Proses Rekam Biometrik VFS Tasheel Benar-Benar Menyulitkan Jamaah

0
452
Kondisi antrean calon jamaah umrah di kantor VFS Tasheel Medan yang berlokasi di Cambridge City Square Medan. (dok)
Kondisi antrean calon jamaah umrah di kantor VFS Tasheel Medan yang berlokasi di Cambridge City Square Medan.
Kondisi antrean yang semrawut calon jamaah umrah di kantor VFS Tasheel Medan yang berlokasi di Cambridge City Square Medan. Banyak diantaraa mereka mengeluhkan aturan baru yang menyulitkan hanya untuk mendapatkan visa Umrah.

HAJIUMRAHNEWS – Aturan baru yang diberlakukan Kedutaan Besar Saudi Arabia (KBSA) yang mewajibkan melampirkan rekam biometrik untuk mendapatkan visa umrah kembali diprotes para calon jamaah umrah. Pasalnya, proses perekaman biometrik di VFS Tasheel menyulitkan, baik dari segi waktu, tenaga, maupun biaya yang lumayan besar hanya untuk mengikuti proses biometrik.

“Terlebih bagi masyarakat muslim, khususnya calon jamaah umrah yang berasal dari luar kota, harus menempuh jarak delapan sampai belasan jam untuk datang ke Medan, dimana lokasi VFS-Tasheel berada. Ini benar-benar menyulitkan calon jamaah,” kata Ketua Dewan Pimpinan Daerah Asosisasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia Sumatera Bagian Utara (DPD AMMPHURI Sumbagut), Maulana Andi Surya, Lc, dalam pesan singkatnya melalui aplikasi pesan elektronik kepada hajiumrahnews.com, pada Jumat (21/12).

Malah, kata Maulana, ada jamaah asal Bangka Belitung yang telah daftar umrah di Medan harus mengurungkan niatnya untuk umrah, lantaran tidak bisa cuti hanya untuk melakukan biometrik. Hanya untuk ke sini (kantor VFS Tasheel), calon jamaah harus naik pesawat ke Palembang memakan waktu satu jam penerbangan, karena di Bangka Belitung tidak ada kantor VFS Tasheel.

“Ini hanya salah satu contoh saja dan masih banyak lagi yang merasa kesulitan bahkan menambah biaya yang lumayan besar hanya untuk proses biometrik ini,” ujarnya.

Maulana yang tengah berada di lokasi pengambilan rekam biometrik di Medan menambahkan,  keberadaan kantor VFS Tasheel juga belum siap untuk melayani calon jamaah. Dampaknya, antrian panjang di lantai dasar Cambridge City Square (kantor VFS Tasheel Medan) tak bisa dielakkan. “Proses ini tidak hanya menyulitkan jamaah, tapi lantaran antri yang panjang cukup melelahkan,” kata Maulana, owner sekaligus Direktur Utama Darul Iman Travel ini.

Menurutnya, sebagai pengusaha biro travel penyelenggara perjalanan ibadah umrah juga dibuat resah dengan adanya aturan baru ini. Jadi, kata Maulana, wajar  jika pihaknya yang bernaung di bawah asosiasi AMPHURI dan tergabung dalam Permusyarawatan Antar Travel Umrah dan Haji Indonesia (PATUHI) dengan tegas menolak keras penerapan proses biometrik yang dioperasikan VFS Tasheel.

Sebelumnya, dalam pernyataan sikapnya, PATUHI menolak dengan tegas adanya penerapan pelaksanaan proses biometrik VFS-Tasheel sebagai persyaratan untuk penerbitan visa umrah dan haji yang diberlakukan oleh KBSA. Hal ini, dilakukan sebagai rasa tanggungjawab dan keprihatinan kepada masyarakat muslim Indonesia yang hendak menunaikan ibadah ke Tanah Suci.

“Karena, persyaratan tersebut sangat memberatkan masyarakat muslim yang akan menunaikan ibadah ke tanah suci dengan pertimbangan kondisi geografis Indonesia,” tegas anggota Dewan Pembina PATUHI, Joko Asmoro dalam konperensi pers pernyataan sikap PATUHI terkait penerapan biometrik VFS-Tasheel di kantor DPP AMPHURI di Jakarta, Rabu, (19/12).

Kendati demikian, kata Joko yang juga Ketua Umum AMPHURI, PATUHI mengusulkan agar proses rekam biometrik VFS-Tasheel dapat dilakukan di bandara keberangkatan tanpa dikaitkan dalam proses penerbitan visa umrah dan haji. “Ini merupakan tindaklanjut dari kesepakatan kami dalam melindungi dan membantu masyarakat yang merasa dirugikan oleh kebijakan tersebut,” ujarnya. (hai)

LEAVE A REPLY