Pertemuan Mengharukan TGB dengan Pedagang Martabak Saat Umrah

0
33
Tuan Guru Bajang (TGB) Zainul Majdi dan seorang pria yang mengaku bernama Hendri
Tuan Guru Bajang (TGB) Zainul Majdi dan seorang pria yang mengaku bernama Hendri

HAJIUMRAHNEWS – Tuan Guru Bajang (TGB) Zainul Majdi menceritakan pengalamannya ketika bertemu seorang pria yang mengaku sebagai pedagang martabak asal Pekanbaru, Riau. Keduanya bertemu dalam sebuah kesempatan ketika melaksanakan ibadah umrah di Mekkah, Arab Saudi, baru-baru ini. Mereka berjumpa secara tidak sengaja usai Tawaf Sunnah di Pelataran Masjidil Haram.

Menurut TGB, laki-laki itu mengenalkan diri sebagai Hendri, pedagang martabak dari Pekanbaru. Pada kesempatan itu Hendri juga bertanya pada TGB soal pilihan politiknya yang telah berubah dari pendukung Prabowo ke Jokowi. Hendri mengaku bahwa awalnya ia adalah penggemar berat TGB Zainul Majdi.

“TGB ya?” Tanya Hendri.

“Iya Pak!” Jawab TGB yang langsung dipeluk Hendri cukup lama, hingga mengalir cerita di antara keduanya.

“Dulu saya selalu menonton semua video Bapak,” kata Hendri.

Bahkan karena saking mengidolakannya, Hendri sering membicarakan TGB Zainul Majdi di warung martabak miliknya. Namun, pandangannya terhadap mantan Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) tersebut secara perlahan-lahan mulai berubah.

“Tak ada yang terlewat. Bahkan di warung saya, nama TGB selalu saya sebut. Itu dulu Pak, sebelum Bapak mendukung Pak Jokowi. Setelah itu saya benci pada Bapak. Banyak hoaks tentang Bapak saya telan mentah-mentah,” tutur Hendri seperti yang dikisahkan TGB Zainul Majdi.

Setelah bertemu dengan berbincang, Hendri pun menyadari kesalahannya dan langsung meminta maaf. Sebab, selama ini ia telah ikut membicarakan hal tidak baik mengenai TGB Zainul Majdi.

“Pagi ini Allah SWT pertemukan saya dengan Bapak. Entah apa hikmahnya. Saya minta maaf, Pak! Untuk semua hal kurang baik yang pernah saya lakukan dan ucapkan tentang Bapak. Sembilan kali saya umrah, inilah yang paling berkesan bagi saya. Jumpa dengan Bapak,” papar Hendri.

Permintaan maaf itu diwarnai tetesan air mata sampai tersedu-sedu. Dihadapkan pada kondisi seperti itu, TGB Zainul Majdi mengaku terharu. Apalagi, Hendri kembali memeluknya sambil menangis

Ia menilai, kontestasi politik Indonesia saat ini terasa keras sekali, terutama menjelang Pemilu 2019. Semua instrumen dihalalkan, tak sepaham menjadi sebab hoaks diluncurkan, nama baik dirusak dan label kebencian dimuntahkan.

“Penting bagi kita untuk terus ingat, persaudaraan dan persatuan adalah nikmat yang sangat berharga sekaligus aset utama kita sebagai bangsa. Mari kita jaga dengan sekuat-kuatnya. Itulah salah satu pesan Hijrahnya Rasul yang mulia. Menyatukan seluruh potensi umat dalam kebaikan,” papar TGB Zainul Majdi.

Berikut ini nasihat TGB Zainul Majdi dalam unggahan akun Instagramnya @tuangurubajang, Senin (22/10/2018):

Dua ayat dalam Alquran tentang pentingnya tabayyun; hati-hati dan klarifikasi. Cek dan kroscek. Ayat 6 Alhujurat dan ayat 94 Annisa. . .

Ayat 6 Alhujurat turun sbg respon saat seorang sahabat karena ketakutan dan halusinasi mengaku akan dicelakakan sahabat lain. Dia mengadu kepada Rasul, dan hampir saja Rasul menghukum mereka yang tak bersalah. Di ayat ini, pelaku hoaks yang merupakan sahabat disebut “fasik” untuk menunjukkan bahwa perbuatan menyebar kabar bohong adalah dosa besar. Status sebagai sahabat Rasul tidak mengurangi bobot kejahatan menyebar fitnah. . .

Berita bohong menyebabkan keresahan, membangun kebencian, merusak persaudaraan dan menjauhkan kita dari rahmat ALLOH. . .

Ayat 94 Annisa turun merespon sikap tidak bertanggung jawab sekelompok orang saat itu: tidak bertabayyun karena motif duniawi. Yaitu “mengejar harta benda dunia”. Harta benda itu bisa berupa uang, materi, jabatan politik, status sosial dan seterusnya. Tuduhan “Lasta mu’minan”, kamu tidak beriman! jadi mantra untuk memojokkan. Sebagaimana ekspisit disebut dalam ayat ini. . .

Kedua ayat itu mengingatkan kita bahwa dalam keadaan apapun prinsip tabayyun harus dipegang teguh. Saat damai maupun perang. Saat situasi kondusif ataupun sedang ada gejolak. . .

Untuk kita di Indonesia, pesan kedua ayat ini sangat relevan karena persaudaraan dan persatuan adalah aset kita yang paling berharga. . .

Kontestasi apapun tidak boleh merusak aset itu, karena sekali aset itu lenyap sungguh kita akan menyesal berkepanjangan. Dalam bahasa ayat 6 Alhujurat: fatusbihuu ‘alaa maa fa’altum naadimiin. “Maka kalian akan menyesal atas apa yang kalian lakukan..” . .

Semoga ALLOH menjaga kita semua, anak-anak bangsa, dari perbuatan buruk kita sendiri sebagaimana doa yang sering kita lantunkan : Allohumma laa tahrimna khaira maa ‘indaka lisyarri maa ‘ indana.. “Ya ALLOH, jangan kau tahan kebaikan dari sisiMu karena keburukan yang ada pada kami..” Nasehat untuk saya dan jamaah Masjid Agung Pelita Samarinda subuh kemarin. (*)

 

LEAVE A REPLY