Sejak Diberlakukan VFS Tasheel, Jamaah Umrah Turun Drastis

0
309
Jamaah umrah sedang sai di Masjidil Haram.
Jamaah umrah sedang sai di Masjidil Haram.

HAJIUMRAHNEWS – Sejak diberlakukannya kebijakan rekam biometrik oleh Kedutaan Besar Saudi Arabia (KBSA) sebagai syarat bagi pemohon visa umrah pada 17 Desember lalu, jumlah calon jamaah umrah mengalami penurunan secara drastis. Jika sebelum diterapkan aturan tersebut KBSA menerbitkan mencapai kurang lebih 100 ribu visa umrah, maka sejak aturan itu berlaku hingga hari ini baru tercatat sebanyak 10 ribu jamaah.

“Ini tanda-tanda sudah menurun  drastis  dari sisi jumlah jamaah yang akan berangkat umrah. Dan sepertinya akan lebih kelihatan di bulan berikutnya Februari, Maret dan seterusnya sampai selesainya musim  umrah tahun 1440 Hijriyah,” kata Ketua Bidang Umrah Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (DPP AMPHURI), Islam Saleh Alwaini, kepada hajiumrahnews.com, di Jakarta pada Rabu, (9/1).

Menurutnya, AMPHURI sendiri, sejak tanggal 19 Desember dimana kebijakan rekam biometrik yang dioperatori oleh VFS Tasheel, total paspor yang di-stamp visa umrah  sampai 31 Desember lalu tercatat hanya  4.273 jamaah. Padahal sebelumnya di periode yang sama bisa mencapai puluhan ribu jamaah.

Islam menegaskan ini semua disebabkan lantaran diberlakukannya rekam biometrik VFS –Tasheel di Indonesia  Malah, kata Islam, kondisi yang sama juga ditemui di negara-negara lain seperti  di Mesir,  Pakistan  dan Aljazair. “Saya dapat laporan dari muassasah-muassasah umrah di Saudi,” kata Islam.

Bagi AMPHURI dan seluruh asosiasi haji umrah yang tergabung dalam Permusyarawatan Antar Travel Umrah dan Haji Indonesia (PATUHI) keberadaan VFS Tasheel di Indonesia menyulitkan dan menambah masalah saja. Sebab, secara perijinan, VFS Tasheel sebagai sebuah perusahaan tidak punya izin, hanya mengantongi izin dari Badan Kordinator Penanaman Modal (BKPM) sebaga travel agent.

Selain itu, dalam pelayanannya, masyarkat muslim Indonesia yang mau berangkat umrah merasa tidak puas atas pelayanan VFS Tasheel. “Bahkan cenderung menyulitkan calon jamaah,” katanya.

“Jika dua hal ini sudah jelas,  pemerintah  segara  menggantikan proses  VFS Tasheel  serta  mencabut izinya,” imbuh Islam.

Direktur Utama Asamulia Tour&Travel, H. Islam Saleh Alwaini, saat demo tentang VFS-Tasheel awal Oktober lalu di depan Kedutaan Besar Saudi Arabia (KBSA) di Jakarta. (ist)
Ketua Bidang Umrah DPP AMPHURI, H. Islam Saleh Alwaini, saat demo tentang VFS-Tasheel awal Oktober lalu di depan Kedutaan Besar Saudi Arabia (KBSA) di Jakarta. (ist)

Baik AMPHURI maupun PATUHI, menilai VFS-Tasheel sebagai operator perekaman biometrik calon jamaah umrah, tidak siap menyediakan infrastruktur berupa tempat atau kantor perekaman. “Tempat yang dibuka di beberapa daerah pun tidak memadai. Belum lagi sistem online yang sering error dan loading terlalu lama,” ujarnya.

Tidak hanya itu, proses rekam biometrik oleh VFS Tasheel ini menimbulkan banyak beban biaya dan waktu yang akhirnya berujung sangat menyulitkan masyarakat muslim yang hendak umrah. “Anehnya, meski biometrik sudah dilakukan di Indonesia, tapi begitu tiba di Saudi jamaah kembali harus melalui proses sidik jari di Imigrasi sana. Sudah dipersulit di dalam negeri, dipersulit pula di luar negerinya,” tegasnya.

Akibatnya, lanjut Islam, dampak lain dari penerapan rekam biometrik VFS Tasheel ini minat masyarakat untuk umrah pun menurun drastis. Sementara para pengusaha penyelenggaraan ibadah umrah harus melakukan penjadwalan ulang keberangkatan umrah, karena terkendala aturan VFS Tasheel ini.

Sementara Kasubdit Pemantauan dan Pengawasan Umrah dan Haji Khusus, Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Agama, Noer Alya Fitri mengatakan, Kemenag menghormati kebijakan Arab Saudi tentang penerapan biometrik untuk syarat pengajuan visa. , Akan tetapi, pihaknya telah meminta agar ditunda sampai VFS Tasheel siap melayani di semua kabupaten/kota.

Kemenag, kata pria yang biasa disapa Nafit ini, masih terus berkoordinasi dengan BKPM selaku pemberi izin operasional PT Tasheel untuk meminta peninjauan kembali terhadap izin yang dikeluarkan. “Ijinnya adalah biro perjalanan wisata, sementara yang ada di lapangan adalah pengambilan biometrik,” kata Nafit.

Nafit menambahkan bahwa sejak per September 2018 hingga hari ini jumlah jamaah umrah baru tercatat 326.479 jamaah. (hai)

LEAVE A REPLY