Tazakka Gelar Seminar Internasional Tentang Perdamaian Dunia

0
24

WhatsApp Image 2018-10-16 at 10.52.47 AM

HAJIUMRAHNEWS–Pondok Modern Tazakka kembali menyelenggarakan seminar internasional bertajuk Indonesia’s Contribution to World Peace: Roles, Opportunities, and Challenges dengan menghadirkan mantan Menlu Nur Hassan Wirajuda dan mantan Wamenlu Triyono Wibowo. Seminar berbahasa Inggris yang diikuti segenap pengurus Yayasan Tazakka, para guru, para santri Tazakka mewakili 24 provinsi di tanah air, dan 41 santri dan santriwati asal Afghanistan ini digelar di Pondok Modern Tazakka, Batang, Jawa Tengah, Senin (15/10).

Demikian dikutip dari keterangan resmi yang terima hajiumrahnews.com, pada Selasa, (16/10)

Pimpinan Pondok Modern Tazakka, Kyai Anang Rikza Masyhadi, menyampaikan seminar ini merupakan momentum sangat mahal dan bersejarah. Sebab, kata Kyai Anang, mantan Menlu dan mantan Wamenlu bisa hadir secara bersamaan adalah sejarah, dimana kiprah keduanya tak diragukan lagi. Terlebih dalam konteks membawa Indonesia secara aktif melalui peran-peran dan kontribusi bagi perdamaian dunia dan menjadikan Indonesia sebagai negara yang diperhitungkan oleh bangsa-bangsa besar di dunia.

“Ini berkah buat Tazakka, buat para santri semuanya,” katanya.

Sekedar flashback, kata Kyai Anang, dirinya dipertemukan kembali dengan mantan Menlu setelah kurang lebih dua puluh tahun berpisah, yaitu 1998 saat jadi dubes di Kairo. “Saat itu saya oleh Pak Hasan diamanahi memimpin Forum Studi Hak Asasi Manusia yang didirikan Pak Hasan,” ujarnya mengenang.

Menurutnya, jasa besar Hassan Wirajuda sangatlah besar, terlebih di masa ia menempuh kuliah di Mesir sekitar tahun 1998-an. “Beliaulah yang banyak membantu menyelamatkan sekitar 2500-an mahasiswa Indonesia yang studi di Mesir yang hampir pulang karena kena dampak langsung krisis ekonomi, tapi melalui kepiawaian dan terobosan beliau, bantuan datang dari mana-mana dan mahasiswa pun selamat tidak jadi pulang,” katanya.

Sementara dalam paparannya, Hasan Wirajuda menjelaskan lima hal yang membuat Indonesia mampu berperan aktif dalam memajukan perdamaian dunia.  Pertama, Indonesia memiliki pondasi kehidupan nation-state yang damai. Para pendiri bangsa memakai pendekatan “Jalan Tengah” atau konsensus “Jalan Tengah” (Wasathiyah) dalam pendirian bangsa, yang berwujud Pancasila.

“Kalau kita mau baca naskah diskusi dan perdebatan di sidang-sidang BPUPKI, Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia, bahwa Pancasila adalah konsensus antara kelompok nasionalis dan kelompok religius,” terangnya.

Kedua, Indonesia memiliki konstitusi yang berisi amanat untuk memajukan perdamaian dunia. UUD mengamanatkan bangsa Indonesia untuk ikut serta memelihara ketertiban dunia. Ketiga, Indonesia cukup kredibel dalam memajukan perdamaian dalam negerinya sendiri. Antara 1999-2005, konflik Aceh diakhiri dengan damai.

“Dunia melihat kepada kita bagaimana kita sebagai bangsa dapat mengelola keragaman dengan baik; ada lebih dari 300 suku, adat istiadat dan bahasa, disamping lebih dari 17 ribu pulau, karena kita sepakat dengan slogan Bhineka Tunggal Ika, dan ini menjadi modal kita untuk ikut menciptakan perdamaian dunia,” ujarnya.

Keempat, Indonesia aktif dalam proses menciptakan dan memelihara perdamaian dunia  (peacemaking and peacekeeping), khususnya di negara negara berkonflik seperti Filipina, Thailand Selatan, Kamboja, Palestina, Kongo, Vietnam, Afghanistan dan lain-lain. Di mana Indonesia telah berkontribusi sejak 1957 di Sinai, dan 1960 di Kongo, bahkan sampai sekarang di berbagai belahan dunia. “Indonesia kontributor pasukan perdamaian ke-9,”kata Mantan Kepala Perwakilan Indonesia di Komisi HAM PBB.

Kelima, sejak 1967 hingga saat ini Indonesia terlibat aktif dalam penciptaan tatanan dunia (world order) dan tatanan kawasan (regional order), seperti pada Perang Suriah, Yaman, dan Crimea.

Saat ditanya oleh salah seorang santri Afganistan tentang bagaimana memajukan perdamaian di Afghanistan, Hassan menjawab bahwa perdamaian membutuhkan kesediaan untuk berdamai antara pihak-pihak yang berkonflik.

“Jika suatu negara sudah capek bertikai, saya yakin perdamaian bisa diwujudkan. Jika orang Afghanistan sudah capek bertikai, saya yakin mereka mampu mewujudkan perdamaian, apalagi setelah menyadari bahwa dampak dari pertikaian itu sangat destruktif dan menciptakan kemunduran dan ketertinggalan,” jawabnya.

Sementara itu, Triyono Wibowo, yang pada sesi berikutnya membawakan topik tentang Poverty, Human Security, and Non-Traditional Threat to Peace menjelaskan bahwa perdamaian dunia bukan saja bisa terancam karena adanya agresi militer dari pihak eksternal, tetapi juga karena adanya masalah kemiskinan (poverty) dan lemahnya tingkat human security di dalam suatu negara.

“Di tahun 2015 lalu, perdamaian dunia di wilayah Uni Eropa terancam rusak lantaran terjadi migrasi besar-besaran orang Afrika, Asia, dan orang Eropa Selatan ke negara-negara Eropa Barat. Migrasi ini berdampak serius pada  human security pada situasi politis dan sosial negara Eropa Barat,” jelasnya.

Indonesia, kata Triyono, kembali berperan memajukan perdamaian di tingkat global. Bersama Australia, Indonesia menginisiasi kerjasama regional yang diikuti oleh 49 negara untuk menanggulangi ancaman perdamaian di bidang  human security ini.

Kyai Anang dalam seminar ini memberikan Closing Remark, bahwa Islam adalah agama perdamaian. Allah langsung mengajarkan perdamaian lewat Diri-Nya sendiri.  “Salah satu Nama Indah atau Asmaul Husna Allah ialah  As-Salaam yang berarti Yang Maha Damai,” tegasnya.

Setiap muslim saat shalat, kata Kyai Anang, maka shalatnya akan diakhiri dengan salam. “Ini menunjukkan bahwa setelah shalat kita harus bisa menjadi  peace-maker dan  peace-keeper, jadi setiap muslim otomatis adalah duta perdamaian karena ajaran agamanya, inilah pesan perdamaian Islam yang harus terus kita suarakan dan kita teladankan,” pungkasnya. (hai)

LEAVE A REPLY