Konjen Jeddah Ajak Pengusaha Indonesia Garap Pasar Saudi

0
12
Konjen RI Jeddah Hery Saripudin bersama Musa Suliman Al-Faifi dan Ali Al-Khalaf (konsultan ahli Arab Saudi di industri obat) saat workshop di Jakarta pada Jumat (26/10)
Konjen RI Jeddah Hery Saripudin bersama Musa Suliman Al-Faifi dan Ali Al-Khalaf (konsultan ahli Arab Saudi di industri obat) saat workshop di Jakarta pada Jumat (26/10)

HAJIUMRAHNEWS—Konsul Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Jeddah, Mohamad Hery Saripudin menyampaikan, pihaknya menggandeng para ahli makanan dan obat-obatan Saudi untuk mengedukasi kiat berbisnis dan potensi pasar Saudi dalam acara workshop di Jakarta, pada Jumat, (26/10).

Hal ini disampaikan Konjen RI saat menjadi narasumber pada seminar yang digelar Kementerian Perdagangan di Jakarta. Turut hadir pula sebagai narasumber yakni, Musa Suliman Al-Faifi dan Ali Al-Khalaf, dua konsultan ahli Arab Saudi dalam industri obat dan makanan.

Dalam kesempatan itu, Konjen menggarisbawahi peluang pasar Saudi bagi produk ekspor non-migas Indonesia khususnya di bidang makanan, obat-obatan dan kosmetik. “Sejalan dengan kebijakan baru Arab Saudi yang membuka keran kebebasan wanita untuk mengendarai, mendirikan perusahaan tanpa izin suami, dll., peluang ekonomi menanti Indonesia,” kata Konjen dalam seminar yang dipandu Kepala Pusat Penanganan Isu Strategis (Kapuspitra) Jully Paruhum Tambunan.

Menurutnya, salah satu peluang pasar yang terbuka menyusul kebijakan Saudi ini ada di industri otomotif karena permintaan pasar bertambah setelah wanita diizinkan mengendarai mobil. Selain itu, dia juga optimis bahwa dunia busana dan kosmetik Arab Saudi akan berkembang berpacu dengan moderatisme kebijakan Kerajaan Arab Saudi yang membolehkan kaum hawa menambah aksesoris dan multi-warna pada abaya mereka di depan umum.

“Abaya yang merupakan pakaian luar penutup aurat perempuan sebelumnya hanya diperbolehkan berwarna hitam,” ujarnya.

Lebih lanjut, Konjen Hery meyakin bahwa seirama dengan perubahan yang ada, bidang kepemudaan dan hiburan akan memberikan peluang bagi industri kreatif Indonesia untuk bermain di pasar Arab Saudi.

Dalam seminar tersebut, Konjen mencontohkan Kimia Farma menjadi perusahaan Indonesia pertama yang berinvestasi di bidang obat-obatan di Saudi. “Dengan 34 gerai apotik yang ada di tiga kota Saudi, Kimia Farma menjadi yang pertama dari Indonesia melirik peluang yang ada,” terangnya.

Tidak hanya itu, Konjen juga menyoroti peluang hadirnya 1,4 juta jamaah umrah dan haji asal Indonesia setiap tahun. Mereka merupakan konsumen loyal produk-produk Indonesia di Arab Saudi. “Angka ini belum ditambah warga Indonesia lainnya yang menetap dan bekerja di Saudi sejumlah lebih dari 350 ribu orang lebih,” jelas Konjen.

Ia juga menjelaskan bahwa pihaknya serius memanfaatkan peluang dari ritual tahunan haji dan umrah ini bagi peningkatan ekspor Indonesia. “Salah satunya, pemerintah Indonesia mulai tahun 2018 mencantumkan kewajiban peserta tender penyedia catering haji untuk menggunakan bahan baku produk Indonesia,” imbuh Konjen Hery.

Sementara itu, Musa dalam pemaparannya menjelaskan pentingnya  proses registrasi barang makanan impor, memahami peran lembaga Saudi yang berwenang, dan masa waktu proses izin serta registrasi setelah produk tiba dan persyaratan lainnya di Saudi.

Musa juga mengungkapkan bahwa calon ekpsortir harus menggunakan bahasa Arab dalam deskpripsi produknya, termasuk mengisi kolom-kolom yang diminta pada saat registrasi online seperti nomor HS, country of origin, target usia dan target penggunaan produk, dll.

Kehadiran para narasumber Saudi ini, merupakan bagian dari upaya KJRI Jeddah untuk membantu para calon-calon eksportir Indonesia melakukan penetrasi pasar di Saudi.

Menuruut Direktur Indonesian Trade Promotion Centre (ITPC) Jeddah, Gunawan, menjelaskan, KJRI Jeddah menyadari bahwa banyak kendala yang dihadapi pengusaha Indonesia di Saudi, terutama terkait standar impor. Oleh karena itu, kata Gunawan, penjelasan teknis dari pakar Saudi diharapkan membantu.

“Disamping itu, KJRI Jeddah juga terus menggalang kerja sama dengan Saudi Food and Drug Authority dan Saudi Accreditation and Standardization Organization (SASO) terkait dengan penerimaan hasil pengukuran, dan pengujian standar halal produk Indonesia,” kata Gunawan. (hai)

LEAVE A REPLY