan umrah dua kali. Meskipun sebagian ada yang menggunakan uangnya sendiri, tetapi itu sudah cukup menunjukkan kepada kita bahwa profesi apapun kalau dijalani dengan ikhlas dan hasilnya tidak dipakai untuk hal-hal yang tak berguna, maka ia akan bisa pergi haji atau umrah, meski harus menunggu waktu bertahun-tahun.

Jadi, tidak ada yang mustahil bagi siapapun jika Allah sudah berkehendak. Maka, janganlah sekali-kali kita meremehkan pekerjaan yang kita anggap hina atau rendah sekalipun. Bisa jadi, di situlah ia justru menemukan kemuliaannya.

Bahkan, bulan April tahun 2014 ini, Nenek Hj. Mutiah berangkat umrah lagi untuk ketiga kalinya atas biaya orang lain. Jadi, semakin tampaklah kebesaran Allah kepada hamba-hamba-Nya.

Kini, yang dilakukan oleh Nenek Hj. Mutiah tidak saja mengurut bayi yang baru lahir, tapi juga membantu istri-istri yang belum punya anak tetapi punya keinginan untuk memilikinya. Banyak orang yang berhasil karena jasa-jasanya. Salah satunya istri dari seorang Habib di Kalibata. Istrinya sudah enam tahun tak punya anak. Tapi setelah dipijat-pijat olehnya, atas izin Allah tak lama kemudian ia punya anak.

“Ada juga yang 10 tahun gak punya, alhamdulillah setelah saya tangani, akhirnya ia punya anak juga,” cerita Nenek Hj. Mutiah.

Nenek Hj. Mutiah menyadari bahwa semua keahliannya itu datang dari Allah SWT. Ia hanya bisa membantu, akhirnya Allah juga yang menentukan hasil akhirnya.

“Semuanya atas kehendak Allah,” ujarnya mengakhiri.

Demikiah kisah seorang nenek yang di usia senjanya masih setia dengan profesinya dan tetap gigih untuk bekerja, apalagi kita yang masih muda. Dari kisah ini kita bisa belajar banyak bahwa profesi apapun (besar atau kecil, tinggi atau rendah) sama saja di hadapan Allah. Semuanya akan mendatangkan kemuliaan atau kehinaan kepada pemiliknya, tergantung bagaimana cara dia memperlakukan profesinya itu.

Semoga kita bisa terinspirasi dari kisah ini! Amin. (*)

LEAVE A REPLY