Haji Mabrurnya Tukang Sol Sepatu

0
132

18519-f-810x459 dkhlak.comHAJIUMRAHNEWS–Rangkaian penyelenggaraan ibadah haji baru saja usai. Segenap jamaah haji telah mulai meninggalkan Tanah Suci, meski ada pula yang masih tinggal menunggu giliran diterbangkan kembali ke kampung halaman.

Semoga ibadah hajinya mabrur. Begitu doa dan pengharapan yang dipanjatkan kepada Allah Subahanu Wata’ala (SWT). Karena tidak ada balasan lain, selain surga bagi mereka yang mendapatkan mabrur.

Para ulama menyimpulkan ‘mabrur’ sendiri banyak diartikan bukan pada ritual ibadah haji itu berlangsung, melainkan kondisi para haji yang mampu menjaga amal ibadah, menjaga iman dan takwanya baik dalam lisan, maupun perbuatan.

Ada banyak cerita tentang mabrurnya haji seseorang. Bahkan orang yang meraih mabrur tanpa pergi ke Tanah Suci untuk berhaji. Salah satunya berikut ini, kisah mabrurnya tukang sol versi Imam Hasan Al-Bashri.

Adalah Sa’id Ibnu Muhafah, si tukang sol sepatu yang mendapatkan pahala haji mabrur. Padahal ia tak berhaji. Suatu ketika Hasan Al-Bashri menunaikan ibadah haji. Ketika ia sedang istirahat, ia bermimpi. Dalam mimpinya beliau melihat dua Malaikat sedang membicarakan sesuatu.

“Rasannya orang yang menunaikan haji tahun ini, banyak sekali,” komentar salah satu Malaikat. “Betul,” jawab yang lainya.

“Berapa kira-kira jumlah keseluruhan?” tanya Malaikat yang satu. “Tujuh ratus ribu,” jawab Malaikat yang lain. “Pantas.”

“Eh, kamu tahu nggak, dari jumlah tersebut berapa kira-kira yang mabrur,” tanya Malaikat yang mengetahui jumlah orang – orang haji tahun itu. “Wah, itu sih urusan Allah.”

“Dari jumlah itu, tak satupun yang mendapatkan haji Mabrur.” “Kenapa?”

“Macam-macam, ada yang karena riya’. Ada yang tetangganya lebih memerlukan uang tapi tidak dibantu dan dia malah berhaji. Ada yang hajinya sudah berkali kali, sementara masih banyak orang yang tidak mampu, dan berbagai sebab lainnya,” ujarnya.

“Terus?” Malaikat itu penasaran. “Tapi masih ada, orang yang mendapatkan pahala haji mabrur tahun ini,” kata Malaikat.

“Lho katannya tidak ada,” timpal Malaikat yang lain. “Ya, karena orangnya tidak naik haji.”

“Kok bias,” kata Malaikat yang kian penasaran. “Begitulah,” jawabnya singkat.

“Siapa orang tersebut?” telisik Malaikat itu. Lalu dijawabnya, “Sa’id bin Muhafah, tukang sol sepatu di kota Damsyiq.”

Mendengar ucapan itu, Hasan Al-Bashri langsung terbangun. Sepulang dari Kota Mekkah, ia tidak langsung ke Mesir, tapi langsung menuju kota Damsyiq (Syiria). Sesampai di sana, ia langsung mencari tukang sol sepatu yang disebut para Malaikat dalam mimpinya.

Hampir semua tukang sol sepatu ditanya, apa memang ada tukang sol sepatu yang namanya Sa’id bin Muhafah. “Ada, di tepi kota,” jawab salah seorang sol sepatu sambil menunjukkan arahnya.

Sesampai di sana, Hasan Al-Bashri menemukan tukang sepatu yang berpakaian lusuh. “Benarkah anda bernama Sa’id bin Muhafah?” tanya Hasan Al-Bashri. “Betul, kenapa?” jawabnya.

Sejenak Hasan Al-Bashri kebingungan, dari mana ia memulai pertanyaanya. Akhirnya ia pun menceritakan perihal mimpinya. “Sekarang saya tanya, adakah sesuatu yang telah Anda perbuat, sehingga Anda berhak mendapatkan pahala haji mabrur? barang kali mimpi itu benar,” selidik Hasan Al-Bashri sambil mengakhiri ceritanya.

“Saya sendiri tidak tahu, yang pasti sejak puluhan tahun yang lalu saya memang sangat rindu Mekkah, untuk menunaikan ibadah haji. Mulai saat itu setiap hari saya menyisihkan uang dari hasil kerja saya, sebagai tukang sol sepatu. Sedikit demi sedikit saya kumpulkan. Dan pada tahun ini biaya itu sebenarnya telah terkumpul,” cerita si tukang sol sepatu tadi.

“Tapi anda tidak berangkat haji,” tanya Hasan Al-Bashri. “Benar,” jawabnya.

“Kenapa?” Hasan Al-Bashri tambah penasaran.

“Waktu saya hendak berangkat, ternyata istri saya hamil, dan saat itu dia ngidam berat,”  ujarnya. “Terus?” tanya Hasan lagi.

Ngidamnya aneh, saya disuruh membelikan daging yang dia cium. Saya cari sumber daging itu, ternyata berasal dari gubug yang hampir runtuh. Di situ ada seorang janda dan enam anaknya. Saya bilang padanya bahwa istri saya ingin daging yang ia masak, meskipun secuil. Ia bilang tidak boleh, hingga saya bilang bahwa dijual berapapun akan saya beli, dia tetap mengelak. Akhirnya saya tanya kenapa? ‘daging ini halal untuk kami dan haram untuk tuan’ kata janda enam anak tadi.”

“Kenapa?” tanyaku lagi. “Karena daging ini adalah bangkai keledai, bagi kami daging ini adalah halal, karena andai kami tak memakannya tentulah kami akan mati kelaparan,” jawabnya sambil menahan air mata.

“Mendengar ucapan tersebut sepontan saya menangis. Lalu saya pulang, saya ceritakan kejadian itu pada istriku, diapun menangis. Akhirnya uang bekal hajiku kuberikan semuanya untuk dia,” tutur tukang sol sepatu.

Mendengar cerita tersebut Hasan Al-Bashri pun tak bisa menahan air mata. “Kalau begitu engkau memang patut mendapatkanya,” ucapnya.

Subhanallah. Kisah tersebut mengajarkan kepada kita, bahwa dalam Islam, pahala tak bisa dinilai semata secara kuantitas, tapi juga harus memperhatikan kualitasnya. Secara kualitas, mereka yang berangkat ke Tanah Suci, melakukan thawaf, sa’i, wukuf di Arafah dan rangkaian ibadah haji lainnya, tentu lebih besar dibandingkan orang yang cuma memberi makan tetangganya. Tapi, dalam kisah di atas, Muhafah baru pertama kali ingin berhaji. Bagaimana dengan mereka yang sudah berulang-ulang?

Imam Al-Ghazali dalam karya kitabnya, Ihya’ Ulumuddin dengan keras mengritik para haji, baik yang melakukannya untuk kali pertama, maupun yang ingin mengulanginya.

Jadi, berhaji cukup sekali. Kalaupun menunaikan ibadah haji berkali-kali hanya terbilang sunnah –yang mungkin akan lebih afdhal kalau biayanya dimanfaatkan untuk menyantuni fakir miskin dan yatim-piatu. Pun andai saja haji boleh dilakukan berkali-kali tentu sudah dikerjakan oleh Rasulullah dan para sahabatnya. Nyatanya, Nabiyullah Muhammad sendiri hanya sekali melaksanakan ibadah haji yaitu pada tahun ke 10 hijriyah –yang dikenal dengan istilah haji wada’— karena setelah itu beliau wafat.

Dan para sahabat juga tak memfokuskan diri untuk berhaji saban tahun. Mereka cukup melaksanakan umrah. Dan bila mereka rindu kepada Rasulullah maka mereka berziarah ke makam beliau di Masjid Nabawi di Madinah. Semoga kisah tersebut bisa menjadi renungan bagi kita semua. Semoga (hai)

LEAVE A REPLY