Lion dan Air Mata Simba

0
48
Yudhiarma MK, M.Si
Yudhiarma MK, M.Si

Lion dan Air Mata Simba

Oleh Yudhiarma MK, M. Si

GERIMIS usai Subuh menghamburkan udara sejuk di langit. Pagi menyongsong Senin yang berembun di awal musim hujan, mengundang mendung di wajah Ibu Pertiwi.

Lion Air JT 610 jatuh tak jauh dari bibir pantai laut utara Karawang, Jawa Barat. Dan 29 Oktober 2018, menjadi tanggal kelam dalam sejarah penerbangan Indonesia.

Sayap-sayap patah “Singa Angkasa” itu, semakin menambah luka bangsa yang bertubi-tubi dirundung nestapa. Sejak gempa Lombok hingga tsunami dan likuefaksi di Palu, Sigi dan Donggala, Provinsi Sulawesi Tengah.

Terhitung mulai Agustus lalu, burung besi Lion sebenarnya baru beroperasi dalam hitungan bulan.

Boeing 737 Max 8 buatan 2018 dengan registrasi PK-LQP tersebut, membawa 178 penumpang dewasa, 1 anak-anak, 2 bayi, dan 8 awak pesawat. Semua berpulang ke Rahmatullah. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.

Selamat jalan saudara-saudariku. Doa kami menyertaimu. Surga menantimu. Semoga sanak-keluargamu tabah dan sabar menerima cobaan ini.

Kemiripan nama, membuat tragedi Lion Air mengingatkan kita pada drama animasi layar lebar The Lion King.

Betapa tidak, tahun ini NKRI menghadapi ujian-ujian berat.

Fase politik yang sarat pertarungan penuh kebencian, membuat sesama saudara saling cakar atas dasar klaim-klaim kebenaran.

Gejolak ekonomi global akibat perang dagang China-Amerika, membuat banyak pihak terguncang. Lalu, kiamat hukum yang menjebloskan para tokoh dan penguasa ke penjara.

The Lion King adalah salah satu film tersukses yang menambah pemasukan Walt Disney sebesar 328.541.776 dolar AS, dan 783.841.776 dolar AS untuk seluruh dunia. Seni layar perak ini telah diadaptasikan menjadi sandiwara musikal Broadway termasyhur pada 1997.

Dan “Hakuna Matata” menjadi lagu prestisius dalam sekuelnya. Tembang yang digubah Elton John dan lirik ditulis Tim Rice ini, masuk kategori Lagu Terbaik pada Penghargaan Oscar 1995, dan menempati peringkat ke-99 dalam sejarah perfilman versi American Film Institute.

Hakuna Matata adalah simbol keberuntungan di Afrika yang dikutip dari Bahasa Swahili yang berarti “there are no worries”: “jangan takut dan khawatir”. Inilah statemen yang mirip ungkapan Nabi Muhammad SAW kala menasihati sahabatnya Abu Bakar AS pada puncak-puncak perjuangan dakwahnya.

Dalam perjalanan hijrah saat bersembunyi di Gua Tsur yang penuh ancaman itu, Rasul berkata, “la takhaf wala tahzan innallaha ma’ana”: “jangan takut dan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita”.

The Lion King, sinema trilogi yang terinspirasi dari khazanah budaya belantara Afrika itu, seolah-olah menasihati kita tentang makna perjuangan dan pengorbanan untuk membangun persatuan di atas pondasi kebersamaan. Bukankah Benedict Anderson mendefinisikan nasionalisme sebagai imagined communities: komunitas terbayangkan.

Negeri ini dibangun di atas “bayangan” kesamaan nasib dan sejarah sebagai bangsa terjajah yang ingin melepaskan diri dari penjajahan: merdeka dari ketertindasan, kemiskinan dan kebodohan.

Karena itu, semestinya, bencana demi bencana yang menimpa menjadi pengasah jiwa, agar kita semakin peka terhadap sesama.

Sejatinya, musibah demi musibah yang datang merambah, menjadi cambuk yang menyadarkan bahwa kita adalah bersaudara.

Alkisah, setelah melewati perjuangan panjang yang sarat aroma kematian, darah dan air mata, para pahlawan The Lion King: Simba si aktor utama, Nala, Kiara, Kovu, dan para koleganya berkumpul dalam suasana duka bercampur suka cita.

Mereka mengaum bersama hingga arwah sang ayahanda Mufasa yang telah lama gugur di medan laga, muncul dan berkata: “Bagus anakku, We Are One, Kita Adalah Satu”.

Semoga bencana demi bencana semakin memupuk empati yang menyuburkan semangat kebersamaan, hingga lara demi lara bangsa ini segera terobati. Amin ya Rab al-‘alamin.

*Penulis adalah budayawan, penggiat zakat

LEAVE A REPLY