Gunakan Visa Lain, 3 Jamaah Haji Tertahan di Arab Saudi

0
64
Gunakan visa ziarah, 3 WNI tertahan di Arab Saudi.
Salah seorang WNI (duduk di kursi roda) yang sempat tertahan di Arab Saudi (foto: dok. KJRI Jeddah Arab Saudi)

Hajiumrahnews – Menggunakan visa lain (bukan visa haji), tiga jamaah haji sempat tertahan di Arab Saudi, tak bisa pulang. Hal itu diketahui dari keterangan yang disampaikan KJRI Jeddah, Arab Saudi, Minggu (16/9/2018) malam.

Dalam keterangan tersebut, salah seorang jamaah haji asal Indonesia mengaku berangkat bersama suaminya pada 2 Agustus 2018 lalu. Saat itu, dia mengaku menuju Mekah bersama dengan 15 orang lainnya.

“Ia menyetor uang Rp 130 juta kepada biro travel EG yang memberangkatkannya. Biro EG ini bekerja sama dengan Yayasan AH yang berkantor di Surabaya dengan menjanjikan paket haji ONH Plus,” ujar KJRI dalam keterangannya.

Menurut KJRI, calon haji tersebut mengaku sama sekali tidak tahu kalau dirinya diberangkatkan dengan visa ziarah pribadi (ziara syakhsiyah) dengan penjaminnya WN Saudi bernama Sirin Binti Fauzi Mohammad Abu Zaid.

“Visa ziarah syakhsiyah merupakan jenis visa yang dikeluarkan oleh perorangan warga Saudi sebagai penjamin atau pihak yang dikunjungi di Arab Saudi,” ujar KJRI lebih lanjut.

Nasib malang saat dia hendak pulang bersama sang suami 28 Agustus 2018 lalu, dirinya tidak izinkan melintas di konter imigrasi bandara Jeddah karena melakukan pelanggaran keimigrasian.

“Dia diduga dilaporkan kabur oleh penjaminnya dan diwajibkan mengurus dokumen di Pusat Karantina Imigrasi (Tarhil) di Syamaisi,” kata KJRI.

Beruntung dia sempat menunaikan ibadah haji, meski untuk kepulangannya ke Tanah Air dia diwajibkan membayar denda sebesar 15 ribu riyal atau sekitar Rp 55 juta rupiah. Pasalnya dia kedapatan telah melakukan ibadah haji tanpa tasrekh (surat izin haji dari Pemerintah Saudi). Biaya denda tersebut ditanggung oleh Biro yang memberangkatkan mereka. Akhirnya jamaah ini bisa kembali ke Tanah Air pada 5 September silam setelah memperoleh exit permit.

Kasus lainnya dialami oleh jamaah berinisial FDW. Bersama rombongan yang berjumlah 12 orang, dia diberangkatkan oleh Biro Perjalanan Mubina pada 14 Agustus 2018 silam, atau 6 hari menjelang Hari Wukuf di Arafah dengan rute penerbangan Jakarta – Singapura – Colombo – Riyadh – Jeddah.

Kepada Biro Travel, pria asal Palembang ini mengaku menyetor uang senilai Rp 150 juta rupiah untuk berangkat haji dengan janji paket haji ONH Plus dengan jadwal kepulangan rombogan yang berbeda-beda. Ketika akan pulang pada 7 September lalu, FDW tertahan di bagian Imigrasi Bandara King Abdulaziz Jeddah karena diketahui masuk ke Saudi menggunakan visa amal (kerja) dengan profesi sebagai tukang cat bangunan.

Rekan jamaah lainnya dalam satu rombongan telah berhasil meninggalkan Arab Saudi karena diberangkatkan dengan visa ziarah (kunjungan). Sementara dirinya diberangkatkan dengan visa amal (kerja) yang wajib berbekal visa final exit bila hendak meninggalkan Arab Saudi. Visa tersebut harus diurus penjamin, yaitu Perusahaan Basyayir Mahla Al Harbi.

KJRI Jeddah akhirnya menghubungi biro travel yang memberangkatkan FDW dan mendesak segera mengontak penjamin FDW di Arab Saudi untuk mengurus exit visa-nya. Dia akhirnya bisa pulang ke Tanah Air pada 10 September.

Menurut Pelaksana Fungsi Konsuler-1 yang merangkap sebagai Koordinator Perlindungan Warga (KPW), Safaat Ghofur, meskipun biro travel bertanggung jawab dan menanggung biaya hidup jamaahnya selama tertahan di Jeddah sampai dapat exit, tetap saja berangkat haji dengan jalur seperti ini pelanggaran.

“Ini pelanggaran dan berpotensi menyulitkan calon jamaah saat diketahui ada ketidakcocokan visa yang digunakan dengan pelaksanaan hajinya,” ujar Safaat Ghofur.

Selanjutnya ada AR, yang berangkat dengan iming-iming umrah plus haji. Dia pun menyetor duit Rp 70 juta ke Biro Travel AKM yang berkantor di Jakarta Timur.

Malang nasibnya, selama berada di Tanah Suci, diabetes basah yang diidapnya memburuk sehingga pria berusia 61 tahun ini terpaksa dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Dia dirawat selama sebulan di Rumah Sakit Spesialis Al-Noor Mekkah.

AR kemudian dipindah ke Kantor Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) dan dirawat di sana sekitar 2 bulan lamanya. AR berhasil dipulangkan pada 12 September kemarin didampingi seorang petugas setelah KJRI Jeddah melengkapi berkas dokumen yang diperlukan, antara lain, exit permit, laporan medis dari rumah sakit, dan surat layak terbang.

“Dihimbau kepada masyarakat yang hendak menunaikan ibadah haji menempuh jalur resmi. Tujuannya agar terhindar dari masalah hukum dan dapat menjalani prosesi ibadah dengan khusyuk dan aman,” ujar Konsul Jenderal RI Jeddah, Mohamad Hery Saripudin.

Menurutnya, pastikan kepada biro travel bahwa Anda benar-benar diberangkatkan dengan visa haji, bukan lainnya.

“Kalau perlu sebelum menyetor dana, buat surat perjanjian resmi agar bisa mengajukan penuntutan hukum, bila ternyata di kemudian ditemukan ada unsur penipuan,” pungkas Hery. (*)

LEAVE A REPLY