Nining : Menyulap Sampah Jadi Rupiah, Memang Menggiurkan

0
94
Peneliti senior Fakultas Ekonomi Bisnis UI, Dr. Ir. Nining Soesilo, MA saat menyampaikan sambutan di pembukaan Pelatihan Menyulap Sampah Menjadi Rupiah yang digelar di Kawasan Wisata Halal Baduy Outbound, Serang, Minggu (15/7). (foto:hun)
Peneliti senior Fakultas Ekonomi Bisnis UI, Dr. Ir. Nining Soesilo, MA saat menyampaikan sambutan di pembukaan Pelatihan Menyulap Sampah Menjadi Rupiah yang digelar di Kawasan Wisata Halal Baduy Outbound, Serang, Minggu (15/7). (foto:hun)

HAJIUMRAHNEWS–Menyulap sampah menjadi lembaran rupiah bukan hanya sekedar omongan belaka. Buktinya, sampah setelah diproses kemudian menghasilkan air lindi untungnya begitu menggiurkan. Hal ini sebagaimana yang telah dilakukan warga di Desa Sukamanah, Kecamatan Baros, Kabupaten Serang, Banten.

Demikian disampaikan Tim Pengabdian Masyarakat Universitas Indonesia (UI), Nining I Soesilo dalam keterangan resminya yang diterima hajiumrahnews.com pada Kamis, (6/12).

“Bagaimana masyarakat bisa mengemasnya dalam botol dan menjual pupuk cair ini seharga Rp 20.000 dari sesuatu yang tadinya dibuang percuma saja,” kata Nining sembari menegaskan bahwa kegiatan ini berbeda dengan bank sampah yang biasa dikenal masyarakat, karena yang digarap adalah air lindi, atau pupuk cair organik.

Nining menjelaskan, bahan dasar air lindi ini adalah bahan organik berupa aneka bahan sisa sayuran, seperti kangkong, kol, sawi, wortel, kulit bawang, atau kulit buah. Dapat juga berupa aneka sampah kulit buah, seperti  kulit semangka, kulit jeruk, kulit nanas, kulit nangka matang, kulit durian, kulit buah naga, kulit papaya, kulit manggis.

“Bahkan bisa juga dicampur  dengan aneka daun tanam, pekarangan, seperti : daun sri rejeki, daun manga dan sejenisnya, batang dan daun sirih, hiasan dekorasi sehabis pesta (dipotong). Jika memproduksi bagus juga bila ditambah kotoran ternak piaraan,” jelasnya.

Lebih lanjut, Nining menjelaskan, adapun cara penggunaan pupuk cair organik (setelah dipanen dan fermentasi) adalah tiap 5 mililiter pupuk cair organik dicampur dengan 1 liter air (1:200), kemudian siram atau semprotkan pada tanaman yang dimaksud. Dalam hal ini pemupukan dapat dilakukan setiap minggu sekali

Uniknya, kata Nininng, dari kegiatan ini adalah adanya antusiasme masyarakat dari adanya inisiasi kemitraan pengabdian masyarakat sebuah universitas  yang bernama UI yang mungkin lebih dikenal sebagai universitas yang mengedepankan kegiatan ilmiah. Tetapi yang satu ini beda, karena kegiatan ini ternyata tidak saja diminati oleh masyarakat, tetapi juga swasta dan  juga pemda.

“Jadilah ini kombinasi yang  unik yang dalam bahasa kerennya disebut sebagai Quadrupule Helix karena adanya empat pihak yang saling bersinergi. Ini merupakan  sebuah proses sinergi antara akademisi, swasta, pemerintah dan civil society,” paparnya.

Tentu saja, lanjutnya, jenis kewirausahaan ini berbeda dengan kewirausahaan yang biasa. Ini adalah kewirausahaan sosial yang merupakan solusi dalam menyelesaikan masalah sosial di masyarakat, seperti sampah yang menjadi penyebab bau, sumber penyakit dan sengketa warga.

Nining menambahkan, pelatihan kewirausahaan yang dimaksud telah dilaksanakan pada tangal 15 Juli 2018 dan diperuntukkan bagi masyarakat sekitar Kecamatan Baros Kabupaten Serang. Pelatihan dilakukan langsung oleh tim dari Pengmas UI yakni Dr Rambat Lupiyoadi, dengan didampingi pihak swasta yaitu founder sekaligus CEO Gaido Group, Muhammad Hasan Gaido dan Direktur Koperasi BMI, Komar Batubara.

“Sementara saya sendiri menjadi moderator dalam pelatihan tersebut,” kata Nining yang juga tercatat sebagai Pembina UKM Center UI ini.

Dalam pelatihan kewirausahaan itu menghasilkan beberapa kesepakatan aksi antara lain, penyelesaian tempat dimana tong composter akan diletakkan, pengaktifan tim pengelola sebagai calon socialpreneur, pemanfaatan tong untuk pembuangan sampah organik bagi masyarakat, pemberian bioaktifator pada sampah secara berkala agar tidak bau dan media pembusukan, penyiapan lahan pertanian untuk percontohan penggunaan pupuk cair lindi, permanen  dan pemanfaatan pupuk cair lindi di lahan percontohan dan warga.

“Sampai dengan akhir bulan November 2018 seluruh kesepakatan rencana sudah berjalan. Ini terlihat dari indikator sudah berjalannya tim pengelola, sudah berjalannya secara rutin pemilahan dan pembuangan sampah organik ke tempat yang telah ditentukan. Tidak hanya itu, SOP pengeloalaan komposter sehingga sudah bisa menghasilkan pupuk cair (lindi) organis sudah berjalan sebagaimana mestinya,” ujarnya.

Peserta pelatihan foto bersama bersama para pembicara usai pelatihan Menyulap Sampah Menjadi Rupiah di Kawasan Wisata Halal Baduy OUtbound, Serang, Minggu, (15/7) (foto; hun)
Peserta pelatihan foto bersama bersama para pembicara usai pelatihan Menyulap Sampah Menjadi Rupiah di Kawasan Wisata Halal Baduy OUtbound, Serang, Minggu, (15/7) (foto; hun)

Pengolahan dan Pemanfaatan Pupuk Cair

Menurut Nining, sekitar tiga bulan masyarakat desa Sukamanah mulai menerapkan pengelolaan sampah yang baik, yaitu memilah dan membuang sampah organik rumah tangganya ke komposter di rumah atau di lokasi kegiatan pengmas. Bulan kedua dan seterusnya sudah mulai panen pupuk cair. Pupuk cair yang dihasilkan sementara ditampung dalam bak atau tong terbuka guna proses fermentasi sebelum digunakan untuk pemupukan.

Setelah beberapa hari tahap pengumpulan panen air lindi, mulai dijadikan pupuk cair. Hasil panen awal ini mulai diujicobakan di lahan pertanian milik warga di sekitar lokasi kegiatan pengmas. Alhamdulillah pemakain pupuk cair organik mampu meningkatkan kesuburan dan produktivitas.

Kemudian, setelah proses fermentasi, pupuk cair dikemas dalam botol-botol dalam beberapa ukuran. Pupuk cair yang dihasilkan ini melalui dana hibah dibeli sesuai harga pasar guna memancing dan memotivasi warga untuk terus mengelola sampahnya.

“Agar lebih terkoordinir sesuai kesepakatan pada pelatihan kewirausahaan kelompok usaha mikro yang sudah dibentuk yang terdiri dari sekitar 10-20 warga secara swadaya mengelola pengolahan dan pemasaran pupuk cair yang ada,” jelasnya.

Nining juga menjelaskan, kelompok usaha mikro ini melalui bimbingan tim pengabdi menyusun rencana kerja agar pupuk cair dapat dipasarkan keluar desa. Mereka membuat perencanaan usaha dipandu oleh tim pengemas yang antara lain dengan cara membentuk struktur organisasi, melakukan pembagian tugas, mengorganisir warga sekitar, menyiapakan pra produksi, melakukan pengemasan produk pupuk cair, peluncuran prototype produk pupuk cair serta menyusun rencana distribusi dan pemasaran.

“Pada bulan November 2018, pada tanggal 4 November produk pupuk cair warga Desa Sukamanah, Baros, Serang telah dapat diluncurkan. Peluncuran digabung bersama dengan kegitan post test kewirausahaan, sosialiasasi dan pelatihan partisipasi warga dalam pengolahan pupuk organik, bersama tim pegabdi UI,” kata Nining.

Sosialisasi penanganan air lindi ke dinas dan pemerintah daerah dan masyarakat setempat telah dilakukan. Selanjutnya, pada tahapan ini, pengabdi telah mengunjungi tokoh-tokoh masyarkat setempat untuk memberikan penjelasan terkait rencana proyek, diantaranya dari ketua RT, RW sampai kelurahan dan juga organisasi pemuda masyarakat sekitar agar bisa  merangkul dan melibatkan mereka.

Kemudian dilakukan inisiasi test ke masyarakat mengukur tingkat kemampuan kewirausahaan serta pengelolaan sampah masyarakat kemudian ada pelatihan kewirausahaan bagi masyarakat. “Tujuannya adalah menumbuhkan inisiator atau calon-calon wirausaha yang akan dipandu selama beberapa bulan agar mampu menjadi pengelola program ini secara berkelanjutan,” ujarnya.

Berikunya, ada pelatihan teknis yang ditujukan kepada calon wirausaha sosial dan warga penggerak yang akan memanfaatkan program ini dan memasok sampah. “Hal ini juga sebagai sarana edukasi bagi masyarakat,” imbuhnya.

Seperti diketahui, program pengabdian masyarakat UI ini sudah berjalan dua tahun. Program ini  dirancang  untuk berlangsung selama beberapa tahun yang  terdiri dari 4 tahap atau 4 tahun (seperti terlihat pada gambar). Pada tahap 1 adalah pengelolaan sampah sehingga terbentuk air lindi, tahap 2 adalah wisata sampah karena kegiatan ini mengambil tempat di baduy Outbound, tahap 3 adalah kegiatan “Zero Waste” dan terakhir replikasi best practice ke tempat lain.

Selain bisa dijual, maka air lindi juga bisa dipakai di ladang sendiri dan diperkirakan akan meningkatkan produktivitas petani sampai 70%. Bila ada sertifikat organic maka produk petani bisa dihargai lebih, bahkan bisa naik 100%. Nanti kalau sudah dijual ke umum, maka bisa diperoleh margin keuntungan antara Rp 22.000 per liter sampai dengan Rp 90.000 per liter.

“Kesimpulannya, siapa yang berani menolak bahwa bisnis air lindi ini memang menggiurkan?,” pungkasnya. (hai)

LEAVE A REPLY