Sekjen Kemenag Sambut SOM MABIMS Akan Susun Tafsir Ilmi

0
35

509336

HAJIUMRAHNEWS – Negara anggota Senior Official Meeting (SOM) Menteri-Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS) bersepakat untuk menyusun tafsir ilmi. Kesepakatan ini menjadi salah satu rumusan dalam pembahasan bidang kerjasama antar anggota SOM, utamanya yang terkait dengan peningkatan kualitas kehidupan beragama.

Sidang hari kedua SOM MABIMS dipimpin oleh Setia Usaha Tetap Kementerian Hal Ehwal Ugama Brunei Dato Seri Setia Awang Haji Abdul Aziz bin Orang Kaya Maharaja Lela Haji Yussof. Sementara delegasi Indonesia dipimpin oleh Sekjen Kemenag M Nur Kholis Setiawan.

Menurut M Nur Kholis, rencana penerbitan tafsir ilmi sebenarnya sudah disepakati pada sidang SOM tahun lalu.

“Namun,  pada kesempatan sidang ini dibahas secara lebih teknis proses penyusunannya,” ujarnya sebagaimana dikutip dari laman Kemenag.org (Kamis, 15/11).

Menurutnya, Kemenag ada Lajnah Pentashihan Mushaf Alquran (LPMQ) yang bertugas melakukan pentashihan mushaf Alquran. Lembaga ini sudah punya pengalaman menerbitkan tafsir ilmi.

“Karenanya, Indonesia siap sharing,” terang M Nur Kholis di Brunei, Rabu (14/11).

LPMQ kemenag sudah menyusun tafsir ilmi sejak 2008. Sampai saat ini sudah ada 19 judul yang diterbitkan,  antara lain: Jagad Raya dalam Persektif Alquran,  Air dalam Perspektif Alquran,  Hewan dalam Perspektif Alquran,  Bumi dalam Perspektif Alquran.

Dikatakan M Nur Kholis, penyusunan tafsir ilmi tersebut membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Menurutnya, ahli tafsir mayoritas memiliki kelemahan keahlian dalam natural sciences. Sedang ilmuwan bidang natural sciences memiliki kelemahan disiplin keilmuan keislaman,  khususnya ilmu-ilmu tafsir.

“Mempertemukan kedua hal ini tidak mudah,” ujarnya.

Sehubungan itu,  lanjutnya, Indonesia dalam sidang ini mengusulkan dibentuknya tim kerja yang berisi para pakar pada bidangnya.

“Tim ini nanti akan merumuskan metodologi yang akan digunakan, serta topik-topik tafsir yang akan dibahas,” tuturnya.

M Nur Kholis menggarisbawahi pentingnya pembahasan metodologi karena adanya sejumlah kritik terkait tafsir ilmi. Menurutnya, kritik yang mengarah pada tafsir ilmi terkait dengan kepatuhan pada metodologi tafsir.

“Bahkan ada yang mengatakan, di dalam karya tafsir ilmi,  semuanya ada kecuali tafsir itu sendiri,” ujarnya dalam kutipan bahasa arab diikuti tawa hadirin.

Tawaran Indonesia disambut delegasi lainnya. SOM MABIMS sepakat untuk membentuk steering committee yang berisikan pakar ilmu tafsir dan pakar sains. Mereka yang nantinya akan merumuskan metodologi,  topik,  dan mekanisme kerja penyusunan Tafsir Ilmi.

“Sidang sepakat, setiap negara akan mengusulkan dua orang untuk menjadi bagian steering committee ini,” tandasnya.

SOM MABIMS berlangsung di Brunei Darussalam dari 12-16 November 2018. Sejumlah agenda dibahas,  termasuk terbitnya Resolusi tentang Islam Liberal: Isu dan Cabaran, serta Usaha Membendungnya. (*)

LEAVE A REPLY