NENEK PENJUAL NASI KUNING INI AKHIRNYA BISA PERGI HAJI

0
37

maxresdefault (1)

HAJIUMRAHNEWS – Jangan pernah kita menganggap remeh pekerjaan orang, bahkan meski itu hanya seorang kuli bangunan, pemungut sampah atau pedagang emperan. Bisa jadi, mereka justru jauh lebih terhormat di mata Allah dibandingkan mereka yang punya kerjaan hebat di kantor, pengusaha atau pejabat sekalipun.

Kisah berikut ini, sekali lagi, memperlihatkan kepada kita betapa pekerjaan kecil pun jika dilakukan dengan sungguh-sungguh dan niat tulus karena Allah SWT akan bisa menghasilkan sebuah prestasi yang besar. Hal ini dianggap sebagai pekerjaan kecil karena banyak orang menganggapnya demikian, meski di mata Allah semua pekerjaan adalah sama kecuali iman dan takwanya.

Yang lebih mengharukan kita adalah bahwa ia tak pernah patah semangat untuk mengejar mimpinya itu. Yaitu, mimpi untuk bisa pergi haji. Meski dengan pekerjaannya itu, hal itu akan dipenuhinya selama bertahun-tahun. Tapi, kondisi demikian tak memutuskan semangatnya. Sebuah pelajaran berharga bagi orang-orang yang cepat putus asa dan ingin segera sukses atas apa yang diusahakannya, tanpa mau melihat proses dan hasilnya.

Sebut saja namanya Halimah. Dia adalah warga Kecamatan Wonomulyo, Kabupaten Poliwali Mandar, Sulawesi Selatan. Wanita sepuh ini (60 tahun), beberapa waktu yang lalu, menyentakkan sanubari kita yang masih muda dan (mungkin) keadaan materi yang lebih dibandingkan dia. Bukan saja karena usianya yang sudah tak muda lagi, bahkan bisa dibilang nenek-nenek, tapi karena profesinya sebagai seorang pedagang kecil, yaitu pedagang nasi kuning.

Sepintas, profesi ini tak akan bisa membuat pelakunya bisa pergi haji. Bisa Anda tebak sendiri berapa sih penghasilan seorang pedagang nasi kuning? Jika satu bungkus harganya 5000 rupiah dan sehari ia bisa menjual 50 bungkus misalnya, otomatis ia meraup penghasilan 250.000. Hal itu belum dipotong modalnya. Jadi, mungkin untungnya tak lebih dari 50-100 ribu/hari. Hal itu jika hitung-hitungannya demikian. Kalau perhitungannya meleset, misalnya sehari hanya bisa menjual 15-30 bungkus. Tentu, bisa jadi, bukan untung yang didapatkan tapi yang ada malahan buntung.

Coba bandingkan dengan gaji para pegawai negeri, orang-orang kantoran, dan sebagainya. Dalam sebulan, mereka bisa mendapatkan gaji di atas 5 juta rupiah. Belum lagi, kalau ia mengerjakan beberapa proyek tambahan yang tentunya akan menambah pundi-pundi penghasilannya. Dan mereka tidak mengenal istilah rugi, beda dengan pedagang.

Kenyataannya tidaklah demikian. Penghasilan Nenek Halimah memang tidaklah terlalu besar. Tetapi, hal itu sudah lebih dari cukup. Baginya, bisa balik modal saja sudah bersyukur, apalagi untung alhamdulillah. Dan ia tidaklah salah jika kemudian menerapkan target agar bisa pergi haji, meski banyak orang yang mungkin mencibirnya.

Sejak lama Halimah memang memimpikan bisa pergi haji. “Sudah lama saya ingin pergi berhaji,” ujarnya suatu kali.

Karena itu, meski hanya pedagang nasi kuning, tak menyurutkan keinginannya untuk bisa mewujudkan impiannya tersebut. Cara jitu pun dilakukannya, yaitu ia ikut arisan bulanan sebesar 1 juta rupiah. Dengan harapan, ketika ia dapat arisan, ia langsung akan menyetorkan uangnya untuk daftar ibadah haji.

Apa yang dilakukan oleh Nenek Halimah ini terbilang nekad. Bayangkan satu juta sebulan untuk bayar arisan, sementara penghasilannya dia sendiri tidaklah terlalu besar. Artinya, jika satu bulan sudah harus dipotong, berapa sisanya yang harus ia sisipkan untuk makan, minum dan kebutuhan anak-anaknya.

Tapi, perhitungan yang tak logis itu coba diabaikan oleh Nenek Halimah. Pokoknya, ia ikut arisan. Soal di tengah jalan bisa bayar atau tidak, itu urusan gampang atau urusan nanti. Yang penting, ia berniat banget untuk ikut arisan dan jika kelak dapat, insya Allah uangnya akan diperuntukkan untuk daftar ibadah haji.

Akhirnya, Nenek Halimah benar-benar ikut arisan. Dilalahnya, rejeki itu selalu saja ada. Dengan kata lain, Nenek Halimah selalu saja bisa mengcover alias menutupi uang arisan itu dan kebutuhan-kebutuhan lainnya. Mungkin karena niatnya tulus dan uang itu memang benar-benar diperuntukkan ibadah haji. Jadi, rejekinya dilancarkan oleh Allah di tengah jalan.

Bulan terus berjalan dan beberapa orang ada yang sudah mendapatkan uang arisan itu. Kapan waktunya Nenek Halimah? Setelah menunggu sekian lama, akhirnya ia pun dapat giliran untuk menang arisan. Ia dapat uang sebesar 22 juta rupiah. Sebuah jumlah yang cukup besar dan bisa untuk daftar ibadah haji. Kekurangannya alias sisanya, bisa ditutupi sambil jalan (sampai menunggu beberapa waktu sebelum keberangkatan).

Oleh Nenek Halimah, uang hasil arisan itu akhirnya benar-benar langsung disetorkan untuk daftar ibadah haji. Hal itu terjadi pada tahun 2009. Sekarang, antrian ibadah haji sangatlah panjang bisa sampai 5 tahun, 10 tahun, bahkan 20 tahun. Di tempat Nenek Halimah sendiri, antrian ibadah haji bisa sampai 20 tahun lebih. Bayangkan, jika tak sabar banyak orang yang tidak ingin pergi haji dan lebih memilih umrah.

Namun, antrian yang panjang itu tak menyurutkan Nenek Halimah untuk mantaf dan yakin untuk daftar ibadah haji. Yang penting, niatnya sudah terlaksana. Soal kapan berangkatnya, itu biarkan menjadi urusan Allah.

Benar saja, ternyata rencana manusia sangatlah berbeda dengan apa yang direncanakan oleh Allah. Ternyata, Nenek Halimah bisa berangkat lebih cepat, yakni enam tahun kemudian. Tepatnya, pada tanggal 30 Agustus 2015, ia pun dipastikan untuk bisa berangkat ke tanah suci.

Betapa girangnya Nenek Halimah. Meski ia berangkat sendiri, tapi hal itu sudah sangat menggembirakannya. Penantian panjang seperti yang dibicarakan orang-orang ternyata tak berlaku buat dirinya. Ia cukup menunggu sampai 6 tahun saja. Sebuah waktu yang sangat singkat dibandingkan kebiasaan di sana, yaitu hingga 28 tahun (defisit 22 tahun).

Kini, wanita yang dalam berjualannya selalu pakai gerobak keliling ini, telah resmi menjadi seorang hajjah. Tentu banyak pengalaman yang tak terlupakan saat berada di sana. Yang jelas, impiannya untuk pergi haji telah terwujud. Ia tak saja bisa menghadap kiblat saat shalat lima waktu dan shalat-shalat sunnah, namun juga bisa melihat Ka’bah itu sendiri secara langsung di depan mata. Tidak ada kebahagiaan yang lebih utama di dunia ini selain dekat dengan Allah. Dan berada di kota Mekkah untuk pergi haji adalah salah satu cara bagaimana ia bisa lebih dekat dengan Allah.

Sisi lain dari kisah luar biasa sosok Nenek Halimah adalah bahwa ia juga bisa menguliahkan anak-anaknya.

“Satu anak perempuan saya menjadi (bidan) PNS (pegawai negeri sipil),” ujarnya bangga.

Tidakkah kita bisa belajar dari Nenek Halimah, sang penjual nasi kuning? Sekali lagi, profesi apapun janganlah kita anggap sepele. Bahkan, hal yang kadang terlihat kecil di mata orang, justru sangatlah besar di mata Allah. Buktinya adalah Nenek Halimah. Meski hanya seorang pedagang nasi kuning, yang kata orang-orang tidaklah seberapa penghasilannya, buktinya ia bisa pergi haji dan menguliahkan anak-anaknya. Semoga kisah ini bisa menginspirasi kita semua. Amin yra.

 

 

 

LEAVE A REPLY