Lewat Ngobras, Menag Dengar Curhatan Anak Buahnya

0
43

509735

HAJIUMRAHNEWS – Kementerian Agama menggelar Ngobrol Santai bareng Menteri Agama (Ngobras) di Auditorium HM Rasjidi Kemenag. Acara ini digelar sebagai rangkaian Hari Amal Bhakti (HAB) Kementerian Agama. Dibentuk 3 Januari 1946, Kemenag kini sudah berusia 73 tahun.

Ngobras diikuti jajaran pejabat Eselon I hingga IV Kementerian Agama pusat. Seribuan ASN keluarga besar Kemenag juga hadir memadati auditorium. Tidak sedikit pula yang mengambil tempat di selasar lobby Gedung Kemenag yang berlokasi di Jalan MH Thamrin No 6 Jakarta.

Berbeda dengan biasanya, Menag lebih banyak mendengar. Ngobras dimanfaatkan olehnya untuk lebih banyak mendengar kesan jajarannya selama bekerja di Kemenag.

“Beras bukan sembarang beras, beras Cianjur enaknya tiada terkira. Ngobras bukan sembarang Ngobras, Ngobras kali ini bersama ASN Kemenag sungguh luar biasa,” kata Menag diikuti tawa dan tepuk tangan ASN Kemenag.

Menag mengaku ingin menggunakan kesempatan Ngobras untuk berdialog, bukan monolog. “Siapakah di sini yang paling lama bekerja? 30 tahun, di atas 35 tahun, atau bahkan di atas 40 tahun?,” tanya Menag.

Berdiri Andi Sugandi, ASN Kemenag yang betugas sebagai Protokoler Menag. Dia sudah bekerja di Kemenag selama 35 tahun, tepatnya sejak 1985, di zaman Menag Munawir Sjadzali.

Ada lagi, Khomsatun yang sudah bekerja sejak masa Menag Alamsjah. Dia masuk Departemen Agama (sekarang Kemenag) pada 1983. Kepada Menag, Andi Sugandi dan Khomsatun menyampaikan kesan-kesannya.

“Pada 1983, PNS mendapat Natura setiap bulan. Bentuknya, gula, kopi, kecap, beras, minyak, dan lainnya. Setiap hari, PNS juga dapat makan. Tapi, sejak 1985, Natura sudah tidak ada lagi,” ujar Khomsatun.

Menurutnya, kalau ada teman yang tidak datang, bagiannya bisa dibawa pulang. Saat itu gaji PNS atau ASN masih 16.000. Jadi mendapatkan Natura itu sangat membantu mereka.

Pegawai lainnya adalah Putri, honorer di Ditjen Bimas Islam dan Dery dari Bagian Keamanan di Biro Umum. Kepada mereka berdua, Menag menanyakan tentang hal yang paling mengecewakan selama di Kemenag?

“Semakin anda bicara apa adanya, saya semakin hormat kepada anda,” kata Menag.

Putri merasa selama dirinya menjadi honorer, masih ada perbedaan antara PNS dan honorer.

“Honorer sering mendapat limpahan pekerjaan dari para ASN. Kalau ASN naik gaji, honorer juga naik gaji dong, Pak,” pinta Putri.

Lalu, Menag bertanya pada Dery soal apa tindakan ASN yang sangat mengganggu tugasnya sebagai keamanan?

Dengan sigap Dery menjawab bahwa parkir mobil para pejabat masih ada yang di rem tangan.

“Hal ini mengakibatkan susah untuk dipindahkan jika lahan parkir sudah tidak memadai,” ujar Dery.

Menag Lukman lalu menyampaikan, setiap orang pasti memiliki masalah. Masalah bagi Menag adalah cara Tuhan memberi peluang kepada manusia agar hidupnya menjadi lebih hidup.

“Sebenarnya, ketika kita punya masalah, itulah cara Tuhan memberikan kita berkah, agar kita merasa hidup, hidupnya itu hidup,” kata Menag.

Termin kedua, Menag kembali mengundang ASN Kemenag naik ke atas panggung untuk berbagi kisah. Giliran Zaenal Muttaqien, dia sudah bekerja selama 24 tahun 7 bulan di Kemenag. Kepadanya, Menag memberi tantangan untuk menyebutkan lima nama-nama Menteri Agama. Dengan lugas Zaenal menjawab KH HM Rasjidi, Wahid Hasyim, Faturrahman, M Dahlan, Mukti Ali dan Alamsjah.

Lalu ada Deva, staff Peneliti Puslitbang Pusat I. Menag Lukman bertanya tentang makna kerukunan umat beragama? Deva menjelaskan bahwa Indonesia adalah negara yang majemuk.

“Di Kemenag, saya bisa bersahabat dari semua agama, saling canda, kita ceritanya bebas, dan saling berbagi. Itu makna kerukunan bagi saya,” kata Deva.

Ada lagi Dzurotun Ghola. Selain penyuluh agama, dia juga pendiri Komunitas Rumah Penyuluh Kreatif (RPK) yang fokus memperhatikan para pemulung. Ghola berharap Kemenag lebih memperhatikan ruang belajar anak jalanan atau pemulung.

“Kita dakwah di lapak-lapak pemulung, tidak dapat apa-apa. Mohon untuk kami yang berdakwah di lapak ini dapat diperhatikan, Pak Menteri,” pinta Gola.

Menag merasa mendapat banyak informasi dari ngobrol dengan jajarannya. Menag lalu mengingatkan ASN Kemenag agar selalu merasa menjadi satu kesatuan. Ibarat mobil, ada mesin, roda, rem, setir, besin dan lain-lain, semuanya saling berkaitan untuk dapat menggerakan mobil.

“Semuanya penting, saling membantu satu sama lainnya,” kata Menag.

Menurut Menag, pemahaman ini penting, bahwa masing-masing ASN,  apapun golongannya, pejabat, staff, di unit manapun, semuanya punya fungsi masing-masing, dan punya nilai masing-masing.

“Kita satu tim di Kemenag,” tambah Menag.

Menag juga mengingatkan bahwa ASN Kemenag tidak semata bekerja pada lembaga negara, tapi juga bertugas merawat ke Indonesiaan. ASN Kemenag ikut bertanggung jawab dalam membangun peradaban. Apalagi, agama dalam konteks global semakin diperlukan.

“Saya bersyukur di usia 73 tahun, Kemenag masih tetap esksis. Mari sama-sama kita menjaga dan mengembangkannya di masa-masa yang akan datang,” tutup Menag. (*)

LEAVE A REPLY