Puncak Kebijaksanaan adalah Rasa Takut pada Allah SWT

0
25

anang

Oleh Kyai Anang Rikza Masyhadi

MUSEUM Topkapi, Istanbul banyak menyimpan mutiara hikmah. Istana yang dibangun pada abad ke-14 (1459 M) oleh Sultan Mehmet II dari Dinasti Kekhalifahan Ustmani itu pesonanya hingga kini terus memancar ke seluruh penjuru dunia. Bukan saja karena keindahan arsitektur dan kemegahannya, tetapi juga karena mutiara-mutiara falsafah yang tersimpan di dalamnya.

Salah satu contoh, di atas pintu masuk ke ruangan penyimpanan artefak peninggalan Rasul dan para sahabat, ada satu relief kaligrafi yang menggelitik saya. Yaitu kaligrafi bertuliskan: “ro’sul hikmati makhofatulLaah”  Artinya: Puncak kebijaksanaan adalah rasa takut kepada Allah Subhanahu Wata’ala (SWT).

Jujur saja, saya agak lama termenung memandangi pahatan kaligrafi yang tertempel di tembok pintu itu. Kalimat yang sangat tepat, presisi dan dalam sekali maknanya.

“Al-hikmah” dalam bahasa Arab sering diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai kebijaksanaan. Akan tetapi, kandungan makna dari kata “hikmah” itu sendiri sebetulnya sangatlah luas. Sebagian mufassir, misalnya, mengartikan hikmah adalah kebenaran dalam bertutur dan bertindak.

Misalnya dalam surat Al-Baqarah [2]: 269: “Dia (Allah) memberikan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa diberi hikmah, sesungguhnya dia telah diberi kebaikan yang banyak.” Artinya: Allah memberi kepada hamba-Nya yang Dikehendakinya kebenaran dalam bertutur dan bertindak.

Sayyidina Ali bin Abi Thalhah bin Ibnu Abbas Radhiallahu Anhu (RA) mengartikan hikmah adalah pemahaman kepada kandungan makna Al-Quran. Ada pula, ulama yang memaknai “hikmah” dengan ilmu pengetahuan.

Maka, menerjemahkan “al-hikmah” dengan kebijaksanaan ada benarnya. Sebab, kebijaksanaan adalah produk dari kebenaran dalam bertutur dan bertindak; dan kebenaran dalam bertutur dan bertindak adalah cerminan dari pengetahuannya pada kandungan makna Al-Quran dan penguasaannya pada ilmu pengetahuan.

Nah, orang yang memiliki hikmah, ia selalu membangun kerangka berpikir positif, sehingga setiap peristiwa apapun yang menimpanya, ia selalu bisa menemukan jawaban terbaik.

Maka dari itu, tepat sekali ungkapan pada kaligrafi itu: “Puncak kebijaksanaan adalah rasa takut kepada Allah SWT”. Saya memahaminya bahwa sebuah kebijaksanaan itu adalah hasil dari sebuah rasa takut kepada Allah SWT. Sehingga, sebuah sikap bijak yang didasari oleh rasa takut kepada Allah SWT pasti akan melahirkan hikmah-hikmah yang besar dalam kehidupannya.

Orang yang selalu merasa takut pada Allah SWT, pasti akan selalu bertutur dan bertindak benar. Inilah yang disebut dengan iman. Makanya, iman dan amal shaleh, iman dan tindakan, dalam Al-Quran selalu dirangkai secara bergandengan.

Sebaliknya, tiadanya rasa takut pada Allah SWT dapat membuat seseorang bertutur dan bertindak semaunya, mengabaikan nilai-nilai kebenaran dan bahkan cenderung manipulatif. Sehingga dapat dikatakan bahwa semua perbuatan yang menyimpang, manipulatif dan keluar dari nilai-nilai kebenaran pastilah disebabkan tiadanya iman.

Itulah mengapa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam (SAW) menekankan dalam salah satu Hadisnya yang masyhur: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaknya ia berkata yang baik, atau (jika tidak bisa) diam saja.”

Dewasa ini, masyarakat kita semakin krisis kebijaksanaan. Berbohong, menipu, mendzalimi, dan aneka perbuatan menyimpang lainnya seolah telah menjadi sebuah kelumrahan yang dimaklumi. Yang artinya adalah tiadanya rasa takut pada Allah SWT.

Kita mendambakan kehidupan masyarakat yang diliputi dengan kebijaksanaan. Dan terlebih dari itu mendambakan pula pemimpin-pemimpin yang memimpin dengan kebijaksanaan. Memimpin dengan hikmah. Dan itu ada pada pemimpin yang memiliki rasa takut pada Allah SWT. (bersambung)

Topkapi, Istanbul, 4 Oktober 2018

Kyai Anang Rikza Masyhadi

LEAVE A REPLY