Berhaji Berkat Mendawamkan Doa dan Zikir  

0
40

 

233237_09083623042018_haji_1

HAJIUMRAHNEWS – Sejak lama aku memang ingin naik haji secepatnya. Masalahnya, niat itu kerapkali terganjal pada biaya yang tak sedikit. Namun, toh aku berkeyakinan bahwa dengan usaha yang ulet dan doa yang tiada henti kupanjatkan, insya Allah mimpiku akan menjadi kenyataan. Kerja apa saja kulakukan, yang penting halal dan diridhai Allah.

Aku sudah lama mengimpikan bisa berada di antara tamu-tamu Allah di Baitullah; ingin membuktikan kedahsyatan mencium hajar aswad yang terkenal itu; ingin memuaskan dahagaku dengan doa-doa yang baik dan seringkali disebut-sebut  bakal mustajab. Apalagi banyak kerabat yang menitip doa bila aku di sana, entah doa agar diberikan kelapangan rezeki, segera menyusul berangkat haji, segera mendapatkan jodoh, agar anaknya shaleh, keluarganya harmonis, dan masih banyak doa-doa titipan lainnya.

Begitu menggebu-gebunya semangat itu, aku bertekad akan mengerahkan seluruh energiku untuk beribadah di tanah Arab yang panas itu, sekaligus napak tilas sejarah Nabi. Inilah niat dan angan-angan yang kugadang-gadang sejak lama. Hatiku berbunga-bunga membayangkan semuanya. Bayangan-bayangan indah tentang haji menari-nari di hadapanku. Aku seakan diuji oleh Allah yang Maha Kuasa untuk meluruskan niatku secara benar. Seolah ada peringatan dari-Nya bahwa ibadah haji merupakan perjalanan spiritual yang penuh dengan nilai-nilai Ilahiah, bukan perjalanan wisata biasa.

Dalam hati, aku sempat bertanya nakal, apa sebenarnya keistimewaan beribadah haji hingga orang dari daratan mana pun tumpah ruah, berbaur tanpa mesti membayangkan dari ras atau suku mana.

Problem Serius Sebelum Berangkat

Tahun 1984, saat-saat yang kunanti tiba. Kala itu, aku berusia 25 tahun dan sudah dikarunia 5 orang anak  –maklumlah nikah muda. Segala persiapan haji sudah komplit. Hanya ada masalah yang menjadi pikiranku, yakni kandunganku. Menurut prediksi dokter, tanggal kelahiran anakku yang kukandung kemungkinan besar bertepatan dengan keberangkatanku di tanah suci.

Terus terang aku agak gelisah tentang masalah ini. Bagaimana tidak? Rencana berangkat sudah sedemikian matang; dan kalau ternyata prediksi itu benar, maka sulit kubayangkan bagaimana ibadah hajiku nanti: apakah bisa kujalankan dengan baik? Ataukah niat muliaku yang sudah bulat itu bakal batal?

Sadar akan masalah yang sedang kuhadapi ini, aku coba berikhtiar semaksimal mungkin dengan berkonsultasi ke dokter spesialis. Intinya: bagaimanakah menyelesaikan problem yang cukup pelik ini? Pertama, aku ingin ibadah hajiku yang pertama kali dan sudah lama kudambakan bisa terlaksana dan bisa beribadah dengan khusyuk. Kedua, berharap anak dalam kandunganku bisa terlahir lebih awal sehingga saat tiba hari pemberangkatan, masalah yang menggelisahkanku itu telah menemukan titik terang.

Pagi cukup segar tatkala aku melangkahkan kaki keluar rumah bersama suami.  Kupandangi perutku yang gendut, usianya telah mencapai 8 bulan. Kuelus-elus sembari terus melafadzkan kalimat zikir; memutar biji-biji tasbih yang seakan tak pernah lepas dari tanganku. Siang malam, aku terus berdoa agar diberikan kemudahan saat menjelang pemberangkatan dan sewaktu pelaksanaan haji. Tahajud tak kutinggalkan. Bahkan tak terasa, buliran air mataku tumpah, memohon kepada Allah agar kiranya aku mendapat kesempatan berangkat haji tahun ini.

Suamiku dengan telaten menggandengku. Ia memberikan motivasi yang luar biasa dan menyarankan tetap berserah diri pada Allah.

“Pasrahkan semuanya pada Allah, Mi!  Jika Allah menghendaki kita berangkat, insya Allah kita bisa berangkat haji tahun ini juga. Sebaliknya jika tidak, kita bersabar saja. Yang penting kita tetap berdoa dan berusaha,” kata lelaki yang telah mendampingiku bertahun-tahun.

Benar kata suamiku. Setelah beberapa kali berkonsultasi, ada jalan keluar. Dokter memberi semacam obat agar bayi yang masih dalam kandungan bisa lahir lebih awal dan normal, tanpa menunggu waktu kelahiran yang diperkirakan bertepatan saat di Mekkah.

Tepat kandunganku berusia 8 bulan, aku merasakan seperti kontraksi usai menjalankan Tahajud. Dengan sekuat tenaga, aku memohon agar Allah memberikan dan menunjukkan kekuasaan-Nya semoga aku bisa lahir malam itu juga.

“Tunjukkan kebesaran-Mu, ya Allah. Kabulkanlah doa hamba-Mu yang lemah ini.” Akhirnya lahirlah anakku, Ismail.

Masalah Menjadi Mudah

Lahirnya Ismail membuatku lega. Problem pelik itu sudah teratasi. Dengan demikian, insya Allah aku bisa beribadah dengan khusyuk. Tapi doa tetap tak putus-putus kupanjatkan, semoga tak ada yang ketinggalan baik yang wajib maupun sunnah-sunnahnya. Berharap memasuki Madinah dalam keadaan suci agar bisa ikut shalat Arbain di Masjid Nabawi.

Kekuatan doa memang dahsyat. Doa-doaku dikabulkan. Tepat sebulan setelah melahirkan, aku berangkat ke tanah suci. Aku sangat bersyukur karena bisa menunaikan hal-hal penting yang sebelumnya telah kususun rapi dari rumah. Semuanya berjalan lancar. Bahkan ada beberapa kejadian langka sekaligus menarik dan membuat aneh bagi kebanyakan orang.

Sewaktu di Mekkah, misalnya, sehabis melakukan umrah ba’da shalat Dzuhur. Aku ke pasar beli sejumlah keperluan dan kembali ke masjid untuk iktikaf sambil menunggu shalat Ashar. Hanya aku bingung mau dikemanakan belanjaan yang kutenteng ini, sementara di dalam masjid tak diperkenankan membawa barang-barang. Tapi aku berdoa agar Allah mengijinkanku masuk ke masjid sambil membawa kresek plastik yang isinya belanjaan.

Plastik kresek itu kurapikan. Dengan membaca bismillah dan berdoa, “Ya Allah izinkan aku masuk ke masjid-Mu sambil membawa barang-barang belanjaan. Andaikata Engkau tidak mengizinkan, apakah aku akan shalat di luar. Aku ingin shalat di dalam masjid. Kalau belanjaanku ditinggal di luar masjid, pastilah disita oleh laskar-laskar. Aku takut tidak bisa khusyuk dalam shalatku.”

Tatkala berpapasan dengan laskar, aku mengajak bicara sambil jalan miring. Laskar tersebut hanya bengong, tidak paham apa yang aku ucapkan karena aku bicara dengan bahasa Indonesia. Akhirnya aku selamat sampai ke dalam masjid. Sampai jamaah haji yang lain bertanya-tanya bagaimana caranya bisa lolos dari pemeriksaan laskar padahal penjagaan laskar sangatlah ketat.

Di saat lain, aku juga diperkenankan untuk mengambil zam-zam dari dalam masjid beberapa liter yang kutaruh ke dalam beberapa botol aqua. Padahal mengambil zam-zam dari dalam masjid untuk dibawa keluar dilarang oleh laskar. Ini pula yang dialami suamiku. Tatkala ia keluar dengan tentengan botol-botol aqua, justru dirampas dan dibanting oleh laskar. Begitu pula dengan jamaah lain.

Suamiku saja niatnya mengambil zam-zam dari dalam masjid keluar dengan tangan kosong. Aku memang ngotot dan paling suka, setiap keluar dari masjid selalu membawa air zam-zam. Biasanya aku membawa beberapa botol yang kutaruh di kantong  bungkus makanan. Botol-botol itu aku tutup dengan mukena. Di samping itu, aku juga membawa kantong plastik besar yang aku kantongi untuk jaga-jaga kalau botol dirampas masih punya cadangan kantong plastik yang memuat 5 -10 L  air zam-zam.

Karena suamiku tak mendapatkan zam-zam, giliranku masuk ke masjid. Aku melangkah sambil tetap berzikir memohon agar laskar berbaik hati. Tak berselang lama, aku sudah keluar.

“Ya Abdallah. Ana Siti Rahmah Indonesia, zam-zam halal?” kataku sambil menepuk bahu laskar dan menunjukkan kantong plastik.

“Ya Siti Rahmah, Indonesia halal. Zam-zam halal,” jawab laskar tersebut.  Laskar yang tadinya tampak sangar, ternyata malah tersenyum memperbolehkan.

“Syukran.. syukran ya Abdallah,” sahutku.

Aku keluar menemui suamiku yang bingung karena aku mendapatkan zam-zam dengan mudah.

Peristiwa unik lain adalah saat di Arafah; usai wukuf, dimana tenda-tenda sudah dirobohkan sambil menunggu diberangkatkan ke Muzdalifah. Saat membaca al-Qur’an, antara sadar dan tidak sadar, di sampingku berdiri seorang bergamis coklat muda di pinggirnya dihiasi warna hitam. Ia memberikan sepotong roti mesis berbentuk segitiga. Dari sebelah kanan, ia menyodorkan bolunya supaya aku terima. Dalam hatiku, siapakah lelaki ini kok tiba-tiba muncul dan berbaik hati menawarkan sepotong roti. Padahal di sekelilingku berjubel orang dengan berbagai aktivitasnya, tetapi kenapa orang asing itu hanya mendekatiku sembari menawarkan sesuatu.

Awalnya aku acuhkan begitu saja, sambil terus mengaji. Lama-kelamaan aku penasaran, menengok dan menerima pemberian bolu tersebut. Anehnya begitu pemberian itu kuterima, sosok laki-laki asing tersebut berkelebat dan langsung hilang dari hadapanku. Ini sungguh aneh dan menimbulkan tanda tanya.

Berbagai kejadian unik, mulai sebelum pemberangkatan hingga di tengah-tengah manasik, patut aku syukuri. Mungkin terlalu sederhana bila aku mengatakan semuanya berkat kebiasaanku mendawamkan doa dan zikir, namun aku merasakan adanya kemudahan-kemudahan. Bisa jadi, ini bagian dari cara Allah membahagiakan hatiku agar aku lebih istiqamah dalam beribadah. (Sebagaimana dikisahkan Hj. S kepada Herry M)

 

LEAVE A REPLY