Kemenag Rilis Simas, Aplikasi yang Berisi Data Masjid dan Mushalla di Indonesia

0
25
tampilan aplikasi Simas yang dirilis Kemenag RI pada Sabtu, (24/11)
tampilan aplikasi Simas yang dirilis Kemenag RI pada Sabtu, (24/11)

HAJIUMRAHNEWS – Untuk memudahkan akses publik atas data rumah ibadah, masjid dan mushala secara online, Direktorat Jenderal (Ditjen) Bimas Islam Kementerian Agama (Kemenag) merilis aplikasi Sistem Informasi Masjid (Simas). Di aplikasi ini, setidaknya data masjid dan mushala yang telah diinput sebanyak 511.899 unit.

“Hingga saat ini, data masjid dan mushalla yang telah diinput melalui aplikasi Simas sebanyak 511.899 unit. Jumlah ini terdiri dari 242.823 masjid dan 269.076 mushalla,” kata Kepala Biro Humas, Data dan Informasi, Mastuki dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Sabtu (24/11).

Menurutnya, seluruh data masjid dan mushalla yang tersaji di Simas sudah memiliki nomor ID Nasional Masjid. Data itu mencakup nomor identifikasi masjid atau mushalla, tipologi, lokasi, dan juga nomor urut pendataan. Data tersebut bisa diakses melalui http://simas.kemenag.go.id.

“Data pada Simas juga dilengkapi dengan GIS (Geographic Information System) sehingga lokasi masjid/mushalla dapat dipetakan dengan tingkat akurasi yang baik di atas peta dunia (citra satelit),” ujar Mastuki.

Adapun proses sosialisasi dan inputing data masjid dan mushalla ke aplikasi Simas sudah dilakukan sejak 2014. Kendati demikian, Mastuki mengakui bahwa belum semua masjid dan mushalla terdata di Simas. Namun, pendataan terus dilakukan oleh operator Kantor Urusan Agama (KUA). “Harapannya, seluruh data masjid dan mushalla pada setiap kecamatan terinput dalam Simas hingga 2019 mendatang,” ujarnya berharap.

Mastuki menambahkan, berdasarkan data terakhir yang dihimpun secara manual melalui Kanwil Kementerian Agama Provinsi, ada 741.991 rumah ibadah umat Islam di seluruh Indonesia, dengan rincian 296.797 masjid dan 445.194 mushalla. Artinya, masih ada sekitar 230 ribuan data yang masih dalam proses verifikasi dan validasi untuk kemudian diinput ke dalam Simas.

“Ini jelas bukan data final. Karenanya, kami juga mengundang pengurus masjid dan mushalla untuk pro aktif mendaftar,  utamanya bagi mereka yang belum memiliki ID Nasional Masjid dan Mushalla,” tuturnya.

Di setiap KUA, lanjut Mastuki, Kemenag sudah menugaskan PNS yang secara khusus bertanggungjawab dalam input data. Mekanisme ini dilakukan untuk memastikan entry dilakukan secara benar dan tepat sehingga data yang diinput akurat serta dapat dipertanggungjawabkan. Selain itu, ada juga mekanisme kontrol atau pengecekan yang dilakukan administrator pusat melalui akurasi koordinat Google Map.

“Jika ada masjid/mushalla berdasarkan laporan terkena musibah seperti roboh/hancur akan dilakukan pembaruan data. Pembaruan data rumah ibadah selalu dilakukan seiring dengan perkembangan situasi di lapangan,” jelasnya.

Kemenag sangat konsen dalam pendataan rumah ibadah. Sebab, data masjid dan mushalla sangat penting dalam proses pemberdayaan, baik fisik maupun SDM pengelola (takmir). Aplikasi Simas dibangun dalam kerangka itu.

Lebih lanjut, Mastuki menjelaskan, bahwa aplikasi yang dibangun sejak 2013 ini didesain sebagai bentuk layanan publik dalam upaya meningkatkan kualitas pengeloaan dan pemberdayaan potensi masjid dan mushalla Indonesia.

“Tujuan dari aplikasi ini adalah untuk memperluas layanan informasi dan data kemasjidan. Kemudian identifikasi dan pemetaan potensi maupun problematika masjid untuk optimalisasi pemberdayaan masjid; dan terakhir terwujudnya modernisasi layanan data bidang kemasjidan,” ujarnya.

Aplikasi Simas, lanjut Mastuki, menggunakan platform realtime online berbasis web-base sehingga mempermudah para admin atau operator dalam melakukan fungsi entry, verifikasi, dan validasi data masjid dan mushalla serta mempermudah mendapatkan dan menampilkan data-data kemasjidan dengan cepat kepada masyarakat luas. (hai)

LEAVE A REPLY