Haji dan Kebahagiaan Sejati

0
86

 

haji-mabrur

Bertrand Russel, filsuf dan peraih nobel sastra (1872-1970) berkata, “Satu-satunya cara untuk menemukan kebahagiaan sejati adalah dengan mengambil resiko untuk terluka.” Saya sepakat dengan ungkapan ini. Artinya, untuk mendapatkan suatu kebahagiaan sejati tidaklah mudah. Banyak jalan dan liku yang harus dilalui. Tidak datang begitu saja. Dia butuh pengorbanan untuk mencapainya.

Baik dalam cinta, rumah tangga, pekerjaan, olahraga, profesi dan sebagainya, tetap butuh pengorbanan untuk mendapatkan kebahagiaan sejati. Demikian juga dalam ibadah haji.

Pertanyaan saya, “Apa kebahagiaan sejati dalam suatu perjalanan spiritual ke tanah suci?”

Jawabannya adalah ketika hajinya atau umrahnya diterima oleh Allah swt. Alias, ia mendapatkan haji atau umrah yang mabrur (maqbul). Inilah puncak kebahagiaan seorang jamaah haji atau umrah. Inilah yang dinamakan sebagai kebahagiaan sejati.

Namun, tidak mudah untuk bisa meraihnya. Butuh perjuangan dan pengorbanan (terluka) yang tidak mudah. Seseorang untuk mendapatkan haji mabrur misalnya, harus melalui proses-proses yang berliku sebelumnya, seperti: harta yang dipergunakan untuk mendaftar ibadah haji berasal dari harta yang halal, menjalankan syarat dan rukun hajinya dengan benar, tidak berbuat mafsadat (kerusakan) selama ibadah haji, dan sebagainya.

Dengan kata lain, selain menjalankan proses-proses terbaik yang harus dipenuhi selama ibadah haji, ia juga harus melakukan amaliah-amaliah terbaik (ahsan) ketika masih berada di Indonesia. Dalam bahasa Imam al-Qurthuby, haji mabrur adalah haji yang sempurna hukum-hukumnya sehingga terlaksana secara sempurna sebagaimana yang dituntut.

Karena itu, seorang pencuri yang mendapat uang curiannya untuk dipergunakan pergi haji, sulit baginya untuk mendapatkan haji yang mabrur. Demikian juga seorang koruptor yang menggunakan uang hasil korupsinya untuk ibadah haji, sulit baginya untuk mendapatkan haji yang mabrur. Sebab, syarat awal untuk mendapatkan haji mabrur, yaitu harta yang baik (halal) sudah diabaikan olehnya.

Maka dari itu, penting untuk memperhatikan banyak hal agar mendapatkan haji mabrur. Bahkan, meski kamu harus terluka dan tertatih-tatih untuk meraihnya. Sebab, tak mudah untuk meraih kesuksesan itu. Jika dalam karir saja dibutuhkan kerja keras, demikian juga dalam beribadah kepada Allah swt.

Namun, yang harus kamu ketahui bahwa untuk meraih haji mabrur, seseorang tak harus pergi haji. Sebab, ada kisah bagaimana seseorang yang mendapatkan pahala haji mabrur tidak harus pergi haji. Dikarenakan uang yang sedianya dipakai untuk ongkos pergi haji,  disedekahkan pada orang yang jauh lebih membutuhkan. Di sinilah, peran ikhlas dan tulus dalam beribadah kepada Allah menjadi “nilai dominan” untuk mendapatkan haji mabrur, dibanding sekedar ritual-ritual yang terlihat. Untuk persoalan ini, yakni dapat haji mabrur tapi tak berangkat haji, akan dijelaskan dalam perkara atau kesempatan yang lain.

Yang jelas, berbahagialah bagi jamaah yang mendapatkan haji mabrur. Sebab, balasannya tak lain adalah surga. Nabi saw. bersabda,  “Haji Mabrur tidak ada ganjarannya kecuali surga.” (HR. Bukhari-Muslim)

LEAVE A REPLY