Penjara, Buku & Umrah

0
118

hercules-rosario-marshal

Mohammad Hatta, Wakil Presiden Indonesia (1902-1980) berkata, “Aku rela di penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.”

Sebuah pandangan yang luar biasa, kata saya. Di saat orang phobia terhadap penjara, Sang Proklamator itu tidak takut dengannya. Asalkan, ia bisa bersama buku. Ya, buku nampaknya akan bisa menemani hari-hari sepinya jika ia dipenjara.

Satu pelajaran apa yang bisa kita petik dari sini adalah soal cinta. Cinta bisa membuat seseorang lupa akan rasa sakit. Cinta juga bisa membunuh rasa takut. Dengan cinta, damai akan selalu bersamanya, meski ia berada di tengah hutan sekalipun.

Mohammad Hatta
Mohammad Hatta

Bagi Hatta, harta terbesar yang paling dicintainya mungkin adalah buku. Bersama buku, ia merasakan cinta yang luar biasa. Dengan membaca buku, ia seperti mendapatkan kedamaian. Karena itu, ia rela dipenjara asalkan bersama buku di sisinya. Dengan membaca buku, ia merasa bebas.

Hari ini saya membaca kisah Hercules Rozario Marshal atau cukup dipanggil dengan Hercules yang sedang disidang di PN Jakarta Barat, Jalan Letjen S Parman, Jakarta, karena kasus penguasaan tanah milik PT Nila Alam Kalideres, Jakarta Barat, disertai kekerasan pada 8 Agustus 2018.

Atas tindakannya, Hercules bersama anak buahnya: Handy Musawan, Sopian Sitepu, Fransisco Soares Rekardo, saksi Raymundus Kabosu dan Maman Khermawan terancam masuk penjara. Mereka didakwa tiga pasal, yaitu Pasal 170 Ayat 1 KUHP juncto Pasal 55 Ayat 1 ke-1 KUHP, Pasal 335 Ayat 1 ke-1 KUHP juncto Pasal 55 Ayat 1 ke-1 KUHP, dan Pasal 167 ayat 1 KUHP juncto Pasal 55 Ayat 1 ke-1 KUHP.

Hercules tidak mengajukan eksepsi (keberatan) atas dakwaan jaksa penuntut umum tersebut. Namun Hercules mengajukan permohonan menjadi tahanan kota.

Selain itu, satu hal lagi yang dipinta oleh Hercules. Ia meminta majelis hakim mempercepat masa persidangan karena ingin menunaikan ibadah umrah dalam waktu dekat.

“Setelah kami berunding, mohon kepada yang mulia, bagaimana persidangan ini dua kali dalam satu minggu, mengingat bapak Hercules akan mengajukan umrah,” kata Anshori Thoyib, Kuasa Hukum Hercules di persidangan, Rabu (16/1/2019).

Menurut penuturan jaksa, ada 24 saksi yang akan dihadirkan dalam persidangan Hercules. Anshori pun meminta hakim untuk mengadakan sidang dua kali dalam seminggu.

“Kita lihat dulu yang hadir sidang bisa berapa, kalau lima bisa kita periksa. Kalau kemungkinan satu kali semoga ya dua kali seminggu,” jawab hakim.

Demikian yang terjadi dengan Hercules. Terlepas dari semuanya itu, ada satu garis merah antara Hatta dan kasus Hercules. Jika yang pertama rela dipenjara asalkan ditemani oleh buku-buku, satunya lagi (mungkin) rela dipenjara (tahanan kota) asalkan bisa menunaikan umrah terlebih dahulu.

Entah, apa yang ada dalam pikiran dan benak Hercules saat itu? Kenapa dalam kasus yang sedang membelitnya, ia ingin pergi umrah? Apakah ia sedang mencari petunjuk di tanah suci? Ataukah ia sedang mencari penenang atas kasus yang dihadapinya?

Yang jelas, saya teringat dengan perkataan Lao-Zu, filsuf Tiongkok, “Ketenangan merupakan sumber kekuatan yang besar.”

Apakah Hercules sedang mencari ketenangan dengan rencana pergi umrah untuk mengumpulkan kekuatannya yang sedang tercecer?

Hanya Hercules dan Tuhan yang mengetahuinya. (*)

 

LEAVE A REPLY