Jangan Sampai Kita Kehilangan Peluang Beribadah

0
68
Kyai Anang bersama Pangdam Diponegoro Mayjen TNI Wuryanto. (foto:arm)
Kyai Anang bersama Pangdam Diponegoro Mayjen TNI Wuryanto. (foto:arm)
Kyai Anang bersama Pangdam Diponegoro Mayjen TNI Wuryanto. (foto:arm)

Jangan Sampai Kita Kehilangan Peluang Beribadah

Oleh KH. Anang Rikza Masyhadi, MA (Pimpinan Pondok Modern Tazakka)

HIDUP adalah untuk ibadah. Ini orientasi hidup mukmin, dan inilah yang membedakan kita dengan orang kafir. Hidup bukan sekedar bekal dunia, tetapi juga akhirat. Banyak ayat menerangkan hal itu.

Jangan sampai seorang mukmin kehilangan peluang beribadah. Bencana pada diri kita berawal saat kita kehilangan kesempatan beribadah dan disibukkan oleh urusan duniawi.

Orang lain bisa shalat, kita tidak; orang lain bisa puasa, kita tidak; orang lain bisa wakaf, kita tidak; orang lain bisa zakat, kita tidak; orang lain punya waktu baca Quran, kita tidak; orang lain punya waktu wiridan, kita tidak; orang lain bisa ikut pengajian, kita tidak.

“Orang yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli dari mengingat Allah, melaksanakan shalat, dan menunaikan zakat. Mereka takut kepada hari ketika hati dan penglihatan menjad guncang (hari Kiamat).” (QS. An-Nur [24]: 37)

“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk melaksanakan shalat pada hari Jum‘at, maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Jumuah [62]:9)

Biasanya seseorang awalnya akan merasa sulit mengerjakan perintah Allah dan Rasul-Nya, dengan berbagai alasan ini dan itu, alasan yang tidak ada habis-habisnya. Ujung-ujungnya nanti tidak melakukan apapun yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya. Saat itu dia kehilangan kesempatan beribadah.

Waspadalah situasi seperti ini, karena saat hal itu terjadi firman Allah berikut inilah yang akan berlaku: Sebagaimana dalam AlQuran Surat Al-A’raf, disebutkan, yang artinya:  “Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, akan Kami biarkan mereka berangsur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui.” (QS. Al-A’raf [7]: 182)

“Berangsur-angsur ke arah kebinasaan” itu disebut istidraj; yaitu orang diberi ni’mat terus tapi lupa pada Yang Memberi Ni’mat, membangkang dan bahkan mendustakan-Nya.

“Dengan cara yang mereka tidak ketahui”, maksudnya kita tidak menyadarinya, tiba-tiba semuanya sudah terlambat; terlambat untuk kembali ke jalan yang benar; terlambat bertobat; terlambat untuk berubah. Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.

Kelak kamu akan mengetahui akibat perbuatanmu itu. Sekiranya kamu mengetahui dengan pasti, niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahim, kemudian kamu benar-benar akan melihatnya dengan mata kepala sendiri, kemudian kamu benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan (yang megah di dunia itu. (*)

Catatan: Naskah ini dapat dicopy di aplikasi Wakaf Tazakka. Segera download/install dari Playstore, Anda akan mendapatkan artikel-artikel bermanfaat, dan informasi-informasi penting tentang zakat, infak dan wakaf.

LEAVE A REPLY