Bendera, Reklame dan Merah Putih

0
31

bendera(Jangan gagal fokus)… Saya hanya ingin menunjukkan bahwa sepanjang menelusuri kota Istanbul, saya melihat bendera Turki berkibar dimana-mana, dari ukuran kecil hingga besar. Bendera itu seperti menjadi kebanggaan bersama masyarakat Turki. Di pasar, di masjid, di mall, di gedung-gedung tinggi di pusat kota, di gang-gang kecil, hingga di kapal-kapal pesiar. Ini patut ditiru.

Di negeri kita pemandangan bertolak belakang. Bendera merah putih jarang berkibar kecuali pada hari-hari tertentu. Malah yang terjadi adalah maraknya bendera partai dimana-mana memenuhi ruang-ruang publik. Sampai-sampai di jembatan-jembatan pun isinya bendera partai. Di jalan-jalan protokol, bahkan di samping kantor-kantor pemerintahan terkadang malah penuh dengan bendera partai.

Saya pernah melihat di Jakarta, ada sebuah bendera partai berkibar dengan ukuran lumayan besar dari jalan tol kelihatan. Saya cuma bergumam, mengapa bukan Merah Putih yang ditonjolkan?

Kota-kota dan desa-desa sekarang dipenuhi oleh sampah reklame yang asal pasang. Itu namanya polusi pemandangan. Polusi mata! Masang kadang pakai bambu bekas, miring dan sama sekali tidak indah. Betul-betul merusak pemandangan. Sebuah kota yang sebetulnya indah, jadi rusak keindahannya karena banyaknya reklame dan bendera-bendera warna warni yang tidak beraturan memasangnya.

Ada yang lebih parah lagi, kota dan desa kita penuh oleh spanduk gambar para caleg yang asal tempel. Bahkan, tidak jarang pohon-pohon pun dipaku poster-poster itu bertengger di pohon-pohon. Menurut saya, ini kurang tepat. Apa tidak sebaiknya pemerintah menyediakan tempat khusus untuk pasang iklan caleg, parpol dan pilpres? Daripada bebas asal pasang dimana-mana, benar-benar saya pribadi tidak nyaman melihatnya. Saya yakin banyak orang merasakan seperti yang saya rasakan ini.

Maka, sepanjang tanah milik pondok yang membentang dari mulai depan Tazko hingga TPQ Al-Asyraf kami himbau (larang) siapapun memasang spanduk atau reklame yang macam-macam itu. Alasannya,Wagu! Apalagi ini kawasan pendidikan. Termasuk reklame KPU waktu pilkada serentak kemarin kita minta untuk dipindahkan, dan sudah dipindah alhamdulillah.

Untuk seterusnya silahkan pasang saja di depan kecamatan atau tempat mana yang lebih strategis. Sekarang tinggal satu reklame rokok yang sebentar lagi harus pindah dan sudah dikoordinasikan dengan pemda bagian terkait. Kami tidak mau ada reklame itu di kawasan pendidikan ini. Harus steril! Kami perintahkan para asatidz bagian Humas untuk mengawal dan memantau.

Sebagai gantinya kami pasang spanduk kecil-kecil berisi kata mutiara dari tokoh-tokoh lokal, beberapa diantaranya ada juga kutipan Hadis maupun Ayat. Sekali lagi, ini kawasan pendidikan, bukan pasar!

Di Arafah dan Mina, di area tenda-tenda jamaah haji plus, dulu, berkibar bendera-bendera travel haji umrah. Marak sekali. Juga bendera-bendera KBIH. Sementara di sebelah area kita, berkibar tinggi satu bendera ukuran besar yaitu bendera Malaysia. Padahal jumlah jamaah haji plusnya tidak ada sepertiganya dari jumlah jamaah kita. Saya sedih.

Maka, saya dan kawan-kawan mengusulkan kepada asosiasi travel-travel untuk sepakat bahwa di kawasan Arafah Mina kita kibarkan merah putih yang besar. Itu wibawa bangsa kita di situ di hadapan bangsa-bangsa lain. Kementerian Agama pun merespon positif. Bendera travel masing-masing biarlah kecil-kecil saja di depan tendanya sendiri, atau jika perlu tidak usah ada.

Sejak beberapa tahun ini di Arafah Mina Merah Putih sudah berkibar. Semoga tahun depan Kemenag bikin yang lebih besar lagi, atau asosiasi travel bikin sendiri bersama-sama yang gede. Tunjukkan pada dunia: Ini Indonesia, Bung. Besar dan berwibawa!

Inilah cara pandang kami. Dan inilah cara kami menunjukkan cintanya pada Merah Putih dan negeri!

 

Istanbul, 4 Oktober 2018

LEAVE A REPLY